Efek Rumah Kaca (ERK) adalah band yang berasal dari kota Jakarta, digawangi oleh Cholil Mahmud, Adrian Yunan, Poppie Airil, dan Akbar Bagus Sudibyo. Perjalanan panjang telah mereka tempuh dalam hal berkarya sehingga band yang satu ini konon katanya mempunyai karakter yang kuat. ERK juga lantang ikut menyuarakan problematika yang terjadi di masyarakat, tercermin dalam lagu-lagu yang mereka bawakan. Seperti tersulut api semangat ketika lagu-lagu ERK berkumandang di tengah konser, mungkin karena proses yang panjang tersebut ERK mampu memaksimalkan materi-materi lagu menjadi sangat elok nan berapi-api ketika diperdengarkan.

Ada beberapa album yang telah mereka telurkan dalam kurun waktu 2001-sekarang. Album-album tersebut diantaranya Efek Rumah Kaca (2007)Kamar Gelap (2008), Sinestesia (2015). Jika dilihat rentang tahun saat pertama kali ERK lahir, yaitu tahun 2001 maka ada waktu kuranglebih enam tahun dalam proses penggarapan album pertama, namun hanya berselang satu tahun ERK kemudian mengeluarkan album keduanya. Disini saya yakin mereka mematangkan materi-materi yang dipunyai dengan proses yang panjang. Kemudian tahun 2015 keluar album Sinestesia yang konon katanya juga adalah materi-materi yang sudah direkam pada periode awal sampai album kedua. Tidak semua band mampu bertahan dengan pola semacam itu. Tapi sebagai pendengar karya-karya ERK saya beruntung karena dapat mendengarkan kumpulan demo dan lagu yang tidak pernah dirilis, yaitu pada rilisan kaset bertajuk Purwaswara (2018).


 (Purwaswara, 2018)


Purwaswara adalah rilisan berbentuk kaset dari ERK yang berisi 11 lagu demo, versi awal, hingga versi alternatif yang berbeda dengan versi yang sudah dirilis di tiap-tiap albumnya. Ada pula 1 buah lagu yang tidak pernah dirilis yang ditulis pada periode album pertama ERK.

(Tracklist Puwaswara)

Dalam rilisan ini kita dapat mendengarkan beberapa lagu yang masih berbentuk demo dari ERK yang mempunyai beberapa versi, mulai dari versi awal dan versi alternatif dengan begitu kita akan menemukan perbedaan dengan versi yang sudah rilis pada album masing-masing lagu tersebut. Menurut unggahan di linimasa Instagram mereka, rilisan ini adalah usaha yang bisa kami (pendengar ERK) dapat lakukan untuk #DukungERKmenujuSXSW. Selamat ERK telah sukses untuk ikut menyemarakan hajatan di SXSW 2018. Tapi dengan rilisnya Purwaswara ini saya memaknainya lebih, betapa proses panjang telah ERK lewati dalam berproses dalam dunia musik. 

Dalam rilisan tersebut juga disertai dengan tulisan Dimas Ario selaku manager ERK. Ia bercerita awal mulai ketika tahun 2016 saat menjabat manager ERK, kemudian ia dilimpahi dua buah hardisk yang didalamnya berisi dokumen ERK; foto, video, dan juga file lagu. Kemudian ia mendapati lagu-lagu ERK yang memiliki durasi panjang, terdengar lebih mentah, dan ada yang belum pernah dirilis. Dimas Ario berpikir bahwa ini akan menjadi menarik dan berharga bagi pendengar dan penggemar ERK jika dapat mendengarkanya. Meskipun Cholil sempat tidak yakin karena kualitas audio yang kurang bagus, tapi dengan berbagai macam proses akhirnya kumpulan demo dan lagu yang tak pernah dirilis berhasil dirilis juga.

