Halaman

    Social Items

Kita hanya seorang pengembara pada diri kita
Yang tabah dan tak tabah
Pada kesunyian, keriuhan, kelapangan dada
Kau keliru jika takut sendiri,
Karena pengembara terbiasa sendiri

Ramadhan menjungkirkannya pada masa silam
Ketika kanak, berebut tawa 
Berebut pengeras suara
Berebut stik bedug

Ternyata ia menyaksikan dirinya
Berlarian di surau
Menjelma kanak-kanak
Menjelma haru
Berebut kasih-Nya

Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian
Seorang pengembara telah lahir dan bingung
Ia risau dengan kesunyiannya
Rupanya ia belum sadar;
Penguasa alam ada dalam dalam nadinya
Begitu dekat, melekat

Ia tahu
Masa kanaknya telah usai
Ia berjalan nuju pegunungan sabar
Segara amarah
Langit biru bahagia
Dan jalan kesunyian seorang diri ditemani penguasanya
Sampai ia bertemu kekasihnya.

Ia melangkah pelan
Meraba seperti bayi
Ia tertawa
Menimang masa kanaknya
Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian.

Nyanyian Pengembara

Seorang pelaut sedang tersesat
Ia tak mampu membaca bintang
Terombang-ambing dalam segara
Sunyi pecah oleh riak air

Melamun ia
Menangis dalam terik matari
Puluhan rapalan doa
Telah melumat mulutnya, namun tidak hatinya
Rapalan doa terus mengiringnya

Berharap ia bisa membaca bintang lagi
Sungguh malang ia

Mulanya ia penasaran dengan segara lepas
Ia yakin kalau mampu menaklukannya
Hari berganti bulan
Bulan berganti tahun
Badai pun ia bertahan
Namun petaka datang 
Ketika ia tak mampu membaca bintang dan angin

Takut menyerganya
Sebab ia telah jumawa
Bintang dan angin kabur
Tersisa murung
Pasrah

Ia dikancani camar yang nemplok sedari awal
Sepertinya camar itu tahu kalau ia akan tersesat

Wajahnya kini ditumbuhi rambut
Matanya kosong
Camar yang setia, terbang sesekali dan kembali
Mungkin camar pun sunyi dengan kesendirianya
Ia menangis dan tertidur di teras perahu

Tiba-tiba
Ketika kapal besar membangunkan dalam tidurnya
Berjingkrak, lalu bahagia
Lantas dibakarnya kapal, biar terlihat nahkoda
Ajaib, api itu membawanya pada daratan dan pulang

Camar menguntitnya sampai daratan
Lalu ia terbang bebas, mencari pelaut-pelaut tersesat lainnya.
Sebab ia tak tahan melihat kesendirian seorang pelaut.

Pelaut,Camar dan Api



sampingrumahku.com - Berhenti bermain sosial media?

Mungkin itu adalah yang sedang saya pikirkan matang-matang. Sebab beberapa aktivitas menyangkut dengan sosial media terutama pekerjaan. Kalau tiba-tiba saya berhenti menggunakan sosial media bisa kacau semua pekerjaan. Tapi sosial media saat ini semakin menjadi toxic dalam kehidupan saya belakangan ini.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan aktivitas penggunananya yang semakin banyak dan bebas mengutarakan apa saja. Walaupun pemerintah sudah membuat UU ITE yang digadang-gadang bisa mengontrol sosial media pun nyatanya tidak bisa efektif. Di sisi lain memang cenderung membatasi kebebasan manusia untuk mengeluarkan segala pendapatnya. Tak jarang UU ITE juga digunakan untuk mengkriminalisasi seseorang atas dasar ketidaksukaan.

Namun, konteks yang saya tulis kali ini adalah sosial media yang kian hari kian toxic. Konten-konten yang tersebar di sosial media pun berbagai macam; ada yang sebatas ‘pamer’, caci maki, dll. Tetapi sebenarnya tidak semua negatif. Cuma menurut saya dominasi konten positif kalah populer dengan konten yang ‘negatif’. Mungkin karena ini dunia internet jadi kita harus siap dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. 

Toh kita atau saya tidak bisa menjadi polisi moral bagi semua pengguna internet atau sosial media. Kita hanya bisa menjadi polisi moral untuk diri kita pribadi. 

Bahkan ada yang bilang kalau segala sesuatu yang ada di sosial media hanyalah sebatas pencitraan semata. Hal yang terjadi tidak semuanya sama seperti yang ada di dunia nyata. Saya juga mengamini persoalan tersebut. Tetapi lebih dari itu saya belajar untuk tidak peduli dengan apa-apa yang menurut saya ‘toxic’. Saya belajar untuk berdamai dengan diri saya sendiri sebagai bentuk adaptatif terhadap suatu peristiwa yang sedang saya hadapi. 

Saya terus mengingatkan kepada diri saya pribadi, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. 

Berhenti Bermain Sosial Media ?