sampingrumahku.com - Perpanjang masa berlaku SIM menurut saya penting, terutama bagi yang sudah memilikinya. Sebab kalau telat sehari saja kita harus mengulanginya sedari awal. Ribet sendiri nantinya. Maka dari itu saya memilih memperpanjang masa berlaku SIM saya sebelum jatuh tempo. Kebetulan saya tinggal di Kabupaten Wonosobo, jadi saya akan menuliskan pengalaman saya berurusan dengan SIM.

Berbekal informasi dari teman. saya disarankan untuk berangkat lebih awal supaya tidak mengantre terlalu lama. Yang harus di siapkan:

1. Fotocopy KTP dan SIM lama

Sebaiknya kita sudah menyiapkan fotocopy SIM (2 lembar) dan fotocopy SIM lama sejak dari rumah. Gunanya fotocopy KTP untuk mengantre saat cek kesehatan, dan fotocopy SIM lama sebenarnya untuk jaga-jaga manakala dibutuhkan.

2. Cek Kesehatan

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, sebaiknya kita memang datang lebih awal ke tempat cek kesehatan, yaitu bertempat di dr. Yanuar Surya Gunawan yang beralamat di Jl. Mayor Kaslam No.35, Ngepelan, Wonosobo Bar., Kec. Wonosobo, Kabupaten Wonosobo. Untuk mengantre siapkan satu lembar fotocopy KTP. Cek kesehatan di mulai pukul 08.00, jadi antre ya. Siapkan juga uang Rp 40.000,- (sebaiknya uang pas) untuk biaya cek kesehatan.

 Cek Kesehatan

3. Mengisi Formulir Pendaftaran

Setelah cek kesehatan selesai, kita harus segera pindah ke kantor SATLANTAS. Masuk lalu mengambil formulir yang sudah disiapkan dalam map-map. Isi lengkap. Jika sudah selesai, sisipkan hasil cek kesehatan dan SIM lama dalam map. Serahkan kepada petugas dan tunggu nama kita dipanggil.

4. Pembayaran dan Foto

Setelah mengisi berkas pendafataran SIM (baru atau perpanjang), maka kita tinggal menunggu nama dipanggil. Setelah nama dipanggil, kita harus membayar sebesar Rp 75.000,- untuk SIM C. Untuk jenis SIM lainnya saya kurang paham. Setelah membayar, kita menunggu lagi untuk dipanggil foto. 

5. Pengambilan SIM

Setelah melakukan sesi foto dan lainnya, kita harus menuggu lagi untuk mengambil SIM. Namun, kali ini ada yang berbeda. Nampaknya SIM yang saya terima masih SIM sementara dan dikasih tahu petugas bahwa SIM bisa diambil sekitar bulan Oktober atau November. Akhirnya kepo kenapa bisa begitu, ternyata akan ada SIM dengan model terbaru. Cek saja beritanya di kolom berita-berita online. 

 SIM Sementara

Sekian pengalaman saya memperpanjang masa berlaku SIM C. Jangan sampai telat, sebab telat satu hari maka kita harus membuatnya sedari awal.

Perpanjang SIM di Kabupaten Wonosobo

 Jalan Berkayuh  Ingatan



Kala itu
Ku kejar dirimu, ku kayuh sepeda
Melewati batas kota
Menyerbu kenangan, menitipkan pengap
Sedang bus mu melaju bak kesetanan
Tak hilang akal, ku potong jalan
Sial, aku tak melihat lobang.
Tersungkur, mengaduh.

Seorang anak lelaki menahan perih
Sial kedua, rantai sepedanya lepas
Seperti gadisnya yang bakal lepas
Sebenarnya ia akan berhasil mengejar bus itu, tapi rantai adalah ujiannya
Segera setelah rantai betul, ia kayuh sekuat peluh
Di jalan sepi, ia menagis sejadinya, ia berpisah
Debu terbang mengelilinginya
Angin panas menerpa air mukanya
Sesegukan, ia duduk memegangi lutut.
Ia kembali pulang, pada peluk ibunya
Menuntun sepeda dengan velg yang bengkok
Sebab lobang.
Ia mengadu pada waktu, jika saja ia mampu memutarnya
"Akan ku hentikan!"
Tapi waktu adalah begitu tak acuh pada bocah lelaki itu.
Ia melengos saja.
Musim berganti, memeluk perasaan
Menimang ingatan, kelak gadis itu akan tahu
Si bocah lelaki selalu bersepeda tiap sore,
Berkunjung pada jalan dimana ia berhenti dan menangis.
Menatap nanar, ketika matari pulang pada ujung samudera.
Barang sekedar merawat ingatan, dan berharap waktu bersahabat
mengejar bus adalah kegiatan barunya.

Wonosobo, menjelang akhir Agustus 2019

Jalan Berkayuh Ingatan

 Last Roar Tuan Tigabelas

sampingrumahku.com - Tuan Tigabelas mengusung Harimau Sumatera dalam album terbarunya pada tahun ini sebagai isu. Beberapa lagu sudah rilis termasuk lagu yang berjudul Last Roar dengan video clip yang baru saja rilis pada hari Senin, 29 Juli 2019 yang bertepatan dengan #GlobalTigerDay di kanal Youtube.

Dalam video clip tersebut berkisah mengenai perjanjian antara Manusia dan Harimau secara batin untuk tidak saling mengganggu dan menjaga keharmonisan hidup. Perhormatan secara adat sendiri masih terjaga dengan sakral. Namun, nyatanya manusia mulai ingkar dengan janji. Hutan secara perlahan namun pasti berubah menjadi lahan-lahan kelapa sawit. Pembukaan lahan secara massif merubah sistem hutan. Binatang-binatang kalangkabut mencari perlindungan, dan akhirnya mati. Tidak terkecuali dengan Harimau Sumatera ini, sebab mereka yang mendapat julukan 'Raja Hutan' saja dibantai satu persatu. Diambil kulitnya, dibunuh dengan sadis dll. 

Perburuan juga menjadi salah satu faktor dalam merosotnya jumlah kucing besar ini. Bahkan saudaranya dari Jawa dan Bali dikabarkan sudah punah. Akankah Harimau Sumatera segera menyusul ? Sedih apabila benar-benar itu terjadi. Sebab, generasi mendatang kemungkinan hanya bisa menyaksikan harimau dalam bentuk diorama. Semoga ini bisa menjadi perhatian bagi masyarakat.