Saya sepakat dengan Dimas Ario bahwa ini menjadi sangat berharga bagi penggemar ERK. Kita seakan-akan diajak untuk ikut menyelami proses yang dilalui ERK dalam proses penggarapan album mereka. Perubahan-perubahan terjadi pada lagu-lagu pada Purwaswara, contoh pada track side A terdapat lagu berjudul Demi Masa kemudian berganti menjadi Debu-debu Berterbangan, lalu pada lagu Jatuh Cinta Itu Biasa Saja jika pada rilisan ini terdapat tambahan instrumen drum pada ending lagu tapi pada versi yang sudah rilis tambahan instrumen sebagai ending lagu sudah tidak ada lagi. Pada lagu yang berjudul Efek Rumah Kaca (track ke 2 side B) terdapat perbedaan; jika pada track tersebut bagian reff lirik .... "lalu terbakar, akan terbakar, wariskan untuk anak dan cucu kita".... sedangkan versi yang sudah rilis pada album sebelumnya ...."kita akan terbakar, kita wariskan untuk anak dan cucu kita".... Bukan hanya pada persoalan lirik, tapi nada yang dipakai juga berbeda. Kita akan dapat dengan mudah membandingkannya kedua lagu tersebut jika sudah mendengarkannya.


 (Hanya dirilis sebanyak 350 buah)


Saya beruntung dapat mendengarkan dan mengoleksi satu dari jumlah yang dirilis sebanyak 350 buah. Mengoleksi rilisan ini juga mengajarkan saya jika berproses/ belajar menjadi lebih baik itu memang tidak kenal waktu. Serupa dengan meminjam pernyataan Dimas Ario,"Mendengar kumpulan demo di Purwaswara yang jauh dari sempurna ini juga mengingatkan kita bahwa semua hal memiliki awal dan proses untuk menjadi lebih baik". Akhir kata maafkan jika ada kata-kata yang kurang pas, ini hanya tulisan pribadi saya sebagai pendengar dan penggemar Efek Rumah Kaca.

Salam (:

Mendengar "Purwaswara" Efek Rumah Kaca


Hai...

Pendakian gunung yang dijuluki anak gunung Sindoro, Jawa Tengah ini kami lakukan sekitar bulan Oktober 2016. Lupa tanggal maaf hehe. Jalur pendakian berada di desa Lengkong, Garung, Wonosobo. Jika dari pusat kota Wonosobo kita bisa ambil ke arah utara yaitu jalur ke Dieng. Sekitar 15 menit dari pusat kota untuk sampai ke desa Garung. 

Waktu itu kami berlima, Kuying, Wisnu, Tira, Aziz, dan saya sendiri memutuskan untuk refreshing dari kejenuhan aktivitas di kampus. Kemudian kawan kami memberitahu jika ada gunung yang masih jarang didaki. Ohya, di daerah Dieng yang notabene dekat dengan gunung Kembang ini ada gunung Prau yang menjadi primadona bagi para pencari matahari terbit. Awalnya kami ingin naik ke gunung Prau, karena beberapa alasan akhirnya kami urungkan untuk naik ke gunung tersebut. Kami akhirnya memutuskan untuk mendaki gunung Kembang. Bermodalkan cerita dari kawan kami, mulai dari tempat pendakian, biaya masuk, pemandangan di puncak, serta beberapa cerita horornya kami nekat untuk mendaki anak gunung Sindoro itu.

Perjalanan kami mulai kira-kira pukul 11.00 berangkat dari rumah saya, kemudian langsung menuju desa Garung untuk bertemu dengan juru kunci gunung tersebut. FYI ternyata gunung ini memang jarang didaki, sekalinya ada pendaki adalah mereka yang ingin semedi. Setelah kami sampai di rumah juru kunci, segera saja kami memarkirkan kendaraan kami, mempersiapkan diri, dan tentu saja membayar tiket masuk. Tiket masuk pada saat itu sekitar Rp 5.000,- per orang. Cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa wkwkw. 
Setelah puas menikmati keindahan, kami mulai membereskan tenda dan sampah yang kami buat. Tapi sebelumnya kami sarapan supaya kuat. Pagi itu setelah kami beres-beres cuaca cukup cerah. Sebelum kami turun, kami sempatkan untuk foto bersama lalu bergegas turun. Perjalanan turun sama beratnya, karena kami harus menahan beban kami, untungnya perbekalan sudah banyak yang habis jadi bebannya tidak terlalu banyak hehe. Jalur yang kami lalui sama, karena menurut kawan kami hanya ada satu jalur yang dilalui. Sesampainya kami di ladang warga, tak berselang lama hujan turun. Kami memakai jas hujan masinig-masing. Perlahan berjalan, namun tak disangka-sangka angin kencang datang. Kami agak kesusahan, dengan badan capek, hujan lalu angin. Kami beberapa kali berhenti karena jalan licin. Kami berpapasan dengan warga lalu kami bertanya apakah sering terjadi angin sekencang ini, tetapi mereka menjawab jarang terjadi seperti ini mas, kalo di gunung sering. Akhirnya pelan-pelan kami sampai ke rumah juru kunci, segera berbenah, istirahat. Sewaktu kami tiba di rumah juru kunci, kami mendapat dua orang yang hendak naik gunung. Menurut juru kunci dalam sebulan paling banyak 30 orang yang mendaki. 

