Last Roar Tuan Tigabelas

sampingrumahku.com - Tuan Tigabelas mengusung Harimau Sumatera dalam album terbarunya pada tahun ini sebagai isu. Beberapa lagu sudah rilis termasuk lagu yang berjudul Last Roar dengan video clip yang baru saja rilis pada hari Senin, 29 Juli 2019 yang bertepatan dengan #GlobalTigerDay di kanal Youtube.

Dalam video clip tersebut berkisah mengenai perjanjian antara Manusia dan Harimau secara batin untuk tidak saling mengganggu dan menjaga keharmonisan hidup. Perhormatan secara adat sendiri masih terjaga dengan sakral. Namun, nyatanya manusia mulai ingkar dengan janji. Hutan secara perlahan namun pasti berubah menjadi lahan-lahan kelapa sawit. Pembukaan lahan secara massif merubah sistem hutan. Binatang-binatang kalangkabut mencari perlindungan, dan akhirnya mati. Tidak terkecuali dengan Harimau Sumatera ini, sebab mereka yang mendapat julukan 'Raja Hutan' saja dibantai satu persatu. Diambil kulitnya, dibunuh dengan sadis dll. 

Perburuan juga menjadi salah satu faktor dalam merosotnya jumlah kucing besar ini. Bahkan saudaranya dari Jawa dan Bali dikabarkan sudah punah. Akankah Harimau Sumatera segera menyusul ? Sedih apabila benar-benar itu terjadi. Sebab, generasi mendatang kemungkinan hanya bisa menyaksikan harimau dalam bentuk diorama. Semoga ini bisa menjadi perhatian bagi masyarakat.

Di beberapa situs organisasi penyelamat hewan, penelitian-penelitian, dan kolom berita online, populasi Harimau Sumatera dikabarkan berkisar kurang lebih 600an ekor dan itu bisa semakin merosot jika pembukaan lahan semakin tidak terkendali. Belum lagi dengan harimau-harimau yang harus terlibat konflik dengan manusia. Berkurangnya luas hutan memaksa mereka beraktivitas di tempat yang lebih dekat dengan manusia. Namun, sialnya hal itu membuat harimau-harimau ini dibantai. Seperti yang terjadi di suatu wilayah, dimana seekor harimau diburu lalu bangkainya digantung untuk menjadi bahan tontonan. Perlu edukasi lebih kepada masyarakat tentang perlunya menjaga keberlangsungan populasi hewan yang satu ini. Pusat-pusat konservasi yang ada di Indonesia juga berusaha keras untuk menjaga keberlangsungan populasi Harimau Sumatera.

Tuan Tigabelas melalui karyanya mengajak kita sebagai pendengar dan masyarakat untuk mengetahui betapa pentingnya isu ini untuk disebarluaskan sebagai edukasi. Royalti dARI lagu Last Roar juga akan didonasikan untuk program pelestarian Harimau Sumatera melalui WWF-Indonesia. 

Semoga Tuhan mengampuni atas ketamakan hamba-hambanya.

Tuan Tigabelas dalam Harimau Sumatera

 Hindia Membasuh

sampingrumahku.com - Kembali lagi pada tulisan-tulisan tak berbobot ini dengan tema sebelumnya, yaitu Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengambil beberapa potong lirik yang kemudian saya maknai sebagai manifesto mawas diri bagi saya pribadi. Sebab terkadang saya sebagai manusia kelewatan mengeluarkan ekspresi diri terhadap persoalan yang saya hadapi; baik urusan bahagia, kecewa, dan sedih. Bahkan saya juga terkadang tidak sadar bahwa sebenarnya saya begitu pamrih terhadap investasi atau segala sesuatu yang sudah saya curahkan kepada sesama bahkan kepada-Nya.