Di beberapa situs organisasi penyelamat hewan, penelitian-penelitian, dan kolom berita online, populasi Harimau Sumatera dikabarkan berkisar kurang lebih 600an ekor dan itu bisa semakin merosot jika pembukaan lahan semakin tidak terkendali. Belum lagi dengan harimau-harimau yang harus terlibat konflik dengan manusia. Berkurangnya luas hutan memaksa mereka beraktivitas di tempat yang lebih dekat dengan manusia. Namun, sialnya hal itu membuat harimau-harimau ini dibantai. Seperti yang terjadi di suatu wilayah, dimana seekor harimau diburu lalu bangkainya digantung untuk menjadi bahan tontonan. Perlu edukasi lebih kepada masyarakat tentang perlunya menjaga keberlangsungan populasi hewan yang satu ini. Pusat-pusat konservasi yang ada di Indonesia juga berusaha keras untuk menjaga keberlangsungan populasi Harimau Sumatera.

Tuan Tigabelas melalui karyanya mengajak kita sebagai pendengar dan masyarakat untuk mengetahui betapa pentingnya isu ini untuk disebarluaskan sebagai edukasi. Royalti dARI lagu Last Roar juga akan didonasikan untuk program pelestarian Harimau Sumatera melalui WWF-Indonesia. 

Semoga Tuhan mengampuni atas ketamakan hamba-hambanya.

Tuan Tigabelas dalam Harimau Sumatera

 Hindia Membasuh

sampingrumahku.com - Kembali lagi pada tulisan-tulisan tak berbobot ini dengan tema sebelumnya, yaitu Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengambil beberapa potong lirik yang kemudian saya maknai sebagai manifesto mawas diri bagi saya pribadi. Sebab terkadang saya sebagai manusia kelewatan mengeluarkan ekspresi diri terhadap persoalan yang saya hadapi; baik urusan bahagia, kecewa, dan sedih. Bahkan saya juga terkadang tidak sadar bahwa sebenarnya saya begitu pamrih terhadap investasi atau segala sesuatu yang sudah saya curahkan kepada sesama bahkan kepada-Nya.

Membasuh, adalah lagu terbaru dari Hindia yang berkolaborasi dengan Rara Sekar. Pada awal lirik lagu saja sudah begitu mengacak-acak logika berpikir saya. Begini bunyinya, "Selama ini ku nanti Yang ku berikan datang berbalik, Tak kunjung pulang apapun yg terbilang, Di daftar pamrih ku seorang, Telat ku sadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar". Begitu menusuk menurut saya, sebab Hindia terang-terangan menyebutkan kata pamrih. Tanpa tedeng aling-aling saya merasa malu!. Seperti yang sudah saya katakan di atas, bahwa terkadang saya tidak sadar bahwa tumbuh perasaan pamrih terhadap apa yang sudah saya lakukan.

Bahkan untuk urusan ibadah, saya juga terkadang pamrih terhadap ibadah yang sudah saya kerjaan. Saya tidak mempersoalkan bentuk ibadahnya, ini adalah masalah tentang niatan saya pribadi ketika hendak melakukan ibadah kepada-Nya. Sifat pamrih itu timbul manakala kesulitan datang, saya berpikir bahwa jika saya melakukan ibadah secara "khusyuk" maka Tuhan akan mengabulkan permintaan saya. Suka tidak suka, saya memang terkadang tanpa sadar melakukan hal seperti itu. Ikhlas menjadi kata kunci yang saya tangkap dalam materi lagu Membasuh dari Hindia ini.

Sulit memang. Mawas diri adalah koentji.

Bersambung...

Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri Part II


sampingrumahku.com - Hindia nama dari sebuah project musik yang sedang dilakukan oleh Baskara vokalis dari band Feast. Belakangan ini pula karya-karya musiknya ikut meramaikan kolom-kolom gerai musik digital menawarkan wacana-wacana yang menarik  di dalam karyanya untuk dibicarakan. Ohya, sebagai disclaimer tulisan ini opini saya pribadi sebagai respon terhadap apa yang dengar dan tentu saja apa yang saya mau tulis. 

Saya menemukan wacana mawas diri dalam karya dalam project Hindia ini. Saya sebagai pendengar mau tidak mau harus mencerna apa yang saya dengar. Nyatanya saya sebagai manusia sering kali merasa persoalan yang dihadapi begitu berat untuk saya hadapi. Berasa diguyur air, seketika itu pula terbangun dari delusi tentang kecemasan-kecemasan yang saya hadapi. 

Bagaimana tidak, di lagu Evaluasi saja Hindia berkata bahwa "masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh, ini belum separuhnya, biasa saja, kamu tak apa", mereka berkata kalau maalah yang kita hadapi itu biasa saja dan tentu saja kita baik-baik saja. Artinya saya, kamu, kita semua disadarkan kalau setiap masalah yang kita hadapi yang bakal menemukan jalan keluar dan lebih menguatkan dengan mengatakan bahwa kita baik-baik saja. Hanya saja seringkali ekspresi atau respon terhadap persoalan tersebut saya lakukan secara berelebihan. Tanpa sadar. Apalagi jika saya menghadapi sebuah kegagalan. Saya sadar kalau apa-apa yang berlebihan itu tidak baik. Kembali lagi Hindia mengatakan, "Kita semua gagal Ambil sedikit tissue bersedihlah secukupnya". Sebuah penggalan dari lirik berjudul Secukupnya. Jujur dalam keadaan tertentu mendengarkan lagu-lagu Hindia ini berasa mendapatkan nasihat, bahkan merasa malu.

Di lagu yang berjudul Belum Tidur Hindia berkolaborasi dengan Sal Priadi, solois dari Malang. Konsep kolaborasi yang unik, sebab mereka bernyanyi secara stereo, Basakara pada sudut kiri, dan Sal sudut kanan walaupun pada awal lagu mereka bernyanyi terpisah, namun di akhir lagu suara mereka bersatu kembali dengan lirik "Kau yang tahu racun diri sendiri". Segala persoalan yang pada diri saya, hanya saya sendiri yang tahu, hanya saya sendiri yang mampu menyelesaikannya. Diri saya sendiri yang punya kuasa atas persoalan-persoalan yang terjadi, dan saya sendiri yang harus memilih untuk menyelesaikan atau tidak menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi. Mengenal batasan atas kemampuan diri sendiri juga perlu, dan kembali lagi yang tahu hanya diri kita sendiri.

Bersambung ...

Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri Part I


sampingrumahku.com - Tulisan ini bercerita tentang Ramadhan, Pulang dan Kesunyiamn bukan tentang keluh kesah atau serupanya. Hanya curahan perasaan pribadi dan sebuah respon atas apa yang saya alami. 

Sejak merantau untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 2010-2016 saya meninggalkan desa tempat saya tinggal. Meninggalkan kebiasaaan, meninggalkan keramahan, keakraban dengan kawan-kawan semasa kecil beserta lingkungannya. Karena tuntutan kuliah dan kegiatan lainnya membuat saya tidak banyak meluangkan waktu untuk pulang, ditambah lokasi rumah yang memisah dari desa membuat saya semakin 'menjauh' dari sosial masyarakat di desa. Banyak peristiwa terlewatkan begitu saja, padahal seharusnya saya lebih bisa untuk membaur nyatanya saya gagal. 

