Kita hanya seorang pengembara pada diri kita
Yang tabah dan tak tabah
Pada kesunyian, keriuhan, kelapangan dada
Kau keliru jika takut sendiri,
Karena pengembara terbiasa sendiri

Ramadhan menjungkirkannya pada masa silam
Ketika kanak, berebut tawa 
Berebut pengeras suara
Berebut stik bedug

Ternyata ia menyaksikan dirinya
Berlarian di surau
Menjelma kanak-kanak
Menjelma haru
Berebut kasih-Nya

Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian
Seorang pengembara telah lahir dan bingung
Ia risau dengan kesunyiannya
Rupanya ia belum sadar;
Penguasa alam ada dalam dalam nadinya
Begitu dekat, melekat

Ia tahu
Masa kanaknya telah usai
Ia berjalan nuju pegunungan sabar
Segara amarah
Langit biru bahagia
Dan jalan kesunyian seorang diri ditemani penguasanya
Sampai ia bertemu kekasihnya.

Ia melangkah pelan
Meraba seperti bayi
Ia tertawa
Menimang masa kanaknya
Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian.

Nyanyian Pengembara

Seorang pelaut sedang tersesat
Ia tak mampu membaca bintang
Terombang-ambing dalam segara
Sunyi pecah oleh riak air

Melamun ia
Menangis dalam terik matari
Puluhan rapalan doa
Telah melumat mulutnya, namun tidak hatinya
Rapalan doa terus mengiringnya

Berharap ia bisa membaca bintang lagi
Sungguh malang ia

Mulanya ia penasaran dengan segara lepas
Ia yakin kalau mampu menaklukannya
Hari berganti bulan
Bulan berganti tahun
Badai pun ia bertahan
Namun petaka datang 
Ketika ia tak mampu membaca bintang dan angin

Takut menyerganya
Sebab ia telah jumawa
Bintang dan angin kabur
Tersisa murung
Pasrah

Ia dikancani camar yang nemplok sedari awal
Sepertinya camar itu tahu kalau ia akan tersesat

Wajahnya kini ditumbuhi rambut
Matanya kosong
Camar yang setia, terbang sesekali dan kembali
Mungkin camar pun sunyi dengan kesendirianya
Ia menangis dan tertidur di teras perahu

Tiba-tiba
Ketika kapal besar membangunkan dalam tidurnya
Berjingkrak, lalu bahagia
Lantas dibakarnya kapal, biar terlihat nahkoda
Ajaib, api itu membawanya pada daratan dan pulang

Camar menguntitnya sampai daratan
Lalu ia terbang bebas, mencari pelaut-pelaut tersesat lainnya.
Sebab ia tak tahan melihat kesendirian seorang pelaut.

Pelaut,Camar dan Api



sampingrumahku.com - Berhenti bermain sosial media?

Mungkin itu adalah yang sedang saya pikirkan matang-matang. Sebab beberapa aktivitas menyangkut dengan sosial media terutama pekerjaan. Kalau tiba-tiba saya berhenti menggunakan sosial media bisa kacau semua pekerjaan. Tapi sosial media saat ini semakin menjadi toxic dalam kehidupan saya belakangan ini.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan aktivitas penggunananya yang semakin banyak dan bebas mengutarakan apa saja. Walaupun pemerintah sudah membuat UU ITE yang digadang-gadang bisa mengontrol sosial media pun nyatanya tidak bisa efektif. Di sisi lain memang cenderung membatasi kebebasan manusia untuk mengeluarkan segala pendapatnya. Tak jarang UU ITE juga digunakan untuk mengkriminalisasi seseorang atas dasar ketidaksukaan.

Namun, konteks yang saya tulis kali ini adalah sosial media yang kian hari kian toxic. Konten-konten yang tersebar di sosial media pun berbagai macam; ada yang sebatas ‘pamer’, caci maki, dll. Tetapi sebenarnya tidak semua negatif. Cuma menurut saya dominasi konten positif kalah populer dengan konten yang ‘negatif’. Mungkin karena ini dunia internet jadi kita harus siap dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. 

Toh kita atau saya tidak bisa menjadi polisi moral bagi semua pengguna internet atau sosial media. Kita hanya bisa menjadi polisi moral untuk diri kita pribadi. 

Bahkan ada yang bilang kalau segala sesuatu yang ada di sosial media hanyalah sebatas pencitraan semata. Hal yang terjadi tidak semuanya sama seperti yang ada di dunia nyata. Saya juga mengamini persoalan tersebut. Tetapi lebih dari itu saya belajar untuk tidak peduli dengan apa-apa yang menurut saya ‘toxic’. Saya belajar untuk berdamai dengan diri saya sendiri sebagai bentuk adaptatif terhadap suatu peristiwa yang sedang saya hadapi. 

Saya terus mengingatkan kepada diri saya pribadi, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. 

Berhenti Bermain Sosial Media ?

sampingrumahku.com - Mencoba menuliskan keresahan pada tubuhku sendiri. Sunyi adalah suatu keadaan tidak ada suara, hening, senyap dan kosong. Terkadang diri kita merasa sunyi, padahal tidak sama sekali.


