Jalan Berkayuh  Ingatan



Kala itu
Ku kejar dirimu, ku kayuh sepeda
Melewati batas kota
Menyerbu kenangan, menitipkan pengap
Sedang bus mu melaju bak kesetanan
Tak hilang akal, ku potong jalan
Sial, aku tak melihat lobang.
Tersungkur, mengaduh.

Seorang anak lelaki menahan perih
Sial kedua, rantai sepedanya lepas
Seperti gadisnya yang bakal lepas
Sebenarnya ia akan berhasil mengejar bus itu, tapi rantai adalah ujiannya
Segera setelah rantai betul, ia kayuh sekuat peluh
Di jalan sepi, ia menagis sejadinya, ia berpisah
Debu terbang mengelilinginya
Angin panas menerpa air mukanya
Sesegukan, ia duduk memegangi lutut.
Ia kembali pulang, pada peluk ibunya
Menuntun sepeda dengan velg yang bengkok
Sebab lobang.
Ia mengadu pada waktu, jika saja ia mampu memutarnya
"Akan ku hentikan!"
Tapi waktu adalah begitu tak acuh pada bocah lelaki itu.
Ia melengos saja.
Musim berganti, memeluk perasaan
Menimang ingatan, kelak gadis itu akan tahu
Si bocah lelaki selalu bersepeda tiap sore,
Berkunjung pada jalan dimana ia berhenti dan menangis.
Menatap nanar, ketika matari pulang pada ujung samudera.
Barang sekedar merawat ingatan, dan berharap waktu bersahabat
mengejar bus adalah kegiatan barunya.

Wonosobo, menjelang akhir Agustus 2019

Jalan Berkayuh Ingatan

 Jalan Berkayuh  Ingatan



Kala itu
Ku kejar dirimu, ku kayuh sepeda
Melewati batas kota
Menyerbu kenangan, menitipkan pengap
Sedang bus mu melaju bak kesetanan
Tak hilang akal, ku potong jalan
Sial, aku tak melihat lobang.
Tersungkur, mengaduh.

Seorang anak lelaki menahan perih
Sial kedua, rantai sepedanya lepas
Seperti gadisnya yang bakal lepas
Sebenarnya ia akan berhasil mengejar bus itu, tapi rantai adalah ujiannya
Segera setelah rantai betul, ia kayuh sekuat peluh
Di jalan sepi, ia menagis sejadinya, ia berpisah
Debu terbang mengelilinginya
Angin panas menerpa air mukanya
Sesegukan, ia duduk memegangi lutut.
Ia kembali pulang, pada peluk ibunya
Menuntun sepeda dengan velg yang bengkok
Sebab lobang.
Ia mengadu pada waktu, jika saja ia mampu memutarnya
"Akan ku hentikan!"
Tapi waktu adalah begitu tak acuh pada bocah lelaki itu.
Ia melengos saja.
Musim berganti, memeluk perasaan
Menimang ingatan, kelak gadis itu akan tahu
Si bocah lelaki selalu bersepeda tiap sore,
Berkunjung pada jalan dimana ia berhenti dan menangis.
Menatap nanar, ketika matari pulang pada ujung samudera.
Barang sekedar merawat ingatan, dan berharap waktu bersahabat
mengejar bus adalah kegiatan barunya.

Wonosobo, menjelang akhir Agustus 2019

No comments