2016-2018 adalah tahun terberat dalam proses adaptasi dengan lingkungan desa yang saya tinggalkan. Kawan-kawan sudah banyak yang menikah, orientasi banyak berubah, bahkan untuk urusan bercanda saja saya kewalahan untuk mengikutinya. Tatapan aneh sering saya jumpai, saya maklum dengan itu. 

2019 kali ini saya tak boleh gagal untuk ikut membaur dalam keriuhan desa, apapun itu. 

Bulan ramadhan menjadi tonggak ketika saya memaksa melibatkan diri dalam kegiatan menyambut idul fitri 1440 H. Tepatnya pertengahan puasa, ada sepucuk surat undangan untuk rapat pemuda masjid guna membahas acara yang tadi saya sebutkan. 

Pulang kali ini membawa perasaan dan pengalaman yang lama saya tinggalkan. Masa kecil pun tiba-tiba melintas begitu saja. Sedih. Bukan saya merasa tua, saya masih muda! baru 27 tahun hahaha. Tapi saya masa kecil begitu riuh ketika ramadhan tiba. Ternyata waktu begitu cepat berlari meninggalkan kita yang sibuk dengan kefanaan. Sesal jelas ada, hanya saja saya tak pantas untuk terus berkubang pada sesal itu. 

Diri saya berhasil saya paksa untuk kembali pulang pada desa, berbaur dengan masyarakat desa saya. 

Malam takbiran berjalan lancar. Seperti biasa, pawai obor dan lampion menjadi agenda wajib di desa saat malam takbiran. Rasanya begitu lama saya tidak merasakan keriuhan dalam menyambut malam takbiran. Ada haru yang tidak bisa saya jelaskan, hanya bisa bersyukur.

Ramadhan, Pulang, dan Kesunyian

Kita hanya seorang pengembara pada diri kita
Yang tabah dan tak tabah
Pada kesunyian, keriuhan, kelapangan dada
Kau keliru jika takut sendiri,
Karena pengembara terbiasa sendiri

Ramadhan menjungkirkannya pada masa silam
Ketika kanak, berebut tawa 
Berebut pengeras suara
Berebut stik bedug

Ternyata ia menyaksikan dirinya
Berlarian di surau
Menjelma kanak-kanak
Menjelma haru
Berebut kasih-Nya

Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian
Seorang pengembara telah lahir dan bingung
Ia risau dengan kesunyiannya
Rupanya ia belum sadar;
Penguasa alam ada dalam dalam nadinya
Begitu dekat, melekat

Ia tahu
Masa kanaknya telah usai
Ia berjalan nuju pegunungan sabar
Segara amarah
Langit biru bahagia
Dan jalan kesunyian seorang diri ditemani penguasanya
Sampai ia bertemu kekasihnya.

Ia melangkah pelan
Meraba seperti bayi
Ia tertawa
Menimang masa kanaknya
Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian.

Nyanyian Pengembara

Seorang pelaut sedang tersesat
Ia tak mampu membaca bintang
Terombang-ambing dalam segara
Sunyi pecah oleh riak air

Melamun ia
Menangis dalam terik matari
Puluhan rapalan doa
Telah melumat mulutnya, namun tidak hatinya
Rapalan doa terus mengiringnya

Berharap ia bisa membaca bintang lagi
Sungguh malang ia

Mulanya ia penasaran dengan segara lepas
Ia yakin kalau mampu menaklukannya
Hari berganti bulan
Bulan berganti tahun
Badai pun ia bertahan
Namun petaka datang 
Ketika ia tak mampu membaca bintang dan angin

Takut menyerganya
Sebab ia telah jumawa
Bintang dan angin kabur
Tersisa murung
Pasrah

Ia dikancani camar yang nemplok sedari awal
Sepertinya camar itu tahu kalau ia akan tersesat

Wajahnya kini ditumbuhi rambut
Matanya kosong
Camar yang setia, terbang sesekali dan kembali
Mungkin camar pun sunyi dengan kesendirianya
Ia menangis dan tertidur di teras perahu

Tiba-tiba
Ketika kapal besar membangunkan dalam tidurnya
Berjingkrak, lalu bahagia
Lantas dibakarnya kapal, biar terlihat nahkoda
Ajaib, api itu membawanya pada daratan dan pulang

Camar menguntitnya sampai daratan
Lalu ia terbang bebas, mencari pelaut-pelaut tersesat lainnya.
Sebab ia tak tahan melihat kesendirian seorang pelaut.

Pelaut,Camar dan Api



sampingrumahku.com - Berhenti bermain sosial media?

Mungkin itu adalah yang sedang saya pikirkan matang-matang. Sebab beberapa aktivitas menyangkut dengan sosial media terutama pekerjaan. Kalau tiba-tiba saya berhenti menggunakan sosial media bisa kacau semua pekerjaan. Tapi sosial media saat ini semakin menjadi toxic dalam kehidupan saya belakangan ini.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan aktivitas penggunananya yang semakin banyak dan bebas mengutarakan apa saja. Walaupun pemerintah sudah membuat UU ITE yang digadang-gadang bisa mengontrol sosial media pun nyatanya tidak bisa efektif. Di sisi lain memang cenderung membatasi kebebasan manusia untuk mengeluarkan segala pendapatnya. Tak jarang UU ITE juga digunakan untuk mengkriminalisasi seseorang atas dasar ketidaksukaan.

Namun, konteks yang saya tulis kali ini adalah sosial media yang kian hari kian toxic. Konten-konten yang tersebar di sosial media pun berbagai macam; ada yang sebatas ‘pamer’, caci maki, dll. Tetapi sebenarnya tidak semua negatif. Cuma menurut saya dominasi konten positif kalah populer dengan konten yang ‘negatif’. Mungkin karena ini dunia internet jadi kita harus siap dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. 

Toh kita atau saya tidak bisa menjadi polisi moral bagi semua pengguna internet atau sosial media. Kita hanya bisa menjadi polisi moral untuk diri kita pribadi. 

Bahkan ada yang bilang kalau segala sesuatu yang ada di sosial media hanyalah sebatas pencitraan semata. Hal yang terjadi tidak semuanya sama seperti yang ada di dunia nyata. Saya juga mengamini persoalan tersebut. Tetapi lebih dari itu saya belajar untuk tidak peduli dengan apa-apa yang menurut saya ‘toxic’. Saya belajar untuk berdamai dengan diri saya sendiri sebagai bentuk adaptatif terhadap suatu peristiwa yang sedang saya hadapi. 

Saya terus mengingatkan kepada diri saya pribadi, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. 