Tubuhku tak sunyi
Ia berisik pada ujung rambut 
sampai telapak kaki
Memenuhi ruang pikir
Mengisi hati


Keseharian kita sebagai makhluk sosial bisa dibilang akrab dengan kebisingan. Bising menjadi makanan sehari-hari masyarakat kota. Mereka akrab dengan kebisingan suara kendaraan, bising visual papan reklame dan lain sebagainya. Namun saya yang tinggal di desa juga sebenarnya merasakan kebisingan, khususnya di dunia internet. Internet kini bisa dijangkau oleh siapa saja, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun berada. 

Kebisingan ini terjadi pada pikiran saya sendiri akibat dari massifnya penggunaan internet untuk berbagai hal; mungkin termasuk tulisan ini. Setiap harinya saya menggunakan gadget untuk keperluan pekerjaan, hiburan, dan berkomunikasi. Tapi akhir-akhir ini saya merasa bahwa saya sudah terlalu banyak menghabiskan waktu bersama barang-barang tersebut. Sehingga walaupun saya tinggal di desa, pikiran saya mampu untuk menjejalah ruang dan waktu yang jauh. 

Sepertinya saya merasa internet saat ini mulai tidak sehat untuk penggunanya. Sebenarnya saya mempunyai kendali penuh atas diri saya pribadi untuk membatasi diri saya bermain dengan barang-barang tersebut. Tapi sementara ini saya gagal untuk melakukannya. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya menggunakan barang-barang tersebut nyatanya berdampak besar terhadap konsumsi internet. 

Saya menyaksikan keriuhan dalam internet, sebab orang mampu mengkasesnya secara bebas seperti yang sudah saya sampaikan di atas. Orang-orang bebas mengirimkan kabar, foto, keluh kesah, dan doa-doa yang seharusnya mereka utarakan ketika beribadah. Saat ini internet adalah dunia kedua bagi orang-orang. Saya pribadi bisa dibilang sudah kecanduan internet khusunya sosial media. Sosial media kini begitu banyak penggunanya di Indonesia; mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan orang tua. Memang dunia kini berada dalam genggaman, butuh ini tinggal buka internet, belanja ini tinggal buka internet. Saya tidak munafik dengan adanya akses-akses tersebut. Banyak hal bisa kita lakukan dengan internet dan mempermudah segala aktivitas kita. Saya juga menikmatinya. Hanya saja, belakangan ini saya mengeluh pada diri saya sendiri tentang penggunaan internet yang berlebihan. 

Dari pagi sampai malam saya bersentuhan dengan internet. Bangun tidur yang pertama dicari adalah HP hanya untuk sekedar memeriksa notifikasi. Bahkan saya terkadang membawa HP ke dalam toilet hanya untuk menemani ketika saya buang air besar. Saat makan juga terkadang membawa dan memainkannya. Ketika menjelang tidur pun saya sempatkan main HP. Nah hal-hal semacam ini sebenarnya yang menurut saya adalah teror. Hidup saya berasa diteror oleh notifikasi email pekerjaan, notifikasi sosial media dan lain sebagainya. Tidur pun sepertinya hanya sebagai formalitas belaka, karena pikiran saya masih berputar-putar dala internet. Kurang ajar memang! Saya adalah pemilik kuasa atas pikiran dan tubuh saya sendiri harus menyerah pada hebatnya internet dan segala kemudahan yang ditawarkannya. Memang betul, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Sepertinya saya harus mulai mengatur tubuh saya secara utuh untuk dapat berkompromi terhadap waktu, terhadap rakusnya menggunakan internet. Sunyi bagiku saat ini adalah fana, sebab setiap harinya teror internet datang meneror pagiku, makanku, dan tidurku. Batasan memang seharusnya ada untuk menjaga kewarasan. Saya sendiri yang bisa melakukan untuk tubuh saya. Sewajarnya saja itu lebih baik.

Tubuhku Tak Sunyi

sampingrumahku.com - FSTVLST (dibaca FESTIVALIST) adalah band rock asal Yogyakarta yang beranggotakan Farid Stevy, Roby Setiawan, Humam Mufid, Danish Wisnu, dan Rio Faradino. Sebenarnya FSTVLST adalah transformasi JENNY, formasi awal sebelum tercipta FSTVLST. JENNY sendiri telah menelurkan satu album yang diberi nama Manifesto (2009) dan beberapa single sebelum akhirnya bubar dan terbentuk FSTVLST sampai saat ini.



Setelah terbentuk menjadi FSTVLST, mas-mas ini kemudian menelurkan album I dengan nama HITS KITSCH (2014). Menurut Wikipedia, album ini masuk dalam nominasi 20 album terbaik oleh Majalah Rolling Stone. Dalam album HITS KITSCH terdapat 10 track lagu yang saya hafal walaupun tidak hafal semua liriknya hehe. FSTVLST sendiri menurut saya band yang unik, sebab mereka tidak hanya memainkan musik dan lirik saja namun mereka juga memainkan seni visual. Dari satu panggung ke panggung lainnya FSTVLST kemudian mendapatkan ruang yang luas bagi penggemar baru termasuk saya. Rata-rata penggemar lama tahu mereka dengan nama JENNY, sedangkan penggemar baru hanya tahu FSTVLST yang sekarang. Karena saya cukup kepo terhadap hal-hal yang kagumi, kemudian saya baru tahu kalau FSTVLST adalah perubahan dari JENNY. Seluruh track dalam album HITS KITSCH saya sukai, namun Orang-orang di Kerumunan, Bulan Setan atau Malaikat, dan Ayun Buai Zaman adalah track favorit saya. Masing-masing dari lagu itu begitu dekat dengan keadaan sosial saat ini. Sebagai pendengar merasa terwakili dengan lagu-lagu mereka. 