Selesai kami bersiap-siap, juru kunci menjelaskan jalur yang akan kami tuju. Ia memberi tanda jika jalur yang akan kami lalui hanya ada sebatas tanda, yaitu adanya tali rafia berwarna biru. Setelah semua selesai, kami berlima berdoa agar diberi kelancaran pada saat naik dan turun gunung. Pendakian dimulai pukul 13.00 WIB, dimulai dengan jalan setapak desa yang (subhanallah) belum apa-apa sudah tinggi hehehe. Pelan-pelan lalu sampai di jalan ladang warga. Ternyata jalur pendakian ini sangat mengejutkan, sebab dimulai dari pedesaan sudah sangat terjal naiknya. Pelan-pelan kami sampai di ujung ladang warga, berbekal nasihat juru kunci, kami mencari potongan tali rafia warna biru sebagai petunjuk jalan menuju puncak. Akhirnya kami menemukan tali pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ternyata benar, gunung ini jarang didaki dan tidak populer dibandingkan gunung Prau di Dieng. Ini ditandai dengan masih lebatnya vegetasi di hutan yang kami lalui. Ohya kita dapat menemukan banyak jenis anggrek di hutan gunung kembang ini. Menempel pada dahan pohon. 

Selangkah demi langkah kami berjalan, lelah, istirahat lalu berjalan kembali. Sampai akhirnya tepat adzan maghrib berkumandang kami tiba di puncak dan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Hamparan ilalang dan bekas kawah yang begitu luas menyambut kami. Ohya tepat di jalur sebelum puncak, ada sebuah pondokan kecil yang nampaknya tempat untuk bersemedi. Segera setelah istirahat, kami segera mendirikan tenda diantara semak-semak guna menghidari angin yang kencang. Sebab menurut kawan kami yang sudah mendaki, di gunung ini kadang-kadang terjadi badai secara tiba-tiba. Tenda berhasil didirikan, lantas kami segera memasak bekal mie instant yang kami bawa. Makan malam, minum kopi sambil bercerita dan bertukar pikiran. Untung saja tidak ada sinyal di ponsel kami sehingga kami dapat menghabiskan malam dengan bercerita. Kenyang makan, satu persatu mapan tidur di tempatnya masing-masing. Kabut mulai turun, lalu kami memutuskan untuk mengakhiri malam dengan tidur lebih awal supaya besok bangun lebih pagi.

Namun tengah malam beberapa dari kami terbangun, merasakan tenda bergoyang. Kami pikir tenda kami sedang diusik oleh celeng. Tapi ternyata sedang ada badai dan hujan, untung saja kami berkemah di antara semakbelukar. Berulangkali tenda kami bergoyang, nampaknya badai di luar kencang dan lama. Esok paginya kami bangun pagi dan ternyata di puncak penuh kabut, tapi tidak berlangsung lama kabutpun mulai hilang. Sejenak kami santai menikmati pagi dan menjauh dari kebisingan. Di puncak gunung terdapat sebuah kawah besar yang berisi ilalang dan juga terdapat genangan air. Kita bisa mengambil air tersebut untuk dimasak.



Kami cukup senang bersama-sama menghabiskan kejenuhan dengan mendaki gunung Kembang ini. Banyak waktu yang kami habiskan dengan bercanda, bertukar pikiran, melepaskan kebisingan yang kami lalui. Sekarang sudah dibuka jalur resmi pendakian gunung Kembang tepatnya di Blembem, Darmakasiyan, Kretek, Wonosobo. Kami adalah orang awam tentang gunung dan alam, tapi dengan kesoktahuan kami,  yaitu jangan meninggalkan sampah di gunung hehehe.

Tetap berhati-hati dan jangan biarkan ego mengendalikan ketika bersama-sama. Ini ada sedikit cuplikan video saat kami mendaki yang diedit oleh kawan Tira.




~sekian.


Gunung Kembang Wonosobo