Mengenang versi Dan Bandung
sampingrumahku.com - Lagu Dan Bandung adalah lagu memoriabel tetang sebuah kota yang bernama Bandung. Ohya lagu Dan Bandung adalah lagu ciptaan Pidi Baiq atau lebih sering dipanggil Ayah Pidi sang pentolan The Panas Dalam. Mengenang versi 'Dan Bandung' menurut saya adalah sebuah sudut pandang cara mencintai sesuatu tapi tak hanya melulu persoalan fisik, tapi lebih dalam dari itu semua. Btw, lagu ini juga masuk sebagai OST film Dilan 1991 yang juga digarap oleh ayah Pidi Baiq.

Ohya ini adalah pemahaman dangkal saya soal lagu Dan Bandung yang bisa dibilang sok tahu hehe padahal saya tidak pernah sekolah atau berdomisili di Bandung. Saya hanya kebetulan suka lagunya dan mencoba menghubungkan dan cocokologi dengan apa yang saya alami di kota perantauan saya di Purwokerto. Bukan tanpa alasan, sebab kota-kota yang pernah kita tinggali untuk waktu yang tidak sebentar adalah bagian dari perjalanan dan tersimpan memori-memori di dalamnya. 

Kira-kira begini lirik awalnya:

Dan Bandung bagiku bukan cuma
Urusan wilayah belaka
Lebih jauh dari itu
Melibatkan perasaan 
yang bersamaku ketika sunyi...

Cukup sederhana kata yang dipakai dalam lirik tersebut dan mudah dipahami (menurut saya), namun maknanya dalam. Kita diberi tahu bahwa memandang sesuatu baiknya tidak hanya berhenti di permukaan, tapi kita harus paham lebih dalam tentang sesuatu itu (sok tahu banget saya ya! wwkwkwkw). Tapi ya begitu yang saya pahami hehehe. 

Kembali ke lagu Dan Bandung. Awal kali mendengar lagu ini, saya secara pribadi serasa dilempar ke ruang lampau untuk menggali lagi kenangan-kenangan di kota Purwokerto tempat saya sekolah. Segala hiruk pikuk dan segala cerita terbangun disini. Jadi jika di lagu tersebut kota Bandung itu bukan melulu soal urusan wilayah dan geografis kali ini kota Purwokerto yang berada pada posisi tersebut. Mungkin bagi orang-orang yang pernah atau tinggal di Bandung atau bahkan asli orang Bandung akan merasa terwakili dengan adanya lagu ini (tenkyu ayah Pidi). Tetapi jauh lebih dari itu, saya memahami bahwa setiap orang memiliki ruang untuk menyimpan segala ingatan dan kenangan yang tidak terlupakan; baik itu buruk ataupun menyenangkan. Mungkin terdengar cengeng atau lebay ya ? Tapi itu sah-sah saja bebas hehehe. Maka berbahagialah orang-orang dengan segala kenangan masa lampaunya, apalagi kenangan yang membahagiakan. Kemudian, tiap-tiap orang juga mempunyai tempat yang berkesan untuk dirinya secara individu yang kemudian itu menjadi kenangannya masing-masing. 

Ohya lagu ini dinyanyikan dalam beberapa versi penyanyi, kebetulan yang saya dengarkan adalah versi Danilla Riyadi feat The Panas Dalam. Lagu tersebut bisa kita dengarkan di Youtube, Spotify dan beberapa kanal musik online lainnya. Dengarkan saja kalau penasaran. 

Mengenang Versi 'Dan Bandung'



 Gendhit n Friends

sampingrumahku.com - Sebelumnya siapa itu Gendhit and Friends ? Jadi mereka ini adalah grup band yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Dipunggawai oleh mas Gendhit, Kiki, dan Nopal kemudian mengudaralah dengan nama Gendhit and Friends. Awalnya mas Gendhit hanya ingin bersolo karir saja, namun sekitar tahun 2013 mas Gendhit bertemu dengan Nopal yang dilihatnya punya semangat untuk berproses musik bersama, kemudian Nopal sebagai bassist mengajak Kiki mengisi kursi drummer untuk melengkapi formasi mereka.

Nampaknya Tuhan merestui pertemuan ketiganya yang kemudian lahir sebuah karya yang datang dari kemantapan hati, sebuah album musik bertajuk Dua Musim. Uniknya materi dalam album ini menurut mas Gendhit sudah ia tulis ketika memilih untuk bersolo karir, kemudian karena berubah menjadi format band yang tentu saja mengubah aransemen yang ada. Sampai akhirnya saya tahu bahwa untuk merampungkan album ini membutuhkan waktu selama empat tahun. Dimulai sejak tahun 2014 dan selesai tahun 2018. Wah!