Setelah HITS KITSCH (2014), kini di tahun 2019 FSTVLST sedang mempersiapkan peluncuran album ke 2 bertajuk FSTVLST II (koreksi jika salah). Dalam album ke 2 ini terdapat 9 track lagu. Bukan FSTVLST namanya jika tak memainkan seni visual dalam album mereka. Sebelum mereka resmi mengumumkan peluncuran album ke 2, dalam akun instagram terlebih dulu mereka mengunggah gambar-gambar ‘aneh’ sampai muncul #akundihack. Kemudian setelah tebak-menebak, akhirnya mereka mengumumkan bahwa album ke 2 mereka akan segera diluncurkan. Cek fstvlst.id untuk infonya. Kali ini sepertinya FSTVLST memainkan simbol-simbol dalam setiap lagunya. Jadi tambah penasaran. 



Sebenarnya album ke 2 mereka sudah ditandai dengan munculnya single berjudul GAS! Yang membuat penggemar mereka senang. Tentu saja dengan demikian, sebagai penggemar kita akan terus menikmati karya-karya mereka. Jangan lupa beli boxsetnya. Nabung!. Nah ada satu lagi yang unik dalam proses peluncuran album ke 2 ini. Kita diarahkan menuju website fstvlst.id dan kita akan mendapatkan akses untuk dapat mengunduh beberapa lagu, namun kita diwajibkan untuk mendaftar terlebih dahulu yang nantinya akan mendapatkan NIF (Nomor Induk Fstvlst). Keren. Nah sesudah itu kita bisa mengunduh beberapa lagu dari mereka. Dalam website tersebut juga terdapat informasi mengenai isi boxset dan waktu kapan kita dapat mengikuti pra-pesan. Ah harus sabar dan nabung biar bisa menebus boxsetnya. 

Perkembangan dunia kreatif di Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan pesat. Pekerjanya sendiri mulai menciptakan inovasi-inovasi guna mendukung proses berkaryanya. Salut. Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih sudah bisa kenal dengan karya-karya FSTVLST dalam album I dan akhirnya memaksa saya untuk kenalan dengan lagu-lagu JENNY, dan selamat datang FSTVLST II. Cheers dulu air beningnya. Heuheu.

Sekian, salam hormat.

Menuju FSTVLST II


Remah - Remah
Kita hanya remah-remah penyemarak
Menambahi sorak sorai
Padahal mesin pembunuh massal sedang dipersiapkan
Atasnama kemakmuran.

Kita hanya memakan remah-remah gula
Dalam toples dan diinjak!
Untuk bumbu kesenangannya

Kepala beradu kepala
Hati beradu hati
Saling pukul
Caci, dan hina.
Padahal mesin pembunuh massal sedang dipersiapkan
Atasnama persamaan

Jaga kewarasan

Remah-Remah

sampingrumahku.com - Jason Ranti dan albumnya yang telah lahir menambah daftar perpustakaan musik di Indonesia terutama pada skena indie. Beberapa tahun kebelakang, skena indie mulai mendapatkan atau lebih tepatnya mempunyai penikmat yang tentu saja ikut meramaikannya. Jason Ranti atau lebih dikenal dengan nama panggung Jeje pun mempunyai fans garis keras yang mempunyai nama Gerombolan Woyoo. Sungguh senang saya sebagai penikmat musik dengan keanekaragaman musik yang berkembang di Indonesia. 

Sebelum memulai solo karir, Jeje mempunyai band yang bernama Stairway to Zinna dimana Jeje menjadi gitaris. Namun, kemudian Jeje mencoba untuk bersolo karir yang membuat namanya kini dikenal melalui karya-karyanya dalam dua album. Akibat Pergaulan Blues dan Blues Lendir (EP). Konon katanya Jeje sedang memasak album berikutnya yang akan rilis pada tahun ini. Semoga dilancarkan ya bang Je!
Lagu-lagu Jeje disebut kental akan kritik terhadap keadaan sosial yang terjadi. Penafsiran terhadap suatu karya memang bermacam-macam dan luar biasa. Saya pribadi menganggap karya Jeje adalah karya yang jenius, ia memainkan kata-kata yang dirangkainya menjadi sebuah 'rapalan'. Sebagai pendengar pula, saya seperti diajak jalan-jalan sembari dijelaskan bahwa ini begini bawah itu begitu. Dari satu lirik dengan lirik lainnya terkadang susah untuk dijelaskan bagaimana lirik-lirik tersebut dapat menjadi kesatuan. Tak jarang lirik-lirik Jeje membuat tersenyum sampai tertawa bagi pendengarnya. Jeje memainkan gitar dan harmonika disetiap dakwahnya (sebutan panggung jeje).

Setelah lahir album pertama, Jeje mengeluarkan EP berjudul Blues Lendir yang dirilis dalam bentuk kaset. Berisi 3 track; Serpihan Lendir Kobra, Blues Lendir, dan Surat. Blues lendiri sendiri menjadi andalan dalam EP ini. Blues lendir mempunyai lirik yang panjang dan naratif (menurut saya). Ia bercerita banyak melalui blues lendir dan ia hafal seluruh lirik panjangnya.

