Halaman

    Social Items


Hari begitu terik
Ketika musafir paruh bulan bertamu
pada padang pasir beroase.
Pikirnya sudah ia mengelilingi separuh dunia
Nyatanya hanya baru paruh bulan
Dan padang pasir mengisapnya pada jalan panjang kesunyian.

Perihal sunyi, kita adalah kesunyian itu sendiri
Padang pasir menghisapnya
Tangan timbul tenggelam pada ujung rumah matari
Di sambutnya tangan kekar
Ia dihampiri kesunyian lain yang begitu terang.

Kemudian ia terbayang masa kecilnya,
Lalu ingat perkataan guru,"fatamorgana itu benar-benar ada, seperti dunia"
Kelak kau akan paham.

Wonosobo, 13 Mei 2020

Musafir Menepi di Padang Pasir








sampingrumahku.com - "Sepeda laki kok pake keranjang, kaya sepeda cewek saja!", celetuk seorang teman.
  
Wah masih banyak lagi celetukan teman-temanku tentang sepedaku ini. Yah, belum tahu saja dia kalau sepedaku ini begitu keren. Ya, setidaknya menurutku. Maklum kalau soal selera mah enggak bisa diadu. Kenapa keren? sepeda ini produksi dalam negeri lho dan sudah tidak diproduksi lagi. Jadul sih, tapi rela bagi-bagi? enggak lah! haha. Tapi kali ini aku tidak ingin membahas soal sepeda federal ku ini. Soalnya aku ingin membahas tentang aksesoris keranjang sepeda. 

Mereknya Summersun, produk dalam negeri (lagi) yang aku pilih untuk melengkapi ke-manisan dari sepeda yang aku pakai setiap hari. Kota Bekasi adalah kota dimana keranjang ini berasal, jauh dari tempat tinggal ku di Wonosobo. Tapi karena sekarang jamannya pasar online jadi memudahkan nih untuk menjangkaunya; pesan, transfer, sampe deh barangnya di rumah. Sesimpel itu. Keranjang ini ku beli sekitar pertengahan Maret 2020 dan masih ku pakai sampai sekarang. Sebenarnya ini keranjang Summersun ku yang kedua, soalnya yang pertama dibeli oleh seorang teman (eh lebih tepatnya ku jual) hahaha. Alasanku kenapa memilih keranjang dari Summersun karena secara desain dan bahan bagus. Apalagi ini produk dalam negeri. Kita harus dukung movement ini. 

Sepeda dan Keranjang Summersun di Telaga Menjer

Tahu gak sih? Keranjang ini punya nama lho. Pony Basket, lucu juga ya namanya. Keranjang ini terbuat dari bahan yang gak tahu namanya, mungkin semacam besi pipa gitu kali ya. Dimensinya P= 37 cm, L= 25 cm, dan T= 12 cm cukup untuk menampung barang-barang yang aku bawa saat bersepeda. Ada dua jenis finishing di keranjang ini. Pertama warna hitam dan yang kedua chrome. Tentu saja aku pilih yang chrome biar keliatan mengkilat tapi tidak sejatam silet. Keranjang ini juga rapi dan terlihat proporsional ketika dipasang di sepeda. Nah, seperti yang udah aku katakan di atas. Keranjang ini bisa menampung banyak barang yang ku butuhkan ketika bersepeda. Misalnya, Minggu lalu saat gaya-gayaan bersepeda sendiri sambil ngopi di Telaga Menjer. Tentu saja keranjang ini bisa diandalkan. Beberapa peralatan menyeduh kopi ditampungnya dengan rapi. Keren Summersun!. Keranjang ini bisa dibeli via Bukalapak dan adminnya ramah banget. Bisa diajak ngobrol dan sangat menerima saran dan kritik dengan terbuka dan yang penting ramah. Recommended. Selain di Bukalapak, di akun instagramnya @summersunid kita bisa memantau produk-produk terbaru dari mereka. Kebetulan bakal ada produk terbaru, yaitu rak sepeda yang nantinya bisa dipasangkan dan sekaligus menjadi pasangan dari keranjang yang sudah diproduksi sebelumnya.