Album Dua Musim ini sebenarnya sudah mulai beredar pada bulan November 2018, namun perilisan dilaksanakan pada bulan Desember. Bekerjasama dengan UKM Gasebu Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Gendhit and Friends resmi merilis karya ke publik. Album ini merupakan bentuk kolektif karena prosesnya melibatkan kawan-kawan dekat dari mereka. Dari mulai proses rekaman, mixing, pengisian komposisi musik, sampai desain yang menambah ciamik pada album ini. Semangat gotong royong ini harus kita tiru dan apresiasi, karena dukungan-dukungan tersebut sangat mambantu dalam terciptanya sebuah album yang bagus ini.

Berisi 8 track lagu, Dua Musim ini menawarkan wacana untuk menemukan ke Indonesiaan di dalamnya. Judul album Dua Musim ini mengisyaratkan Indonesia, karena memang hanya ada dua musim di Indonesia. 1. Documentary of Song, 2. Tanah Air Nusantara, 3. Rembulan di Balik Awan, 4. Dua Musim, 5. Sampai Saat Semua Berakhir, 6. Bumi Semakin Tua, 7. Lembayung Jingga, 8. Kampung Halaman. Itulah daftar lagu yang ada pada album ini.

Membaca judul-judul yang tersaji membuat saya berimajinasi bahwa setiap judul ini adalah sebuah cerita yang sampaikan oleh Gendhit and Friends. Di awali dengan Documentary of Song, saya dikenalkan dengan musik yang akan mereka bawakan pada satu album ini. Lalu masuk pada Tanah Air Nusantara, saya dikenalkan dan disadarkan bahwa Indonesia begitu luas dan penuh dengan kekayaan dan keindahan alam yang ada. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita hidup di tanah yang begitu kaya, dan wajib kita jaga karena ini adalah tanah kandung kelahiran kita. Masih mendukung pada lagu sebelumnya, lagu Rembulan di Balik Awan juga bercerita (menurut subjektif saya) tentang Indonesia dan segala cerita cintanya. Memasuki lagu yang juga menjadi judul album, yaitu Dua Musim saya dibawa nuansa pedesaan yang sangat kental. Pemilihan nada-nada semakin menguatkan nuansa pedesaan. Lagu ini seakan menjadi tempat untuk rehat sejenak setelah lagu-lagu sebelumnya yang cukup menguras energi. Namun, disini juga saya mendapatkan kenyataan jika kemarau panjang membuat kering sawah, sungai, membakar ilalang dan memaksa makhluk bergelut dengan penderitaan, hanya doa kepada Tuhan yang bisa kita lakukan untuk menurunkan hujan. Doa diijabah, hujan datang menggerus tanah tandus, banjir dan menghanyutkan jiwa. Cemas dan bimbang menggelayut pada setiap makhluk, lalu kita hanya bisa berdoa untuk hujan segera reda. Sudah kewajiban kita untuk menjaga alam supaya musim apapun yang datang tak membuat kita nelangsa.

Tiba pada lagu Sampai Saat Semua Berakhir saya diajak untuk merenung tentang apa-apa yang sudah manusia lakukan. Bahwa untuk bertahan hidup manusia harus bisa belajar dari apapun yang ada, dan juga dimanapun ia berada. Kita harus sadar tentang apapun yang diri kita lakukan sampai saat semua berakhir. Tentu saja ini menjadi refleksi. Sebagai manusia kita harus menjaga lingkungan hidup dan jangan biarkan ketamakan menguasai diri kita sebagai manusia, itu adalah pesan yang saya tangkap pada lagu berikutnya berjudul Bumi Semakin Tua. Konon katanya bumi kita sudah berumur jutaan tahun. Kita hidup di Indonesia sudah seharusnya kita menjaga. Namun, dewasa ini kita banyak mendapati penggundulan hutan, merusak tebing untuk kepentingan pertambangan yang berlebihan. Tentu saja ini akan merusak lingkungan hidup yang sudah ada. Bumi sudah semakin tua ditambah sikap manusia sendiri yang tidak memperhatikan dampak panjang dari perusakan alam ini. Maka ketika dua musim itu datang kita akan digerus, dibinasakan oleh karena ulah kita sendiri yang lalai menjaga alam. Sampai pada lagu Lembayung Jingga yang cukup tenang setelah dikoyak-koyak kenyataan bahwa bumi semakin tua. Saya diajak untuk kembali mawas diri atas semua persoalan yang terjadi. Lembayung jingga juga menurut saya sebuah waktu dimana kita harus sejenak pulang untuk melepaskan beban seharian, mengheningkan diri di dalam kesunyian (baca instropeksi). Kita seharusnya berdoa dan berharap bahwa semua yang terjadi tidak membawa bencana dan nestapa untuk kita. Menutup cerita, Kampung Halaman membawa energi positif luar biasa. Melahirkan semangat dan harapan baru bagi kehidupan kita.

Tulisan di atas adalah penafsiran dangkal saya terhadap 8 lagu yang terdapat dalam album Dua Musim ini dan murni sebagai pandangan subjektif saya sendiri terhadap karya ini.