Dalam rilisan kaset Blues Lendir terselip doa, begini doanya:

Doa Seorang Kobra

Tuhan,
Rendahkanlah hatiku
Berkatilah usahaku
Bukakanlah pintu rejeki bagiku
Dan ketika semua sudah terkabul
Jagalah ular dalam celanaku.
Amin
-Jejeboy 

Jeje adalah musisi yang bersahaja dan kocak. Bahkan ia meminta direndahkan hatinya. Dalam setiap panggung dakwahnya selalu membuat tawa untuk penontonya. Cek saja di Youtube dalam beberapa live dakwah panggungnya. Baru-baru ini pula Jeje berkolaborasi dengan salah satu musisi terbaik Iwan Fals dalam konsernya. Salut! 

Panjang umur musisi dan dunia kreatif!

Jason Ranti dan Albumnya

sampingrumahku.com - Teater Perisai adalah sebuah lembaga UKM tingkat kampus yang berasalah dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sebagai lembaga UKM, Teater Perisai mempunyai program kerja studi pentas. Studi pentas adalah pentas bagi 'Warga Baru' alias anggota baru dari Teater Perisai. Bisa dibilang ini adalah proses setelah anggota baru menjalani pendidikan dasar dalam Teater Perisai.


Pada studi pentas kali ini, Teater Perisai mementaskan naskah yang berjudul 'Balada Suta' karya dari Banar Sejati. Naskah ini bercerita tentang legenda Baturaden, yaitu tentang kisah percintaan yang tak direstui antara Putri Wulandari dan Suta. "Konflik dalam naskah ini sebenarnya pada persoalan percintaan, namun ini ku beri tambahan persoalanya lainnya, yaitu pengkhianatan", kata Ayu sutradara dalam studi pentas ini. 

Studi Pentas akan di laksanakan pada Selasa, 9 April 2019 pukul 19.30 WIB. Tiket pementasan ini terdapat 2 macam, yaitu presale Rp 7.000,- dan on the spot Rp 10.000,-. Bertempat di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Kampus I UMP. Silahkan hubungi kontak yang tertera untuk pemesanan tiket pementasan tersebut. Pantau juga sosial medianya di Instagram @teaterperisai untuk update info. 

Studi Pentas Teater Perisai dalam Lakon Balada Suta

sampingrumahku.com - Lupus dan Pilus; dua anak kucing yang ku adopsi dari terminal. Mereka dibuang oleh seseorang tanpa saya tahu alasanya. Ah mungkin banyak alasanya dan saya tidak tahu tentu saja tidak berhak menghakimi orang yang membuang mereka. Mereka sebenarnya adalah empat saudara, namun 2 saudara mereka diadopsi oleh orang lain dan mereka sekarang bergabung dalam keluarga kami. 

Awalnya sedikit ragu alias masih agak sedih kalau-kalau ada kucing di rumah, ya tentu saja semenjak Tikus meninggal. Tapi ku yakinkan diriku buat membawa mereka ke rumah, akhirnya mereka resmi ku bawa. Posisi waktu itu sedang hujan, aku mencari kardus bekas lalu ku masukkan mereka. Untungnya masih kecil, jadi tidak terlalu berontak. Perlahan ku gas sepeda motor menerjang hujan, tapi dengan hati-hati. Sebab ada dua makhluk mungil yang kelak ku beri nama Lupus dan Pilus ini. 

Sampai rumah, cepat-cepat ku buka mantel lalu ku periksa kardusnya. Syukurlah kardus kering. Ku buka pelan-pelan; mereka perlahan keluar. Mencium aroma tempat baru dengan gestur moncong hidung kalau ku sebut 'ngob-ngob' layaknya kucing sedang mencium aroma. Mereka malu-malu untuk keluar dari kardus atau mungkin mereka sedang merasakan jetlag, eh kucing bisa jetlag gak ya?

Nampaknya mereka penasaran dengan tempat baru ini. Kemudian Lupus mulai berlarian kesana kemari, mencium ini dan itu. Sayangnya Pilus masih diam malu-malu, tak apa. Ohya, sebelum ku bawa mereka pulang, sudah ku beli seperangkat pasir dan makanan basah untuk mereka (jaga-jaga aja) hehe. Wah ternyata tubuh mereka penuh KUTU! sebenarnya agak geli merinding disko, melihat kutu sebanyak itu di tubuh kecil anak kucing. Layaknya bayi yang belum tahu harus berbuat apa, mereka berak dan kencing dimanapun mereka suka. Alhasil ruangan tengah bau tokai dan kencing mereka hahaha. Gak papalah kan masih bayi. Tapi mulai ku pusatkan biar bau tidak terlalu menyebar. Ku siapkan pasir dan mereka secara naluri mulai paham tempat dimana harus berak dan kencing.

Setelah beberapa hari di rumah, Ibu memanggil tetangga yang kebetulan juga memelihara kucing banyak. Di madikanlah mereka guna membasmi kutu-kutu. Alhamdulillah kutu banyak yang tumbang, tapi katanya masih ada tapi gak banyak. Tapi tak apalah, lumayan bisa ku bersihkan pelan-pelan. Sekarang mereka adalah bagian dari keluarga kami, duo bocil Lupus dan Pilus setelah Tikus yang sudah bersama Tuannya yang sesungguhnya. 