Sebenarnya aku tidak peduli orang mau menyebut apapun tentang sepedaku ini. Bodo amat. "Tidak penting sepedanya apa, yang penting bersepedanya", kata orang-orang. Betul tuh, betul banget. Terserah, apapun jenis sepedamu yang penting olahraga sebelum negara api menyerang hahaha. Akhir kalimat, terimakasih Summersun keranjang anda keren.

Menggunakan Keranjang Summersun dan Pengalamanya

http://www.sampingrumahku.com/2020/03/bersepeda-ke-telaga-menjer-wonosobo.html

 

15 Maret 2020

sampingrumahku.com - Hari Minggu tepatnya ketika saya memutuskan untuk bersepeda ke Telaga Menjer, Garung Wonosobo. Jarak dari rumah kurang lebih 20 km dengan kontur didominasi jalanan menanjak. Sebenarnya tujuan kali ini sudah saya rencanakan beberapa waktu sebelumnya, hingga akhirnya saya bisa mewujudkannya pada hari Minggu, 15 Maret 2020.

Ohya, sekarang saya punya kegemaran baru, yaitu bersepeda. Yap! bersepeda. Duh rasanya jadi ingat waktu kecil dulu ketika dibelikan bapak sebuah sepeda yang ku kayuh dengan riang. Itung-itung nostalgia. 

Perjalanan tempo hari saya persiapkan satu hari sebelumnya sebab bersepeda ke telaga Menjer bukan hanya sekedar bersepeda. Beberapa alat seperti kompor outdoor, air mineral, alat seduh kopi, panci outdoor dan tentu saja beberapa tools yang berhubungan dengan sepeda. Kali ini saya ingin ngopi di telaga Menjer yang pemandanganya aduhai syahduhnya!. Kebetulan saya sendiri waktu itu, jadi agak santai dibuatnya. 

Perjalanan saya mulai pukul 05.00 selepas melaksanakan ibadah. Kelengkapan sudah siap semua termasuk baterai (senter) untuk penerangan di jalan, sebab saat saya berangkat jalan masih gelap. Pelan namun pasti ku kayuh sepeda dengan bawaan cukup di keranjang depan. Lokasi rumah saya memang didominasi dengan jalanan rolling alias naik turun. Agak ngempos sebenarnya, sebab dalam seminggu waktu itu saya hanya bersepeda beberapa kali saja. Belum ada 1/4 jalan mulai ada yang aneh dengan sepeda saya, "encit ... encit ... encit ..." suara yang minor sebenarnya, namun cukup mengganggu telinga saya. Ku lirik jam dan baru menunjukan pukul 05.25 saya periksa sesuatu roda depan. Ternyata ada sedikit masalah di bagian pengereman sepeda saya. Saya betulkan sebisanya untuk nanti diteruskan di tempat yang agak terang. Kemudian baru jalan kurang lebih 2 km, bunyi tersebut muncul lagi dan begitu keras. Masalah masih sama, yaitu bagian pengereman. Saya betulkan semaksimal mungkin sampai baru sadar sudah pukul 06.00 dan saya belum ada 1/4 jalan. Beberapa pesepeda juga menawarkan bantuan tapi berhubung saya membawa tools yang lumayan lengkap, jadi bukan menjadi sebuah hambatan.

Jalan menuju kota Wonosobo memang didominasi dengan tanjakan. Sedikit jalan datarnya. Pelan-pelan ku kayuh sepeda besi tua ku, yaitu sepeda Federal dengan seri Torino. Walaupun banyak jalan menanjaknya, banyak juga pesepeda yang ada di kota dingin ini. Sesampainya alun-alun kota, saya menuju jalan ke arah Dieng. Tenaga agak terkuras saat perbaikan rem depan sepeda yang agak susah. Mampir ke WARKOM untuk membeli beberapa bekal yang belum lengkap. 