Berhenti Bermain Sosial Media ?

sampingrumahku.com - Mencoba menuliskan keresahan pada tubuhku sendiri. Sunyi adalah suatu keadaan tidak ada suara, hening, senyap dan kosong. Terkadang diri kita merasa sunyi, padahal tidak sama sekali.


Tubuhku tak sunyi
Ia berisik pada ujung rambut 
sampai telapak kaki
Memenuhi ruang pikir
Mengisi hati


Keseharian kita sebagai makhluk sosial bisa dibilang akrab dengan kebisingan. Bising menjadi makanan sehari-hari masyarakat kota. Mereka akrab dengan kebisingan suara kendaraan, bising visual papan reklame dan lain sebagainya. Namun saya yang tinggal di desa juga sebenarnya merasakan kebisingan, khususnya di dunia internet. Internet kini bisa dijangkau oleh siapa saja, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun berada. 

Kebisingan ini terjadi pada pikiran saya sendiri akibat dari massifnya penggunaan internet untuk berbagai hal; mungkin termasuk tulisan ini. Setiap harinya saya menggunakan gadget untuk keperluan pekerjaan, hiburan, dan berkomunikasi. Tapi akhir-akhir ini saya merasa bahwa saya sudah terlalu banyak menghabiskan waktu bersama barang-barang tersebut. Sehingga walaupun saya tinggal di desa, pikiran saya mampu untuk menjejalah ruang dan waktu yang jauh. 

Sepertinya saya merasa internet saat ini mulai tidak sehat untuk penggunanya. Sebenarnya saya mempunyai kendali penuh atas diri saya pribadi untuk membatasi diri saya bermain dengan barang-barang tersebut. Tapi sementara ini saya gagal untuk melakukannya. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya menggunakan barang-barang tersebut nyatanya berdampak besar terhadap konsumsi internet. 

Saya menyaksikan keriuhan dalam internet, sebab orang mampu mengkasesnya secara bebas seperti yang sudah saya sampaikan di atas. Orang-orang bebas mengirimkan kabar, foto, keluh kesah, dan doa-doa yang seharusnya mereka utarakan ketika beribadah. Saat ini internet adalah dunia kedua bagi orang-orang. Saya pribadi bisa dibilang sudah kecanduan internet khusunya sosial media. Sosial media kini begitu banyak penggunanya di Indonesia; mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan orang tua. Memang dunia kini berada dalam genggaman, butuh ini tinggal buka internet, belanja ini tinggal buka internet. Saya tidak munafik dengan adanya akses-akses tersebut. Banyak hal bisa kita lakukan dengan internet dan mempermudah segala aktivitas kita. Saya juga menikmatinya. Hanya saja, belakangan ini saya mengeluh pada diri saya sendiri tentang penggunaan internet yang berlebihan. 

Dari pagi sampai malam saya bersentuhan dengan internet. Bangun tidur yang pertama dicari adalah HP hanya untuk sekedar memeriksa notifikasi. Bahkan saya terkadang membawa HP ke dalam toilet hanya untuk menemani ketika saya buang air besar. Saat makan juga terkadang membawa dan memainkannya. Ketika menjelang tidur pun saya sempatkan main HP. Nah hal-hal semacam ini sebenarnya yang menurut saya adalah teror. Hidup saya berasa diteror oleh notifikasi email pekerjaan, notifikasi sosial media dan lain sebagainya. Tidur pun sepertinya hanya sebagai formalitas belaka, karena pikiran saya masih berputar-putar dala internet. Kurang ajar memang! Saya adalah pemilik kuasa atas pikiran dan tubuh saya sendiri harus menyerah pada hebatnya internet dan segala kemudahan yang ditawarkannya. Memang betul, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Sepertinya saya harus mulai mengatur tubuh saya secara utuh untuk dapat berkompromi terhadap waktu, terhadap rakusnya menggunakan internet. Sunyi bagiku saat ini adalah fana, sebab setiap harinya teror internet datang meneror pagiku, makanku, dan tidurku. Batasan memang seharusnya ada untuk menjaga kewarasan. Saya sendiri yang bisa melakukan untuk tubuh saya. Sewajarnya saja itu lebih baik.

Tubuhku Tak Sunyi

sampingrumahku.com - FSTVLST (dibaca FESTIVALIST) adalah band rock asal Yogyakarta yang beranggotakan Farid Stevy, Roby Setiawan, Humam Mufid, Danish Wisnu, dan Rio Faradino. Sebenarnya FSTVLST adalah transformasi JENNY, formasi awal sebelum tercipta FSTVLST. JENNY sendiri telah menelurkan satu album yang diberi nama Manifesto (2009) dan beberapa single sebelum akhirnya bubar dan terbentuk FSTVLST sampai saat ini.



Setelah terbentuk menjadi FSTVLST, mas-mas ini kemudian menelurkan album I dengan nama HITS KITSCH (2014). Menurut Wikipedia, album ini masuk dalam nominasi 20 album terbaik oleh Majalah Rolling Stone. Dalam album HITS KITSCH terdapat 10 track lagu yang saya hafal walaupun tidak hafal semua liriknya hehe. FSTVLST sendiri menurut saya band yang unik, sebab mereka tidak hanya memainkan musik dan lirik saja namun mereka juga memainkan seni visual. Dari satu panggung ke panggung lainnya FSTVLST kemudian mendapatkan ruang yang luas bagi penggemar baru termasuk saya. Rata-rata penggemar lama tahu mereka dengan nama JENNY, sedangkan penggemar baru hanya tahu FSTVLST yang sekarang. Karena saya cukup kepo terhadap hal-hal yang kagumi, kemudian saya baru tahu kalau FSTVLST adalah perubahan dari JENNY. Seluruh track dalam album HITS KITSCH saya sukai, namun Orang-orang di Kerumunan, Bulan Setan atau Malaikat, dan Ayun Buai Zaman adalah track favorit saya. Masing-masing dari lagu itu begitu dekat dengan keadaan sosial saat ini. Sebagai pendengar merasa terwakili dengan lagu-lagu mereka. 




Setelah HITS KITSCH (2014), kini di tahun 2019 FSTVLST sedang mempersiapkan peluncuran album ke 2 bertajuk FSTVLST II (koreksi jika salah). Dalam album ke 2 ini terdapat 9 track lagu. Bukan FSTVLST namanya jika tak memainkan seni visual dalam album mereka. Sebelum mereka resmi mengumumkan peluncuran album ke 2, dalam akun instagram terlebih dulu mereka mengunggah gambar-gambar ‘aneh’ sampai muncul #akundihack. Kemudian setelah tebak-menebak, akhirnya mereka mengumumkan bahwa album ke 2 mereka akan segera diluncurkan. Cek fstvlst.id untuk infonya. Kali ini sepertinya FSTVLST memainkan simbol-simbol dalam setiap lagunya. Jadi tambah penasaran. 