Rumahku ada kucing lagi!

Lupus dan Pilus

sampingrumahku.com - Okey melanjutkan cerita yang kemarin, Tikus adalah kucing pertama yang dirawat di keluarga kami. Ohya, rumah kami terbilang terpisah dari pemukiman warga alias tidak banyak tetangga. Jadi datangnya Tikus menjadi ikut meramaikan suasana di rumah. 

Keluarga Hewan
Tikus terkadang memakan rumput dan biasanya akan muntah, namun suatu saat dia muntah kuning dan ketika muntah suranya pun begitu parau. Sedih. Sekujur badannya lemas karena kekurangan cairan. Saya mencoba memberinya air hangat yang dicampur madu menurut saran dokter hewan terdekat. Sampai akhirnya saya bawa ke dokter hewan pada suatu pagi. Kemudian sorenya pihak dokter menghubungi kalau Tikus sudah bisa dibawa pulang, sayangnya gak bisa rawat inap. Tikus diberi cairan tepat di tengkuknya sebagai pengganti cairan yang sudah banyak keluar. Sore itu agak gerimis, saya dan sepupu saya naik sepeda motor sambil membawa Tikus di keranjang. Sesampainya di rumah, Tikus begitu lemas saya pun panik dan ini baru pertama kalinya merasa takut kalau-kalau Tikus tidak ada. 

Dia lemas dan masih mengeong seperti biasa, ternyata dia mencret juga. Dalam keadaan lemas, ia memaksakan jalan sambil sempoyongan. Aku hanya bisa menguntitnya dibelakang sambil menahan sedih. Astaga ini hewan pertama yang begitu deakt denganku. Ia memaksa keluar rumah dan mencoba mendatangi tempat dia biasa bersantai ketika siang hari. Karena agak gerimis aku membopongnya kembali ke rumah. Sempat diam beberapa menit di samping Tikus, aku menangis sedih sambil mencoba memberikan madu hangat. Sehabis maghrib saya bergegas ke petshop membeli pakan basah, sampai rumah Tikus masih tidur lemas. Ternyata sewaktu aku pergi ke petshop, Tikus kabur ke tempat yang sama, yaitu tempatnya  bersantai. Ibu kebingungan mencarinya, namun perkiraan ibu benar, kalau Tikus kembali ke tempatnya bersantai. 

Pelan-pelan ku usap tubuh ringkih Tikus, ia mengeong lemas. Namun ada yang berbeda dari suaranya, tambah parau. Mungkin jika Tikus bisa berbicara, dia akan mengatakan sesuatu. Semalam itu tidurku tak nyenyak sama sekali. Tepat pukul 03.00 ibu terbangun dan mengetuk pintu kamarku. Duduk dan berkata lirih, "Dia sudah gak ada". Tikus meniggal. Bingung seketika menyergap dan diam. Bangun, lalu menangis diriku mendapati tubuh Tikus dingin dan kaku di pojokan kursi ruang tengah. Pagi itu terasa berat bagiku, harus kehilangan kawan baru di rumah kami. Tikus di kucing. Sehabis sholat subuh dibantu bapak, aku menguburkan Tikus di belakang rumah.

Terimakasih sudah mampir di rumah kami

-

Perihal lorong-lorong hidup telah Dia bangun masing-masing untuk kita. Kau menelusuri gelap menuju cahaya
-

Sampai jumpa si Kucing kuberi nama Tikus Maghrib, jangan lupakan bau kami, bau dapur ibuk, bau sepeda motorku, hehehe. Dirimu telah kembali pada-Nya, Tuanmu sesungguhnya.

Wonosobo, 25 Desember 2018


 Keluarga Hewan

Terimakasih Allah sudah mengirimkan Tikus si Kucing mampir di rumah kami. Kawan yang mengajari kejujuran dan ketulusan. Bagi sebagian orang, hewan bukan sekedar hewan. Tapi hewan sudah mereka anggap sebagai kawan, dan anggota keluarga mereka sendiri. Layaknya manusia, hewanpun memiliki perasaan. Mereka layak atas hidup mereka dan mendapatkan kasih sayang dari sesama makhluk Tuhan yang lainnya. Kita sebagai manusia yang katanya makhluk 'sempurna' karena bekal akal dan perasaan sudah seharusnya bisa berpikir mana yang baik untuk dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 

Salam :)            

Keluarga Hewan #2

sampingrumahku.com - Bagi sebagian orang memiliki hewan peliharaan adalah salah satu cara untuk menjemput perasaan bahagia. Tak jarang pula kita menemui orang yang begitu sayang terhadap binatang peliharaannya sampai menganggapnya sebagai sahabat bahkan anggota keluarga. Saya salah satunya yang menganggapnya bukan sekedar hewan peliharaan semata.

 Keluarga Hewan

Sekitar dua tahun yang lalu, datanglah seekor kucing jantan yang datangnya cukup mengagetkan sebab ketika pagi-pagi dia kedapatan tidur di teras rumah. Jujur keluargaku belum pernah memelihara  bahkan mengadopsi kucing. Dulu sempat memelihara ayam jawa gitu, tapi itu dulu pas saya masih SD sampai SMP. Tiap pagi dapat tugas membuat pakan ayam dan sorenya bantu cari ayam untuk pulang ke kandang. 