PLTA Garung, Wonosobo

pukul 06.45 

Saya melanjutkan perjalanan. Sejak awal saya tidak ingin buru-buru sampai tujuan, sebab karena saya sendiri dan tidak ada target waktu lebih ingin menikmati perjalanan. Tanjakan demi tanjakan saya lewati. Sempat ada pikiran,"ngapain sih capek-capek sepedaan ke sini! enak tidur di rumah!" sial memang, pikiran seperti itu terkadang menyerang saya ketika sudah memasuki lebih dari setengah perjalanan. Bikin mental nganu saja! Hahaha. Untungnya itu hanya angin lalu sampai tiba disebuah tempat bertuliskan PLTA Garung, itu artinya sebentar lagi sampai telaga Menjer. Waktu menujukan pukul 07.35 saya jarang berhenti untuk waktu yang lama, hanya sekedar minum lalu lanjut kayuh. Tanjakan pertama yaitu tanjakan terjal dengan kontur jalan rusak dan menikung S lumayan tajam. Itu artinya juga sebuah turuan tajam jika dari atas. 


Jembatan Menuju Telaga Menjer


Ingat ya, sejak awal saya tidak terburu-buru untuk sampai tujuan. Gigi pada sepeda saya pindahkan menjadi 1-2 sampai 1-1 agar kayuhan terasa ringan. Pelan namun pasti tanjakan demi tanjakan saya lewat. Saya tidak ingin berhenti tiba-tiba di jalan menanjak. Bahaya! jika langsung berhenti. Maka dari itu saya memilih memelankan tempo kayuhan yang penting stabil. Ada tanjakan panjang dengan view yang luar biasa indah. Subhanallah. Gunung Sindoro dengan gagahnya menyambut juga hawa dingin yang tentu saja menemani. Sampai akhirnya tiba di sebuah jembatan kecil yang menandakan bahwa tujuan saya sebentar lagi tiba. Di jembatan itu saya berhenti untuk mengambil nafas dan minum agar tidak dehidrasi. Sambil sesekali menyapa warga setempat. Pikiran negatif yang tadi sempat terlintas tiba-tiba saya buang jauh-jauh. 


Telaga Menjer

Pukul 08.35 

Tanjakan terakhir berhasil saya lewati dan berarti saya sudah sampai di tujuan, telaga Menjer. Sudah lama saya tidak berkunjung. Terakhir kali beberapa tahun yang lalu ketika beberapa kawan dari Purwokerto saya ajak kemari dan menaiki perahu untuk berkeliling telaga ini. Banyak perahu disana. Kalian bisa keliling telaga dengan menyewa perahu, kali ini sudah dilengkapi dengan pelampung. Langsung saja saya menuju tempat favorit di telaga Menjer. Saya pikir di tempat itu saya sendiri, ternyata ada rombongan pesepeda lain yang juga menuju tempat favorit itu. Selepas melepas lelah, saya keluarkan peralatan untuk menyeduh kopi. Menikmati kopi dengan pemandangan syahdu telaga Menjer mengobati lelah bersepeda dengan jalanan didominasi tanjakan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan!

Pukul 10.00 

Selesai beberapa kali mengambil gambar sepeda berlatar telaga, saya kemasi barang-barang dan membersihkan sampah yang saya bawa. Saya memang tidak berencana menghabiskan waktu lama di tempat itu. Kabut mendung mulai turun. Wah! turunan sudah menanti. Turunan adalah surga bagi pesepeda khususnya saya pribadi hahaha. Langsung saja kayuh sepeda sambil senyam-senyum pada diri sendiri. Begitu sederhana menikmati hidup dengan melakukan apa yang kita sukai tanpa harus merugikan orang lain. Bersepeda selain untuk menjaga kesehatan, pun mengajari saya untuk tidak menjadi egois terhadap diri sendiri dan orang lain. Bisa menambah energi positif untuk tubuh. Bersepeda pun melatih diri saya untuk mengenali batas kemampuan tubuh saya pribadi dengan tidak memaksakan apa yang seharusnya itu cukup. Jaga kesehatanmu. Salam.

Bersepeda ke Telaga Menjer Wonosobo

sampingrumahku.com - Perpanjang masa berlaku SIM menurut saya penting, terutama bagi yang sudah memilikinya. Sebab kalau telat sehari saja kita harus mengulanginya sedari awal. Ribet sendiri nantinya. Maka dari itu saya memilih memperpanjang masa berlaku SIM saya sebelum jatuh tempo. Kebetulan saya tinggal di Kabupaten Wonosobo, jadi saya akan menuliskan pengalaman saya berurusan dengan SIM.