Sebenarnya album ke 2 mereka sudah ditandai dengan munculnya single berjudul GAS! Yang membuat penggemar mereka senang. Tentu saja dengan demikian, sebagai penggemar kita akan terus menikmati karya-karya mereka. Jangan lupa beli boxsetnya. Nabung!. Nah ada satu lagi yang unik dalam proses peluncuran album ke 2 ini. Kita diarahkan menuju website fstvlst.id dan kita akan mendapatkan akses untuk dapat mengunduh beberapa lagu, namun kita diwajibkan untuk mendaftar terlebih dahulu yang nantinya akan mendapatkan NIF (Nomor Induk Fstvlst). Keren. Nah sesudah itu kita bisa mengunduh beberapa lagu dari mereka. Dalam website tersebut juga terdapat informasi mengenai isi boxset dan waktu kapan kita dapat mengikuti pra-pesan. Ah harus sabar dan nabung biar bisa menebus boxsetnya. 

Perkembangan dunia kreatif di Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan pesat. Pekerjanya sendiri mulai menciptakan inovasi-inovasi guna mendukung proses berkaryanya. Salut. Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih sudah bisa kenal dengan karya-karya FSTVLST dalam album I dan akhirnya memaksa saya untuk kenalan dengan lagu-lagu JENNY, dan selamat datang FSTVLST II. Cheers dulu air beningnya. Heuheu.

Sekian, salam hormat.

Menuju FSTVLST II


Remah - Remah
Kita hanya remah-remah penyemarak
Menambahi sorak sorai
Padahal mesin pembunuh massal sedang dipersiapkan
Atasnama kemakmuran.

Kita hanya memakan remah-remah gula
Dalam toples dan diinjak!
Untuk bumbu kesenangannya

Kepala beradu kepala
Hati beradu hati
Saling pukul
Caci, dan hina.
Padahal mesin pembunuh massal sedang dipersiapkan
Atasnama persamaan

Jaga kewarasan

Remah-Remah

sampingrumahku.com - Jason Ranti dan albumnya yang telah lahir menambah daftar perpustakaan musik di Indonesia terutama pada skena indie. Beberapa tahun kebelakang, skena indie mulai mendapatkan atau lebih tepatnya mempunyai penikmat yang tentu saja ikut meramaikannya. Jason Ranti atau lebih dikenal dengan nama panggung Jeje pun mempunyai fans garis keras yang mempunyai nama Gerombolan Woyoo. Sungguh senang saya sebagai penikmat musik dengan keanekaragaman musik yang berkembang di Indonesia. 

Sebelum memulai solo karir, Jeje mempunyai band yang bernama Stairway to Zinna dimana Jeje menjadi gitaris. Namun, kemudian Jeje mencoba untuk bersolo karir yang membuat namanya kini dikenal melalui karya-karyanya dalam dua album. Akibat Pergaulan Blues dan Blues Lendir (EP). Konon katanya Jeje sedang memasak album berikutnya yang akan rilis pada tahun ini. Semoga dilancarkan ya bang Je!
Lagu-lagu Jeje disebut kental akan kritik terhadap keadaan sosial yang terjadi. Penafsiran terhadap suatu karya memang bermacam-macam dan luar biasa. Saya pribadi menganggap karya Jeje adalah karya yang jenius, ia memainkan kata-kata yang dirangkainya menjadi sebuah 'rapalan'. Sebagai pendengar pula, saya seperti diajak jalan-jalan sembari dijelaskan bahwa ini begini bawah itu begitu. Dari satu lirik dengan lirik lainnya terkadang susah untuk dijelaskan bagaimana lirik-lirik tersebut dapat menjadi kesatuan. Tak jarang lirik-lirik Jeje membuat tersenyum sampai tertawa bagi pendengarnya. Jeje memainkan gitar dan harmonika disetiap dakwahnya (sebutan panggung jeje).

Setelah lahir album pertama, Jeje mengeluarkan EP berjudul Blues Lendir yang dirilis dalam bentuk kaset. Berisi 3 track; Serpihan Lendir Kobra, Blues Lendir, dan Surat. Blues lendiri sendiri menjadi andalan dalam EP ini. Blues lendir mempunyai lirik yang panjang dan naratif (menurut saya). Ia bercerita banyak melalui blues lendir dan ia hafal seluruh lirik panjangnya.

Dalam rilisan kaset Blues Lendir terselip doa, begini doanya:

Doa Seorang Kobra

Tuhan,
Rendahkanlah hatiku
Berkatilah usahaku
Bukakanlah pintu rejeki bagiku
Dan ketika semua sudah terkabul
Jagalah ular dalam celanaku.
Amin
-Jejeboy 

Jeje adalah musisi yang bersahaja dan kocak. Bahkan ia meminta direndahkan hatinya. Dalam setiap panggung dakwahnya selalu membuat tawa untuk penontonya. Cek saja di Youtube dalam beberapa live dakwah panggungnya. Baru-baru ini pula Jeje berkolaborasi dengan salah satu musisi terbaik Iwan Fals dalam konsernya. Salut! 

Panjang umur musisi dan dunia kreatif!

Jason Ranti dan Albumnya

sampingrumahku.com - Teater Perisai adalah sebuah lembaga UKM tingkat kampus yang berasalah dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sebagai lembaga UKM, Teater Perisai mempunyai program kerja studi pentas. Studi pentas adalah pentas bagi 'Warga Baru' alias anggota baru dari Teater Perisai. Bisa dibilang ini adalah proses setelah anggota baru menjalani pendidikan dasar dalam Teater Perisai.


Pada studi pentas kali ini, Teater Perisai mementaskan naskah yang berjudul 'Balada Suta' karya dari Banar Sejati. Naskah ini bercerita tentang legenda Baturaden, yaitu tentang kisah percintaan yang tak direstui antara Putri Wulandari dan Suta. "Konflik dalam naskah ini sebenarnya pada persoalan percintaan, namun ini ku beri tambahan persoalanya lainnya, yaitu pengkhianatan", kata Ayu sutradara dalam studi pentas ini. 

Studi Pentas akan di laksanakan pada Selasa, 9 April 2019 pukul 19.30 WIB. Tiket pementasan ini terdapat 2 macam, yaitu presale Rp 7.000,- dan on the spot Rp 10.000,-. Bertempat di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Kampus I UMP. Silahkan hubungi kontak yang tertera untuk pemesanan tiket pementasan tersebut. Pantau juga sosial medianya di Instagram @teaterperisai untuk update info. 