Lahirnya album ini menurut mas Gendhit adalah kontribusi nyata dirinya dan kawan-kawan yang lain sebagai musisi. Mereka berkarya atas dasar kebutuhan bukan hanya mengejar plus-plusnya saja. Musik juga menjadi media untuk menyalurkan suara-suara kepada masyarakat. Karena mereka musisi, makanya mereka membuat lagu/ album. Menurut mas Gendhit juga bahwa ia berharap dengan lahirnya album ini bisa menjadi sarana silaturahmi dengan siapa saja. Membuka ruang luas untuk bertukar pikiran/ ide, wacana atau apapun itu. Kita juga bisa datang ke Hirataka Music & Art di Banyumas yang mana adalah rumah dari mas Gendhit, kita bisa membeli album Dua Musim dan juga untuk berdiskusi dengan mas Gendhit langsung, sambil ngeteh santai hehe. Sekali lagi ini adalah tulisan yang sifatnya subjektif dan tidak bisa dipertanggungjawabkan keilmuanya (sebab saya tidak mempunyai ilmu yang cukup) wkwkwk.

Salam hormat dari saya,

Menemukan Cerita pada Dua Musim milik Gendhit and Friends.

 Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua


sampingrumahku.com - Sesuai dengan judul tulisan ini, Bin Idris alias Haikal Azizi telah bercerita dengan Anjing Tua (baca: album ke 2 Bin Idris) yang dikemas secara apik menurut saya. Walaupun Haikal sendiri mengatakan bahwa Anjing Tua adalah album yang dikerjakannya secara gegabah (gegabah saja hasilnya begini, bagaimana kalau direncanakan dengan matang hehe). Tetapi saya yakin album ini dibalik ketergesaan album ini, Haikal adalah peramu nada dan lirik yang ciamik.


 Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua


FYI untuk yang belum mengetahui, Bin Idris sendiri adalah proyek solo dari Haikal Azizi sang vokalis band Sigmun. Dalam project ini pula Haikal telah merilis 2 album yang dirilis dalam jangka waktu yang tak lama. Album-album yang telah dirilis terdiri dari Bin Idris (2016), dan Anjing Tua (2018). Hal ini menunjukan produktifitas Haikal dengan proyek solonya ini.

Dalam album Anjing Tua ini terdapat 7 track lagu sebagai materinya. Diawali dengan lagu Anjing Tua, Anak Panah, Hari Sudah Petang. Kemudian dilanjut dengan lagu Rukun Warga, Pulang Kampung, Tenggelam, dan Raya sebagai lagu penutup pada album ini. Menurut Haikal sendiri, materi dalam album ini sebagian besar hadir karena alasan sepele, yaitu gitar akustik baru.  Cukup menarik memang, hanya dengan mempunyai gitar akustik baru kemudian melahirkan semangat untuk mengabadikan suara gitar tersebut dalam bentuk album dan kalau meminjam istilah yang dipakai Haikal adalah mengumbar suara gitar baru. 


 Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua


Dari ke 7 track dalam album ini yang menarik perhatian saya sebagai pendengar yaitu, Rukun Warga. Alasanya cukup sederhana, lagu ini cukup dan cenderung sangat dekat dengan keadaan Indonesia saat ini. Terlebih lagi lagu ini sudah rilis video clipnya di Youtube. Cukup menjadi sentilan untuk pribadi saya sendiri sebagai pendengar, dimana kita harus bisa menjaga kerukunan antar sesama manusia. Namun menurut saya, Bin Idris sendiri tidak berbicara terlalu jauh alias tidak muluk-muluk berbicara soal itu. Ia mengambil lingkup kecil dari hubungan sosial masyarakat yang ada, yaitu rukun warga. Ini menjadi menarik bagi saya juga menjadi pengingat bagi saya sendiri "sebelum merubah hal yang besar, kita harus merubah hal yang dianggap sepele". Sudah seyogyanya kita saling menjaga kerukunan, perdamaian karena kita berbagi bumi dan matahari yang sama.

Namun untuk keseluruhan track dalam album ini sangat easy listening dan bisa dijadikan teman saat melakukan perjalanan. Ada tambahan alat musik Udu yang menemari petikan gitar dari Haikal terdapat di lagu Anjing Tua, dan Rukun Warga. 

Kemudian menurut hemat saya, memahami lagu guna menangkap pesan itu ada keunikan dan kejutan-kejutannya sendiri dari karya yang tersaji. Lagu dengan lirik-lirik unik ini memberi ruang yang luas untuk kita mengartikan dan memahami maknanya, walaupun si pemilik karya ini mengganggap karyanya 'tak' mempunyai makna. Ohya, album ini bisa kita nikmati di Spotify dan Haikal pun merilisnya dalam bentuk fisik kaset. Panjang umur rilisan fisik musik dan dunia musik tanah air.

Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua