sampingrumahku.com - Tulisan ini bercerita tentang Ramadhan, Pulang dan Kesunyiamn bukan tentang keluh kesah atau serupanya. Hanya curahan perasaan pribadi dan sebuah respon atas apa yang saya alami. 

Sejak merantau untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 2010-2016 saya meninggalkan desa tempat saya tinggal. Meninggalkan kebiasaaan, meninggalkan keramahan, keakraban dengan kawan-kawan semasa kecil beserta lingkungannya. Karena tuntutan kuliah dan kegiatan lainnya membuat saya tidak banyak meluangkan waktu untuk pulang, ditambah lokasi rumah yang memisah dari desa membuat saya semakin 'menjauh' dari sosial masyarakat di desa. Banyak peristiwa terlewatkan begitu saja, padahal seharusnya saya lebih bisa untuk membaur nyatanya saya gagal. 

2016-2018 adalah tahun terberat dalam proses adaptasi dengan lingkungan desa yang saya tinggalkan. Kawan-kawan sudah banyak yang menikah, orientasi banyak berubah, bahkan untuk urusan bercanda saja saya kewalahan untuk mengikutinya. Tatapan aneh sering saya jumpai, saya maklum dengan itu. 

2019 kali ini saya tak boleh gagal untuk ikut membaur dalam keriuhan desa, apapun itu. 

Bulan ramadhan menjadi tonggak ketika saya memaksa melibatkan diri dalam kegiatan menyambut idul fitri 1440 H. Tepatnya pertengahan puasa, ada sepucuk surat undangan untuk rapat pemuda masjid guna membahas acara yang tadi saya sebutkan. 

Pulang kali ini membawa perasaan dan pengalaman yang lama saya tinggalkan. Masa kecil pun tiba-tiba melintas begitu saja. Sedih. Bukan saya merasa tua, saya masih muda! baru 27 tahun hahaha. Tapi saya masa kecil begitu riuh ketika ramadhan tiba. Ternyata waktu begitu cepat berlari meninggalkan kita yang sibuk dengan kefanaan. Sesal jelas ada, hanya saja saya tak pantas untuk terus berkubang pada sesal itu. 

Diri saya berhasil saya paksa untuk kembali pulang pada desa, berbaur dengan masyarakat desa saya. 

Malam takbiran berjalan lancar. Seperti biasa, pawai obor dan lampion menjadi agenda wajib di desa saat malam takbiran. Rasanya begitu lama saya tidak merasakan keriuhan dalam menyambut malam takbiran. Ada haru yang tidak bisa saya jelaskan, hanya bisa bersyukur.

Ramadhan, Pulang, dan Kesunyian


sampingrumahku.com - Tulisan ini bercerita tentang Ramadhan, Pulang dan Kesunyiamn bukan tentang keluh kesah atau serupanya. Hanya curahan perasaan pribadi dan sebuah respon atas apa yang saya alami. 

Sejak merantau untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 2010-2016 saya meninggalkan desa tempat saya tinggal. Meninggalkan kebiasaaan, meninggalkan keramahan, keakraban dengan kawan-kawan semasa kecil beserta lingkungannya. Karena tuntutan kuliah dan kegiatan lainnya membuat saya tidak banyak meluangkan waktu untuk pulang, ditambah lokasi rumah yang memisah dari desa membuat saya semakin 'menjauh' dari sosial masyarakat di desa. Banyak peristiwa terlewatkan begitu saja, padahal seharusnya saya lebih bisa untuk membaur nyatanya saya gagal. 

2016-2018 adalah tahun terberat dalam proses adaptasi dengan lingkungan desa yang saya tinggalkan. Kawan-kawan sudah banyak yang menikah, orientasi banyak berubah, bahkan untuk urusan bercanda saja saya kewalahan untuk mengikutinya. Tatapan aneh sering saya jumpai, saya maklum dengan itu. 

2019 kali ini saya tak boleh gagal untuk ikut membaur dalam keriuhan desa, apapun itu. 

Bulan ramadhan menjadi tonggak ketika saya memaksa melibatkan diri dalam kegiatan menyambut idul fitri 1440 H. Tepatnya pertengahan puasa, ada sepucuk surat undangan untuk rapat pemuda masjid guna membahas acara yang tadi saya sebutkan. 

Pulang kali ini membawa perasaan dan pengalaman yang lama saya tinggalkan. Masa kecil pun tiba-tiba melintas begitu saja. Sedih. Bukan saya merasa tua, saya masih muda! baru 27 tahun hahaha. Tapi saya masa kecil begitu riuh ketika ramadhan tiba. Ternyata waktu begitu cepat berlari meninggalkan kita yang sibuk dengan kefanaan. Sesal jelas ada, hanya saja saya tak pantas untuk terus berkubang pada sesal itu. 

Diri saya berhasil saya paksa untuk kembali pulang pada desa, berbaur dengan masyarakat desa saya. 

Malam takbiran berjalan lancar. Seperti biasa, pawai obor dan lampion menjadi agenda wajib di desa saat malam takbiran. Rasanya begitu lama saya tidak merasakan keriuhan dalam menyambut malam takbiran. Ada haru yang tidak bisa saya jelaskan, hanya bisa bersyukur.

No comments