Membasuh, adalah lagu terbaru dari Hindia yang berkolaborasi dengan Rara Sekar. Pada awal lirik lagu saja sudah begitu mengacak-acak logika berpikir saya. Begini bunyinya, "Selama ini ku nanti Yang ku berikan datang berbalik, Tak kunjung pulang apapun yg terbilang, Di daftar pamrih ku seorang, Telat ku sadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar". Begitu menusuk menurut saya, sebab Hindia terang-terangan menyebutkan kata pamrih. Tanpa tedeng aling-aling saya merasa malu!. Seperti yang sudah saya katakan di atas, bahwa terkadang saya tidak sadar bahwa tumbuh perasaan pamrih terhadap apa yang sudah saya lakukan.

Bahkan untuk urusan ibadah, saya juga terkadang pamrih terhadap ibadah yang sudah saya kerjaan. Saya tidak mempersoalkan bentuk ibadahnya, ini adalah masalah tentang niatan saya pribadi ketika hendak melakukan ibadah kepada-Nya. Sifat pamrih itu timbul manakala kesulitan datang, saya berpikir bahwa jika saya melakukan ibadah secara "khusyuk" maka Tuhan akan mengabulkan permintaan saya. Suka tidak suka, saya memang terkadang tanpa sadar melakukan hal seperti itu. Ikhlas menjadi kata kunci yang saya tangkap dalam materi lagu Membasuh dari Hindia ini.

Sulit memang. Mawas diri adalah koentji.

Bersambung...

Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri Part II


sampingrumahku.com - Hindia nama dari sebuah project musik yang sedang dilakukan oleh Baskara vokalis dari band Feast. Belakangan ini pula karya-karya musiknya ikut meramaikan kolom-kolom gerai musik digital menawarkan wacana-wacana yang menarik  di dalam karyanya untuk dibicarakan. Ohya, sebagai disclaimer tulisan ini opini saya pribadi sebagai respon terhadap apa yang dengar dan tentu saja apa yang saya mau tulis. 

Saya menemukan wacana mawas diri dalam karya dalam project Hindia ini. Saya sebagai pendengar mau tidak mau harus mencerna apa yang saya dengar. Nyatanya saya sebagai manusia sering kali merasa persoalan yang dihadapi begitu berat untuk saya hadapi. Berasa diguyur air, seketika itu pula terbangun dari delusi tentang kecemasan-kecemasan yang saya hadapi. 

Bagaimana tidak, di lagu Evaluasi saja Hindia berkata bahwa "masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh, ini belum separuhnya, biasa saja, kamu tak apa", mereka berkata kalau maalah yang kita hadapi itu biasa saja dan tentu saja kita baik-baik saja. Artinya saya, kamu, kita semua disadarkan kalau setiap masalah yang kita hadapi yang bakal menemukan jalan keluar dan lebih menguatkan dengan mengatakan bahwa kita baik-baik saja. Hanya saja seringkali ekspresi atau respon terhadap persoalan tersebut saya lakukan secara berelebihan. Tanpa sadar. Apalagi jika saya menghadapi sebuah kegagalan. Saya sadar kalau apa-apa yang berlebihan itu tidak baik. Kembali lagi Hindia mengatakan, "Kita semua gagal Ambil sedikit tissue bersedihlah secukupnya". Sebuah penggalan dari lirik berjudul Secukupnya. Jujur dalam keadaan tertentu mendengarkan lagu-lagu Hindia ini berasa mendapatkan nasihat, bahkan merasa malu.

Di lagu yang berjudul Belum Tidur Hindia berkolaborasi dengan Sal Priadi, solois dari Malang. Konsep kolaborasi yang unik, sebab mereka bernyanyi secara stereo, Basakara pada sudut kiri, dan Sal sudut kanan walaupun pada awal lagu mereka bernyanyi terpisah, namun di akhir lagu suara mereka bersatu kembali dengan lirik "Kau yang tahu racun diri sendiri". Segala persoalan yang pada diri saya, hanya saya sendiri yang tahu, hanya saya sendiri yang mampu menyelesaikannya. Diri saya sendiri yang punya kuasa atas persoalan-persoalan yang terjadi, dan saya sendiri yang harus memilih untuk menyelesaikan atau tidak menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi. Mengenal batasan atas kemampuan diri sendiri juga perlu, dan kembali lagi yang tahu hanya diri kita sendiri.

Bersambung ...

Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri Part I