Kembali ke kucing tadi, dia datang ternyata lapar. Ya sudah kami beri makan seadanya kalau tidak salah ada nasi dan tempe goreng, dan ternyata habis ludes. Ohya, kucing ini nantinya saya beri nama Tikus. Dia mulai merayu untuk bisa masuk ke rumah dan tidur di dalam. Namun, waktu itu ibu dan bapak belum mengizinkan, sebab kebetulan adik saya takut dengan kucing. Tapi bukan kucing namanya kalau tidak pandai merayu, akhirnya kami sekeluarga luluh dengan rayuan si Tikus dan adik saya perlahan mulai melawan rasa takutnya. Tikus girang bukan kepalang, akhirnya dia menemukan rumah baru dan keluarga baru. Saya yakin dia punya pemilik sebelumnya, karena ada kalung yang melingkar. Kami coba tanya beberapa orang dan kami coba amati, ternyata Tikus selalu pulang ke rumah kami setiap maghrib tiba. Jadi setelah satu bulan Tikus bersama kami, akhirnya kami memutuskan kalungnya dan Tikus resmi bergabung tapi tidak masuk KK hahaha. 

Bersambung...

Keluarga Hewan

 Mengenang versi Dan Bandung
sampingrumahku.com - Lagu Dan Bandung adalah lagu memoriabel tetang sebuah kota yang bernama Bandung. Ohya lagu Dan Bandung adalah lagu ciptaan Pidi Baiq atau lebih sering dipanggil Ayah Pidi sang pentolan The Panas Dalam. Mengenang versi 'Dan Bandung' menurut saya adalah sebuah sudut pandang cara mencintai sesuatu tapi tak hanya melulu persoalan fisik, tapi lebih dalam dari itu semua. Btw, lagu ini juga masuk sebagai OST film Dilan 1991 yang juga digarap oleh ayah Pidi Baiq.

Ohya ini adalah pemahaman dangkal saya soal lagu Dan Bandung yang bisa dibilang sok tahu hehe padahal saya tidak pernah sekolah atau berdomisili di Bandung. Saya hanya kebetulan suka lagunya dan mencoba menghubungkan dan cocokologi dengan apa yang saya alami di kota perantauan saya di Purwokerto. Bukan tanpa alasan, sebab kota-kota yang pernah kita tinggali untuk waktu yang tidak sebentar adalah bagian dari perjalanan dan tersimpan memori-memori di dalamnya. 

Kira-kira begini lirik awalnya:

Dan Bandung bagiku bukan cuma
Urusan wilayah belaka
Lebih jauh dari itu
Melibatkan perasaan 
yang bersamaku ketika sunyi...

Cukup sederhana kata yang dipakai dalam lirik tersebut dan mudah dipahami (menurut saya), namun maknanya dalam. Kita diberi tahu bahwa memandang sesuatu baiknya tidak hanya berhenti di permukaan, tapi kita harus paham lebih dalam tentang sesuatu itu (sok tahu banget saya ya! wwkwkwkw). Tapi ya begitu yang saya pahami hehehe. 

Kembali ke lagu Dan Bandung. Awal kali mendengar lagu ini, saya secara pribadi serasa dilempar ke ruang lampau untuk menggali lagi kenangan-kenangan di kota Purwokerto tempat saya sekolah. Segala hiruk pikuk dan segala cerita terbangun disini. Jadi jika di lagu tersebut kota Bandung itu bukan melulu soal urusan wilayah dan geografis kali ini kota Purwokerto yang berada pada posisi tersebut. Mungkin bagi orang-orang yang pernah atau tinggal di Bandung atau bahkan asli orang Bandung akan merasa terwakili dengan adanya lagu ini (tenkyu ayah Pidi). Tetapi jauh lebih dari itu, saya memahami bahwa setiap orang memiliki ruang untuk menyimpan segala ingatan dan kenangan yang tidak terlupakan; baik itu buruk ataupun menyenangkan. Mungkin terdengar cengeng atau lebay ya ? Tapi itu sah-sah saja bebas hehehe. Maka berbahagialah orang-orang dengan segala kenangan masa lampaunya, apalagi kenangan yang membahagiakan. Kemudian, tiap-tiap orang juga mempunyai tempat yang berkesan untuk dirinya secara individu yang kemudian itu menjadi kenangannya masing-masing. 

Ohya lagu ini dinyanyikan dalam beberapa versi penyanyi, kebetulan yang saya dengarkan adalah versi Danilla Riyadi feat The Panas Dalam. Lagu tersebut bisa kita dengarkan di Youtube, Spotify dan beberapa kanal musik online lainnya. Dengarkan saja kalau penasaran. 

Mengenang Versi 'Dan Bandung'



 Gendhit n Friends

sampingrumahku.com - Sebelumnya siapa itu Gendhit and Friends ? Jadi mereka ini adalah grup band yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Dipunggawai oleh mas Gendhit, Kiki, dan Nopal kemudian mengudaralah dengan nama Gendhit and Friends. Awalnya mas Gendhit hanya ingin bersolo karir saja, namun sekitar tahun 2013 mas Gendhit bertemu dengan Nopal yang dilihatnya punya semangat untuk berproses musik bersama, kemudian Nopal sebagai bassist mengajak Kiki mengisi kursi drummer untuk melengkapi formasi mereka.