Berbekal informasi dari teman. saya disarankan untuk berangkat lebih awal supaya tidak mengantre terlalu lama. Yang harus di siapkan:

1. Fotocopy KTP dan SIM lama

Sebaiknya kita sudah menyiapkan fotocopy SIM (2 lembar) dan fotocopy SIM lama sejak dari rumah. Gunanya fotocopy KTP untuk mengantre saat cek kesehatan, dan fotocopy SIM lama sebenarnya untuk jaga-jaga manakala dibutuhkan.

2. Cek Kesehatan

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, sebaiknya kita memang datang lebih awal ke tempat cek kesehatan, yaitu bertempat di dr. Yanuar Surya Gunawan yang beralamat di Jl. Mayor Kaslam No.35, Ngepelan, Wonosobo Bar., Kec. Wonosobo, Kabupaten Wonosobo. Untuk mengantre siapkan satu lembar fotocopy KTP. Cek kesehatan di mulai pukul 08.00, jadi antre ya. Siapkan juga uang Rp 40.000,- (sebaiknya uang pas) untuk biaya cek kesehatan.

 Cek Kesehatan

3. Mengisi Formulir Pendaftaran

Setelah cek kesehatan selesai, kita harus segera pindah ke kantor SATLANTAS. Masuk lalu mengambil formulir yang sudah disiapkan dalam map-map. Isi lengkap. Jika sudah selesai, sisipkan hasil cek kesehatan dan SIM lama dalam map. Serahkan kepada petugas dan tunggu nama kita dipanggil.

4. Pembayaran dan Foto

Setelah mengisi berkas pendafataran SIM (baru atau perpanjang), maka kita tinggal menunggu nama dipanggil. Setelah nama dipanggil, kita harus membayar sebesar Rp 75.000,- untuk SIM C. Untuk jenis SIM lainnya saya kurang paham. Setelah membayar, kita menunggu lagi untuk dipanggil foto. 

5. Pengambilan SIM

Setelah melakukan sesi foto dan lainnya, kita harus menuggu lagi untuk mengambil SIM. Namun, kali ini ada yang berbeda. Nampaknya SIM yang saya terima masih SIM sementara dan dikasih tahu petugas bahwa SIM bisa diambil sekitar bulan Oktober atau November. Akhirnya kepo kenapa bisa begitu, ternyata akan ada SIM dengan model terbaru. Cek saja beritanya di kolom berita-berita online. 

 SIM Sementara

Sekian pengalaman saya memperpanjang masa berlaku SIM C. Jangan sampai telat, sebab telat satu hari maka kita harus membuatnya sedari awal.

Perpanjang SIM di Kabupaten Wonosobo

 Jalan Berkayuh  Ingatan



Kala itu
Ku kejar dirimu, ku kayuh sepeda
Melewati batas kota
Menyerbu kenangan, menitipkan pengap
Sedang bus mu melaju bak kesetanan
Tak hilang akal, ku potong jalan
Sial, aku tak melihat lobang.
Tersungkur, mengaduh.

Seorang anak lelaki menahan perih
Sial kedua, rantai sepedanya lepas
Seperti gadisnya yang bakal lepas
Sebenarnya ia akan berhasil mengejar bus itu, tapi rantai adalah ujiannya
Segera setelah rantai betul, ia kayuh sekuat peluh
Di jalan sepi, ia menagis sejadinya, ia berpisah
Debu terbang mengelilinginya
Angin panas menerpa air mukanya
Sesegukan, ia duduk memegangi lutut.
Ia kembali pulang, pada peluk ibunya
Menuntun sepeda dengan velg yang bengkok
Sebab lobang.
Ia mengadu pada waktu, jika saja ia mampu memutarnya
"Akan ku hentikan!"
Tapi waktu adalah begitu tak acuh pada bocah lelaki itu.
Ia melengos saja.
Musim berganti, memeluk perasaan
Menimang ingatan, kelak gadis itu akan tahu
Si bocah lelaki selalu bersepeda tiap sore,
Berkunjung pada jalan dimana ia berhenti dan menangis.
Menatap nanar, ketika matari pulang pada ujung samudera.
Barang sekedar merawat ingatan, dan berharap waktu bersahabat
mengejar bus adalah kegiatan barunya.

Wonosobo, menjelang akhir Agustus 2019

Jalan Berkayuh Ingatan