Studi Pentas Teater Perisai dalam Lakon Balada Suta

sampingrumahku.com - Lupus dan Pilus; dua anak kucing yang ku adopsi dari terminal. Mereka dibuang oleh seseorang tanpa saya tahu alasanya. Ah mungkin banyak alasanya dan saya tidak tahu tentu saja tidak berhak menghakimi orang yang membuang mereka. Mereka sebenarnya adalah empat saudara, namun 2 saudara mereka diadopsi oleh orang lain dan mereka sekarang bergabung dalam keluarga kami. 

Awalnya sedikit ragu alias masih agak sedih kalau-kalau ada kucing di rumah, ya tentu saja semenjak Tikus meninggal. Tapi ku yakinkan diriku buat membawa mereka ke rumah, akhirnya mereka resmi ku bawa. Posisi waktu itu sedang hujan, aku mencari kardus bekas lalu ku masukkan mereka. Untungnya masih kecil, jadi tidak terlalu berontak. Perlahan ku gas sepeda motor menerjang hujan, tapi dengan hati-hati. Sebab ada dua makhluk mungil yang kelak ku beri nama Lupus dan Pilus ini. 

Sampai rumah, cepat-cepat ku buka mantel lalu ku periksa kardusnya. Syukurlah kardus kering. Ku buka pelan-pelan; mereka perlahan keluar. Mencium aroma tempat baru dengan gestur moncong hidung kalau ku sebut 'ngob-ngob' layaknya kucing sedang mencium aroma. Mereka malu-malu untuk keluar dari kardus atau mungkin mereka sedang merasakan jetlag, eh kucing bisa jetlag gak ya?

Nampaknya mereka penasaran dengan tempat baru ini. Kemudian Lupus mulai berlarian kesana kemari, mencium ini dan itu. Sayangnya Pilus masih diam malu-malu, tak apa. Ohya, sebelum ku bawa mereka pulang, sudah ku beli seperangkat pasir dan makanan basah untuk mereka (jaga-jaga aja) hehe. Wah ternyata tubuh mereka penuh KUTU! sebenarnya agak geli merinding disko, melihat kutu sebanyak itu di tubuh kecil anak kucing. Layaknya bayi yang belum tahu harus berbuat apa, mereka berak dan kencing dimanapun mereka suka. Alhasil ruangan tengah bau tokai dan kencing mereka hahaha. Gak papalah kan masih bayi. Tapi mulai ku pusatkan biar bau tidak terlalu menyebar. Ku siapkan pasir dan mereka secara naluri mulai paham tempat dimana harus berak dan kencing.

Setelah beberapa hari di rumah, Ibu memanggil tetangga yang kebetulan juga memelihara kucing banyak. Di madikanlah mereka guna membasmi kutu-kutu. Alhamdulillah kutu banyak yang tumbang, tapi katanya masih ada tapi gak banyak. Tapi tak apalah, lumayan bisa ku bersihkan pelan-pelan. Sekarang mereka adalah bagian dari keluarga kami, duo bocil Lupus dan Pilus setelah Tikus yang sudah bersama Tuannya yang sesungguhnya. 

Rumahku ada kucing lagi!

Lupus dan Pilus

sampingrumahku.com - Okey melanjutkan cerita yang kemarin, Tikus adalah kucing pertama yang dirawat di keluarga kami. Ohya, rumah kami terbilang terpisah dari pemukiman warga alias tidak banyak tetangga. Jadi datangnya Tikus menjadi ikut meramaikan suasana di rumah. 

Keluarga Hewan
Tikus terkadang memakan rumput dan biasanya akan muntah, namun suatu saat dia muntah kuning dan ketika muntah suranya pun begitu parau. Sedih. Sekujur badannya lemas karena kekurangan cairan. Saya mencoba memberinya air hangat yang dicampur madu menurut saran dokter hewan terdekat. Sampai akhirnya saya bawa ke dokter hewan pada suatu pagi. Kemudian sorenya pihak dokter menghubungi kalau Tikus sudah bisa dibawa pulang, sayangnya gak bisa rawat inap. Tikus diberi cairan tepat di tengkuknya sebagai pengganti cairan yang sudah banyak keluar. Sore itu agak gerimis, saya dan sepupu saya naik sepeda motor sambil membawa Tikus di keranjang. Sesampainya di rumah, Tikus begitu lemas saya pun panik dan ini baru pertama kalinya merasa takut kalau-kalau Tikus tidak ada. 

Dia lemas dan masih mengeong seperti biasa, ternyata dia mencret juga. Dalam keadaan lemas, ia memaksakan jalan sambil sempoyongan. Aku hanya bisa menguntitnya dibelakang sambil menahan sedih. Astaga ini hewan pertama yang begitu deakt denganku. Ia memaksa keluar rumah dan mencoba mendatangi tempat dia biasa bersantai ketika siang hari. Karena agak gerimis aku membopongnya kembali ke rumah. Sempat diam beberapa menit di samping Tikus, aku menangis sedih sambil mencoba memberikan madu hangat. Sehabis maghrib saya bergegas ke petshop membeli pakan basah, sampai rumah Tikus masih tidur lemas. Ternyata sewaktu aku pergi ke petshop, Tikus kabur ke tempat yang sama, yaitu tempatnya  bersantai. Ibu kebingungan mencarinya, namun perkiraan ibu benar, kalau Tikus kembali ke tempatnya bersantai. 

Pelan-pelan ku usap tubuh ringkih Tikus, ia mengeong lemas. Namun ada yang berbeda dari suaranya, tambah parau. Mungkin jika Tikus bisa berbicara, dia akan mengatakan sesuatu. Semalam itu tidurku tak nyenyak sama sekali. Tepat pukul 03.00 ibu terbangun dan mengetuk pintu kamarku. Duduk dan berkata lirih, "Dia sudah gak ada". Tikus meniggal. Bingung seketika menyergap dan diam. Bangun, lalu menangis diriku mendapati tubuh Tikus dingin dan kaku di pojokan kursi ruang tengah. Pagi itu terasa berat bagiku, harus kehilangan kawan baru di rumah kami. Tikus di kucing. Sehabis sholat subuh dibantu bapak, aku menguburkan Tikus di belakang rumah.

Terimakasih sudah mampir di rumah kami

-

Perihal lorong-lorong hidup telah Dia bangun masing-masing untuk kita. Kau menelusuri gelap menuju cahaya
-

Sampai jumpa si Kucing kuberi nama Tikus Maghrib, jangan lupakan bau kami, bau dapur ibuk, bau sepeda motorku, hehehe. Dirimu telah kembali pada-Nya, Tuanmu sesungguhnya.

Wonosobo, 25 Desember 2018


 Keluarga Hewan

Terimakasih Allah sudah mengirimkan Tikus si Kucing mampir di rumah kami. Kawan yang mengajari kejujuran dan ketulusan. Bagi sebagian orang, hewan bukan sekedar hewan. Tapi hewan sudah mereka anggap sebagai kawan, dan anggota keluarga mereka sendiri. Layaknya manusia, hewanpun memiliki perasaan. Mereka layak atas hidup mereka dan mendapatkan kasih sayang dari sesama makhluk Tuhan yang lainnya. Kita sebagai manusia yang katanya makhluk 'sempurna' karena bekal akal dan perasaan sudah seharusnya bisa berpikir mana yang baik untuk dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 

Salam :)            

Keluarga Hewan #2

sampingrumahku.com - Bagi sebagian orang memiliki hewan peliharaan adalah salah satu cara untuk menjemput perasaan bahagia. Tak jarang pula kita menemui orang yang begitu sayang terhadap binatang peliharaannya sampai menganggapnya sebagai sahabat bahkan anggota keluarga. Saya salah satunya yang menganggapnya bukan sekedar hewan peliharaan semata.

 Keluarga Hewan

Sekitar dua tahun yang lalu, datanglah seekor kucing jantan yang datangnya cukup mengagetkan sebab ketika pagi-pagi dia kedapatan tidur di teras rumah. Jujur keluargaku belum pernah memelihara  bahkan mengadopsi kucing. Dulu sempat memelihara ayam jawa gitu, tapi itu dulu pas saya masih SD sampai SMP. Tiap pagi dapat tugas membuat pakan ayam dan sorenya bantu cari ayam untuk pulang ke kandang. 

Kembali ke kucing tadi, dia datang ternyata lapar. Ya sudah kami beri makan seadanya kalau tidak salah ada nasi dan tempe goreng, dan ternyata habis ludes. Ohya, kucing ini nantinya saya beri nama Tikus. Dia mulai merayu untuk bisa masuk ke rumah dan tidur di dalam. Namun, waktu itu ibu dan bapak belum mengizinkan, sebab kebetulan adik saya takut dengan kucing. Tapi bukan kucing namanya kalau tidak pandai merayu, akhirnya kami sekeluarga luluh dengan rayuan si Tikus dan adik saya perlahan mulai melawan rasa takutnya. Tikus girang bukan kepalang, akhirnya dia menemukan rumah baru dan keluarga baru. Saya yakin dia punya pemilik sebelumnya, karena ada kalung yang melingkar. Kami coba tanya beberapa orang dan kami coba amati, ternyata Tikus selalu pulang ke rumah kami setiap maghrib tiba. Jadi setelah satu bulan Tikus bersama kami, akhirnya kami memutuskan kalungnya dan Tikus resmi bergabung tapi tidak masuk KK hahaha. 

Bersambung...

Keluarga Hewan

 Mengenang versi Dan Bandung
sampingrumahku.com - Lagu Dan Bandung adalah lagu memoriabel tetang sebuah kota yang bernama Bandung. Ohya lagu Dan Bandung adalah lagu ciptaan Pidi Baiq atau lebih sering dipanggil Ayah Pidi sang pentolan The Panas Dalam. Mengenang versi 'Dan Bandung' menurut saya adalah sebuah sudut pandang cara mencintai sesuatu tapi tak hanya melulu persoalan fisik, tapi lebih dalam dari itu semua. Btw, lagu ini juga masuk sebagai OST film Dilan 1991 yang juga digarap oleh ayah Pidi Baiq.

Ohya ini adalah pemahaman dangkal saya soal lagu Dan Bandung yang bisa dibilang sok tahu hehe padahal saya tidak pernah sekolah atau berdomisili di Bandung. Saya hanya kebetulan suka lagunya dan mencoba menghubungkan dan cocokologi dengan apa yang saya alami di kota perantauan saya di Purwokerto. Bukan tanpa alasan, sebab kota-kota yang pernah kita tinggali untuk waktu yang tidak sebentar adalah bagian dari perjalanan dan tersimpan memori-memori di dalamnya. 

Kira-kira begini lirik awalnya:

Dan Bandung bagiku bukan cuma
Urusan wilayah belaka
Lebih jauh dari itu
Melibatkan perasaan 
yang bersamaku ketika sunyi...

Cukup sederhana kata yang dipakai dalam lirik tersebut dan mudah dipahami (menurut saya), namun maknanya dalam. Kita diberi tahu bahwa memandang sesuatu baiknya tidak hanya berhenti di permukaan, tapi kita harus paham lebih dalam tentang sesuatu itu (sok tahu banget saya ya! wwkwkwkw). Tapi ya begitu yang saya pahami hehehe. 

Kembali ke lagu Dan Bandung. Awal kali mendengar lagu ini, saya secara pribadi serasa dilempar ke ruang lampau untuk menggali lagi kenangan-kenangan di kota Purwokerto tempat saya sekolah. Segala hiruk pikuk dan segala cerita terbangun disini. Jadi jika di lagu tersebut kota Bandung itu bukan melulu soal urusan wilayah dan geografis kali ini kota Purwokerto yang berada pada posisi tersebut. Mungkin bagi orang-orang yang pernah atau tinggal di Bandung atau bahkan asli orang Bandung akan merasa terwakili dengan adanya lagu ini (tenkyu ayah Pidi). Tetapi jauh lebih dari itu, saya memahami bahwa setiap orang memiliki ruang untuk menyimpan segala ingatan dan kenangan yang tidak terlupakan; baik itu buruk ataupun menyenangkan. Mungkin terdengar cengeng atau lebay ya ? Tapi itu sah-sah saja bebas hehehe. Maka berbahagialah orang-orang dengan segala kenangan masa lampaunya, apalagi kenangan yang membahagiakan. Kemudian, tiap-tiap orang juga mempunyai tempat yang berkesan untuk dirinya secara individu yang kemudian itu menjadi kenangannya masing-masing. 

Ohya lagu ini dinyanyikan dalam beberapa versi penyanyi, kebetulan yang saya dengarkan adalah versi Danilla Riyadi feat The Panas Dalam. Lagu tersebut bisa kita dengarkan di Youtube, Spotify dan beberapa kanal musik online lainnya. Dengarkan saja kalau penasaran. 

Mengenang Versi 'Dan Bandung'



 Gendhit n Friends

sampingrumahku.com - Sebelumnya siapa itu Gendhit and Friends ? Jadi mereka ini adalah grup band yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Dipunggawai oleh mas Gendhit, Kiki, dan Nopal kemudian mengudaralah dengan nama Gendhit and Friends. Awalnya mas Gendhit hanya ingin bersolo karir saja, namun sekitar tahun 2013 mas Gendhit bertemu dengan Nopal yang dilihatnya punya semangat untuk berproses musik bersama, kemudian Nopal sebagai bassist mengajak Kiki mengisi kursi drummer untuk melengkapi formasi mereka.