Nampaknya Tuhan merestui pertemuan ketiganya yang kemudian lahir sebuah karya yang datang dari kemantapan hati, sebuah album musik bertajuk Dua Musim. Uniknya materi dalam album ini menurut mas Gendhit sudah ia tulis ketika memilih untuk bersolo karir, kemudian karena berubah menjadi format band yang tentu saja mengubah aransemen yang ada. Sampai akhirnya saya tahu bahwa untuk merampungkan album ini membutuhkan waktu selama empat tahun. Dimulai sejak tahun 2014 dan selesai tahun 2018. Wah!

Album Dua Musim ini sebenarnya sudah mulai beredar pada bulan November 2018, namun perilisan dilaksanakan pada bulan Desember. Bekerjasama dengan UKM Gasebu Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Gendhit and Friends resmi merilis karya ke publik. Album ini merupakan bentuk kolektif karena prosesnya melibatkan kawan-kawan dekat dari mereka. Dari mulai proses rekaman, mixing, pengisian komposisi musik, sampai desain yang menambah ciamik pada album ini. Semangat gotong royong ini harus kita tiru dan apresiasi, karena dukungan-dukungan tersebut sangat mambantu dalam terciptanya sebuah album yang bagus ini.

Berisi 8 track lagu, Dua Musim ini menawarkan wacana untuk menemukan ke Indonesiaan di dalamnya. Judul album Dua Musim ini mengisyaratkan Indonesia, karena memang hanya ada dua musim di Indonesia. 1. Documentary of Song, 2. Tanah Air Nusantara, 3. Rembulan di Balik Awan, 4. Dua Musim, 5. Sampai Saat Semua Berakhir, 6. Bumi Semakin Tua, 7. Lembayung Jingga, 8. Kampung Halaman. Itulah daftar lagu yang ada pada album ini.

Membaca judul-judul yang tersaji membuat saya berimajinasi bahwa setiap judul ini adalah sebuah cerita yang sampaikan oleh Gendhit and Friends. Di awali dengan Documentary of Song, saya dikenalkan dengan musik yang akan mereka bawakan pada satu album ini. Lalu masuk pada Tanah Air Nusantara, saya dikenalkan dan disadarkan bahwa Indonesia begitu luas dan penuh dengan kekayaan dan keindahan alam yang ada. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita hidup di tanah yang begitu kaya, dan wajib kita jaga karena ini adalah tanah kandung kelahiran kita. Masih mendukung pada lagu sebelumnya, lagu Rembulan di Balik Awan juga bercerita (menurut subjektif saya) tentang Indonesia dan segala cerita cintanya. Memasuki lagu yang juga menjadi judul album, yaitu Dua Musim saya dibawa nuansa pedesaan yang sangat kental. Pemilihan nada-nada semakin menguatkan nuansa pedesaan. Lagu ini seakan menjadi tempat untuk rehat sejenak setelah lagu-lagu sebelumnya yang cukup menguras energi. Namun, disini juga saya mendapatkan kenyataan jika kemarau panjang membuat kering sawah, sungai, membakar ilalang dan memaksa makhluk bergelut dengan penderitaan, hanya doa kepada Tuhan yang bisa kita lakukan untuk menurunkan hujan. Doa diijabah, hujan datang menggerus tanah tandus, banjir dan menghanyutkan jiwa. Cemas dan bimbang menggelayut pada setiap makhluk, lalu kita hanya bisa berdoa untuk hujan segera reda. Sudah kewajiban kita untuk menjaga alam supaya musim apapun yang datang tak membuat kita nelangsa.

Tiba pada lagu Sampai Saat Semua Berakhir saya diajak untuk merenung tentang apa-apa yang sudah manusia lakukan. Bahwa untuk bertahan hidup manusia harus bisa belajar dari apapun yang ada, dan juga dimanapun ia berada. Kita harus sadar tentang apapun yang diri kita lakukan sampai saat semua berakhir. Tentu saja ini menjadi refleksi. Sebagai manusia kita harus menjaga lingkungan hidup dan jangan biarkan ketamakan menguasai diri kita sebagai manusia, itu adalah pesan yang saya tangkap pada lagu berikutnya berjudul Bumi Semakin Tua. Konon katanya bumi kita sudah berumur jutaan tahun. Kita hidup di Indonesia sudah seharusnya kita menjaga. Namun, dewasa ini kita banyak mendapati penggundulan hutan, merusak tebing untuk kepentingan pertambangan yang berlebihan. Tentu saja ini akan merusak lingkungan hidup yang sudah ada. Bumi sudah semakin tua ditambah sikap manusia sendiri yang tidak memperhatikan dampak panjang dari perusakan alam ini. Maka ketika dua musim itu datang kita akan digerus, dibinasakan oleh karena ulah kita sendiri yang lalai menjaga alam. Sampai pada lagu Lembayung Jingga yang cukup tenang setelah dikoyak-koyak kenyataan bahwa bumi semakin tua. Saya diajak untuk kembali mawas diri atas semua persoalan yang terjadi. Lembayung jingga juga menurut saya sebuah waktu dimana kita harus sejenak pulang untuk melepaskan beban seharian, mengheningkan diri di dalam kesunyian (baca instropeksi). Kita seharusnya berdoa dan berharap bahwa semua yang terjadi tidak membawa bencana dan nestapa untuk kita. Menutup cerita, Kampung Halaman membawa energi positif luar biasa. Melahirkan semangat dan harapan baru bagi kehidupan kita.

Tulisan di atas adalah penafsiran dangkal saya terhadap 8 lagu yang terdapat dalam album Dua Musim ini dan murni sebagai pandangan subjektif saya sendiri terhadap karya ini.

Lahirnya album ini menurut mas Gendhit adalah kontribusi nyata dirinya dan kawan-kawan yang lain sebagai musisi. Mereka berkarya atas dasar kebutuhan bukan hanya mengejar plus-plusnya saja. Musik juga menjadi media untuk menyalurkan suara-suara kepada masyarakat. Karena mereka musisi, makanya mereka membuat lagu/ album. Menurut mas Gendhit juga bahwa ia berharap dengan lahirnya album ini bisa menjadi sarana silaturahmi dengan siapa saja. Membuka ruang luas untuk bertukar pikiran/ ide, wacana atau apapun itu. Kita juga bisa datang ke Hirataka Music & Art di Banyumas yang mana adalah rumah dari mas Gendhit, kita bisa membeli album Dua Musim dan juga untuk berdiskusi dengan mas Gendhit langsung, sambil ngeteh santai hehe. Sekali lagi ini adalah tulisan yang sifatnya subjektif dan tidak bisa dipertanggungjawabkan keilmuanya (sebab saya tidak mempunyai ilmu yang cukup) wkwkwk.

Salam hormat dari saya,

Menemukan Cerita pada Dua Musim milik Gendhit and Friends.

 Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua


sampingrumahku.com - Sesuai dengan judul tulisan ini, Bin Idris alias Haikal Azizi telah bercerita dengan Anjing Tua (baca: album ke 2 Bin Idris) yang dikemas secara apik menurut saya. Walaupun Haikal sendiri mengatakan bahwa Anjing Tua adalah album yang dikerjakannya secara gegabah (gegabah saja hasilnya begini, bagaimana kalau direncanakan dengan matang hehe). Tetapi saya yakin album ini dibalik ketergesaan album ini, Haikal adalah peramu nada dan lirik yang ciamik.


 Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua


FYI untuk yang belum mengetahui, Bin Idris sendiri adalah proyek solo dari Haikal Azizi sang vokalis band Sigmun. Dalam project ini pula Haikal telah merilis 2 album yang dirilis dalam jangka waktu yang tak lama. Album-album yang telah dirilis terdiri dari Bin Idris (2016), dan Anjing Tua (2018). Hal ini menunjukan produktifitas Haikal dengan proyek solonya ini.

Dalam album Anjing Tua ini terdapat 7 track lagu sebagai materinya. Diawali dengan lagu Anjing Tua, Anak Panah, Hari Sudah Petang. Kemudian dilanjut dengan lagu Rukun Warga, Pulang Kampung, Tenggelam, dan Raya sebagai lagu penutup pada album ini. Menurut Haikal sendiri, materi dalam album ini sebagian besar hadir karena alasan sepele, yaitu gitar akustik baru.  Cukup menarik memang, hanya dengan mempunyai gitar akustik baru kemudian melahirkan semangat untuk mengabadikan suara gitar tersebut dalam bentuk album dan kalau meminjam istilah yang dipakai Haikal adalah mengumbar suara gitar baru. 


 Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua


Dari ke 7 track dalam album ini yang menarik perhatian saya sebagai pendengar yaitu, Rukun Warga. Alasanya cukup sederhana, lagu ini cukup dan cenderung sangat dekat dengan keadaan Indonesia saat ini. Terlebih lagi lagu ini sudah rilis video clipnya di Youtube. Cukup menjadi sentilan untuk pribadi saya sendiri sebagai pendengar, dimana kita harus bisa menjaga kerukunan antar sesama manusia. Namun menurut saya, Bin Idris sendiri tidak berbicara terlalu jauh alias tidak muluk-muluk berbicara soal itu. Ia mengambil lingkup kecil dari hubungan sosial masyarakat yang ada, yaitu rukun warga. Ini menjadi menarik bagi saya juga menjadi pengingat bagi saya sendiri "sebelum merubah hal yang besar, kita harus merubah hal yang dianggap sepele". Sudah seyogyanya kita saling menjaga kerukunan, perdamaian karena kita berbagi bumi dan matahari yang sama.

Namun untuk keseluruhan track dalam album ini sangat easy listening dan bisa dijadikan teman saat melakukan perjalanan. Ada tambahan alat musik Udu yang menemari petikan gitar dari Haikal terdapat di lagu Anjing Tua, dan Rukun Warga. 

Kemudian menurut hemat saya, memahami lagu guna menangkap pesan itu ada keunikan dan kejutan-kejutannya sendiri dari karya yang tersaji. Lagu dengan lirik-lirik unik ini memberi ruang yang luas untuk kita mengartikan dan memahami maknanya, walaupun si pemilik karya ini mengganggap karyanya 'tak' mempunyai makna. Ohya, album ini bisa kita nikmati di Spotify dan Haikal pun merilisnya dalam bentuk fisik kaset. Panjang umur rilisan fisik musik dan dunia musik tanah air.

Bin Idris Berkisah dengan Anjing Tua