sampingrumahku.com - Berhenti bermain sosial media?

Mungkin itu adalah yang sedang saya pikirkan matang-matang. Sebab beberapa aktivitas menyangkut dengan sosial media terutama pekerjaan. Kalau tiba-tiba saya berhenti menggunakan sosial media bisa kacau semua pekerjaan. Tapi sosial media saat ini semakin menjadi toxic dalam kehidupan saya belakangan ini.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan aktivitas penggunananya yang semakin banyak dan bebas mengutarakan apa saja. Walaupun pemerintah sudah membuat UU ITE yang digadang-gadang bisa mengontrol sosial media pun nyatanya tidak bisa efektif. Di sisi lain memang cenderung membatasi kebebasan manusia untuk mengeluarkan segala pendapatnya. Tak jarang UU ITE juga digunakan untuk mengkriminalisasi seseorang atas dasar ketidaksukaan.

Namun, konteks yang saya tulis kali ini adalah sosial media yang kian hari kian toxic. Konten-konten yang tersebar di sosial media pun berbagai macam; ada yang sebatas ‘pamer’, caci maki, dll. Tetapi sebenarnya tidak semua negatif. Cuma menurut saya dominasi konten positif kalah populer dengan konten yang ‘negatif’. Mungkin karena ini dunia internet jadi kita harus siap dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. 

Toh kita atau saya tidak bisa menjadi polisi moral bagi semua pengguna internet atau sosial media. Kita hanya bisa menjadi polisi moral untuk diri kita pribadi. 

Bahkan ada yang bilang kalau segala sesuatu yang ada di sosial media hanyalah sebatas pencitraan semata. Hal yang terjadi tidak semuanya sama seperti yang ada di dunia nyata. Saya juga mengamini persoalan tersebut. Tetapi lebih dari itu saya belajar untuk tidak peduli dengan apa-apa yang menurut saya ‘toxic’. Saya belajar untuk berdamai dengan diri saya sendiri sebagai bentuk adaptatif terhadap suatu peristiwa yang sedang saya hadapi. 

Saya terus mengingatkan kepada diri saya pribadi, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. 

Berhenti Bermain Sosial Media ?



sampingrumahku.com - Berhenti bermain sosial media?

Mungkin itu adalah yang sedang saya pikirkan matang-matang. Sebab beberapa aktivitas menyangkut dengan sosial media terutama pekerjaan. Kalau tiba-tiba saya berhenti menggunakan sosial media bisa kacau semua pekerjaan. Tapi sosial media saat ini semakin menjadi toxic dalam kehidupan saya belakangan ini.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan aktivitas penggunananya yang semakin banyak dan bebas mengutarakan apa saja. Walaupun pemerintah sudah membuat UU ITE yang digadang-gadang bisa mengontrol sosial media pun nyatanya tidak bisa efektif. Di sisi lain memang cenderung membatasi kebebasan manusia untuk mengeluarkan segala pendapatnya. Tak jarang UU ITE juga digunakan untuk mengkriminalisasi seseorang atas dasar ketidaksukaan.

Namun, konteks yang saya tulis kali ini adalah sosial media yang kian hari kian toxic. Konten-konten yang tersebar di sosial media pun berbagai macam; ada yang sebatas ‘pamer’, caci maki, dll. Tetapi sebenarnya tidak semua negatif. Cuma menurut saya dominasi konten positif kalah populer dengan konten yang ‘negatif’. Mungkin karena ini dunia internet jadi kita harus siap dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. 

Toh kita atau saya tidak bisa menjadi polisi moral bagi semua pengguna internet atau sosial media. Kita hanya bisa menjadi polisi moral untuk diri kita pribadi. 

Bahkan ada yang bilang kalau segala sesuatu yang ada di sosial media hanyalah sebatas pencitraan semata. Hal yang terjadi tidak semuanya sama seperti yang ada di dunia nyata. Saya juga mengamini persoalan tersebut. Tetapi lebih dari itu saya belajar untuk tidak peduli dengan apa-apa yang menurut saya ‘toxic’. Saya belajar untuk berdamai dengan diri saya sendiri sebagai bentuk adaptatif terhadap suatu peristiwa yang sedang saya hadapi. 

Saya terus mengingatkan kepada diri saya pribadi, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. 

No comments