Nampaknya Tuhan merestui pertemuan ketiganya yang kemudian lahir sebuah karya yang datang dari kemantapan hati, sebuah album musik bertajuk Dua Musim. Uniknya materi dalam album ini menurut mas Gendhit sudah ia tulis ketika memilih untuk bersolo karir, kemudian karena berubah menjadi format band yang tentu saja mengubah aransemen yang ada. Sampai akhirnya saya tahu bahwa untuk merampungkan album ini membutuhkan waktu selama empat tahun. Dimulai sejak tahun 2014 dan selesai tahun 2018. Wah!

Album Dua Musim ini sebenarnya sudah mulai beredar pada bulan November 2018, namun perilisan dilaksanakan pada bulan Desember. Bekerjasama dengan UKM Gasebu Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Gendhit and Friends resmi merilis karya ke publik. Album ini merupakan bentuk kolektif karena prosesnya melibatkan kawan-kawan dekat dari mereka. Dari mulai proses rekaman, mixing, pengisian komposisi musik, sampai desain yang menambah ciamik pada album ini. Semangat gotong royong ini harus kita tiru dan apresiasi, karena dukungan-dukungan tersebut sangat mambantu dalam terciptanya sebuah album yang bagus ini.

Berisi 8 track lagu, Dua Musim ini menawarkan wacana untuk menemukan ke Indonesiaan di dalamnya. Judul album Dua Musim ini mengisyaratkan Indonesia, karena memang hanya ada dua musim di Indonesia. 1. Documentary of Song, 2. Tanah Air Nusantara, 3. Rembulan di Balik Awan, 4. Dua Musim, 5. Sampai Saat Semua Berakhir, 6. Bumi Semakin Tua, 7. Lembayung Jingga, 8. Kampung Halaman. Itulah daftar lagu yang ada pada album ini.

Membaca judul-judul yang tersaji membuat saya berimajinasi bahwa setiap judul ini adalah sebuah cerita yang sampaikan oleh Gendhit and Friends. Di awali dengan Documentary of Song, saya dikenalkan dengan musik yang akan mereka bawakan pada satu album ini. Lalu masuk pada Tanah Air Nusantara, saya dikenalkan dan disadarkan bahwa Indonesia begitu luas dan penuh dengan kekayaan dan keindahan alam yang ada. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita hidup di tanah yang begitu kaya, dan wajib kita jaga karena ini adalah tanah kandung kelahiran kita. Masih mendukung pada lagu sebelumnya, lagu Rembulan di Balik Awan juga bercerita (menurut subjektif saya) tentang Indonesia dan segala cerita cintanya. Memasuki lagu yang juga menjadi judul album, yaitu Dua Musim saya dibawa nuansa pedesaan yang sangat kental. Pemilihan nada-nada semakin menguatkan nuansa pedesaan. Lagu ini seakan menjadi tempat untuk rehat sejenak setelah lagu-lagu sebelumnya yang cukup menguras energi. Namun, disini juga saya mendapatkan kenyataan jika kemarau panjang membuat kering sawah, sungai, membakar ilalang dan memaksa makhluk bergelut dengan penderitaan, hanya doa kepada Tuhan yang bisa kita lakukan untuk menurunkan hujan. Doa diijabah, hujan datang menggerus tanah tandus, banjir dan menghanyutkan jiwa. Cemas dan bimbang menggelayut pada setiap makhluk, lalu kita hanya bisa berdoa untuk hujan segera reda. Sudah kewajiban kita untuk menjaga alam supaya musim apapun yang datang tak membuat kita nelangsa.

Tiba pada lagu Sampai Saat Semua Berakhir saya diajak untuk merenung tentang apa-apa yang sudah manusia lakukan. Bahwa untuk bertahan hidup manusia harus bisa belajar dari apapun yang ada, dan juga dimanapun ia berada. Kita harus sadar tentang apapun yang diri kita lakukan sampai saat semua berakhir. Tentu saja ini menjadi refleksi. Sebagai manusia kita harus menjaga lingkungan hidup dan jangan biarkan ketamakan menguasai diri kita sebagai manusia, itu adalah pesan yang saya tangkap pada lagu berikutnya berjudul Bumi Semakin Tua. Konon katanya bumi kita sudah berumur jutaan tahun. Kita hidup di Indonesia sudah seharusnya kita menjaga. Namun, dewasa ini kita banyak mendapati penggundulan hutan, merusak tebing untuk kepentingan pertambangan yang berlebihan. Tentu saja ini akan merusak lingkungan hidup yang sudah ada. Bumi sudah semakin tua ditambah sikap manusia sendiri yang tidak memperhatikan dampak panjang dari perusakan alam ini. Maka ketika dua musim itu datang kita akan digerus, dibinasakan oleh karena ulah kita sendiri yang lalai menjaga alam. Sampai pada lagu Lembayung Jingga yang cukup tenang setelah dikoyak-koyak kenyataan bahwa bumi semakin tua. Saya diajak untuk kembali mawas diri atas semua persoalan yang terjadi. Lembayung jingga juga menurut saya sebuah waktu dimana kita harus sejenak pulang untuk melepaskan beban seharian, mengheningkan diri di dalam kesunyian (baca instropeksi). Kita seharusnya berdoa dan berharap bahwa semua yang terjadi tidak membawa bencana dan nestapa untuk kita. Menutup cerita, Kampung Halaman membawa energi positif luar biasa. Melahirkan semangat dan harapan baru bagi kehidupan kita.

Tulisan di atas adalah penafsiran dangkal saya terhadap 8 lagu yang terdapat dalam album Dua Musim ini dan murni sebagai pandangan subjektif saya sendiri terhadap karya ini.

Lahirnya album ini menurut mas Gendhit adalah kontribusi nyata dirinya dan kawan-kawan yang lain sebagai musisi. Mereka berkarya atas dasar kebutuhan bukan hanya mengejar plus-plusnya saja. Musik juga menjadi media untuk menyalurkan suara-suara kepada masyarakat. Karena mereka musisi, makanya mereka membuat lagu/ album. Menurut mas Gendhit juga bahwa ia berharap dengan lahirnya album ini bisa menjadi sarana silaturahmi dengan siapa saja. Membuka ruang luas untuk bertukar pikiran/ ide, wacana atau apapun itu. Kita juga bisa datang ke Hirataka Music & Art di Banyumas yang mana adalah rumah dari mas Gendhit, kita bisa membeli album Dua Musim dan juga untuk berdiskusi dengan mas Gendhit langsung, sambil ngeteh santai hehe. Sekali lagi ini adalah tulisan yang sifatnya subjektif dan tidak bisa dipertanggungjawabkan keilmuanya (sebab saya tidak mempunyai ilmu yang cukup) wkwkwk.

Salam hormat dari saya,

Menemukan Cerita pada Dua Musim milik Gendhit and Friends.