Copyright @sayur.labu 2018

SampingRumahKu.com - Beberapa minggu lalu saya kembali berkunjung ke sawah yang selama ini memasok kebutuhan beras untuk keluarga saya, yaitu sawah milik bapak. Sawahnya ini adalah warisan dari Mbah, orang tua dari bapak. Ada sekitar empat petak sawah yang dirawat oleh bapak. Di sebelahnya persis mengalir sungai Serayu yang hulunya di dataran tinggi Dieng, sungai dengan banyak jeram ini kerap kali digunakan untuk olahraga arungjeram. Di pinggir sawah juga ditanami beberapa pohon kelapa, pohon jati dan jambu sebagai penguat areal sawah supaya tak mudah longsor karena terjangan air sungai. Sekitar tahun 2014 sungai Serayu ini sangat tiba-tiba banjir bandang yang tak pernah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama, untungnya ada pohon-pohon tersebut jadi sawah bapak cenderung aman, walaupun ada beberapa bagian ikut hanyut karena berbatasan langsung dengan air.

Lama rasanya tak mengunjungi sawah ini, terlalu sibuk menggadaikan waktu pada kefanaan sampai lupa menengok ladang punya bapak. Bahkan sekedar untuk menemani bapak mengalirkan air untuk petak-petak sawah. Kebetulan bulan lalu kemarau sedang datang, dan bapak sedang sering-seringnya ke sawah. Sore itu pula ku putuskan untuk ikut ke sawah mengajak serta adikku. Kami menelurusi jalan pematang sawah yang kering karena kemarau sedang datang. Tiba-tiba ada perasaan terlempar ke masa kanak-kanak ketika diriku sering ikut ke sawah. Sebagian sanak keluarga dari ayah adalah petani, jadi saat musim tanam tiba anak sebayaku mengekor orang tuanya pergi ke sawah. Kami lebih suka bermain lumpur sawah, saling kejar-kejaran lalu saling lempar lumpur. Lelah lalu kami ikut makan bersama di lahan kecil yang sengaja dibuat untuk tempat istirahat. Perasaan itu muncul tiba-tiba ketika aku melihat adikku yang masih duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar ini berlarian di pematang sawah sambil membawa sebilah kayu. Lalu kami berdua berlarian, karena tanah kering kami bebas berlarian tanpa takut harus terjerembab di lumpur.

Pematang sawah yang ku lalui masih sama sejak belasan tahun silam ketika diriku masih seumuran adikku ini. Tak banyak yang berubah kecuali beberapa sawah yang berubah menjadi kebun salak dan ada yang ditanami pohon albasia. Pun tak kutemui petani-petani yang dulu ketika diriku kecil sering merawat sawahnya. Orang-orang yang dulu giat dan tangguh merawat lahan sawahnya sekarang sudah tak lagi mampu untuk merawatnya. Ada yang sudah menderita gangguan pendengaran bahkan sampai ada yang linglung. Sedih rasanya mendengar kabar seperti itu, sebab ternayata diriku melewatkan banyak peristiwa. Namun sawahnya sekarang sudah di rawat oleh anak-anaknya. Lebih bagus daripada terbengkalai.

Sawah sebagai sumber penghidupan

Dalam konteks ini saya berpikir bahwa sejak padi masuk ke negara Indonesia yang konon katanya berasal dari India yang dibawa nenek moyang ketika migrasi ini kemudian menjadikan sawah sebagai satu-satunya sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat pedesaan (baca bertani). Hal ini bisa dibuktian jika di desa tempat saya tumbuh berkembang ini didapati ada sebuah keluarg yang turun-temurun berprofesi sebagai penggarap lahan. Maksud saya disini adalah tidak hanya pemilik lahan (sawah) yang menggantungkan hidup dari bertani. Ada beberapa profesi yang memang dilakukan secara profesional oleh sekelompok orang dalam pengelolaan sawah. Hal ini menjadi menarik untuk saya sendiri sebagai upaya pemahaman bahwa dalam suatu objek itu terdiri atas berbagai macam unsur pendukunnya. Sebagai contoh dalam persoalan sawah ini.

Bagi pemilik lahan sudah jelas ia akan memanen atas hasil padi yang ditanam. Kemudian untuk pekerja yang membantu dalam pengelolaan sawah seperti memanen, matun, membajak sawah, dan hal-hal yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh si pemilik lahan adalah sumber rezeki bagi pekerja. Hal ini mempunyai bobot yang sama. Atas dasar saling menguntungkan ini maka kultur bertani di desa saya masih berjalan sebagaimana mestinya tanpa ada yang dirugikan. Bahkan pada saat panen, bapak memberikan 10 kg per 1 kuintal padi yang dipanen sebagai tambahan upah bekerja. Satu keluarga ini yang berprofesi sebagai pekerja penggarap sawah tidak hanya bekerja pada satu orang, namun ada beberapa orang yang menggunakan jasa keluarga tersebut. 

Jadi dalam semua aspek pekerjaan tidak hanya bergantung pada satu sumber untuk menggerakan roda perekonomian. Masing-masing mempunyai kapasitasnya yang berguna untuk menggerakan sebuah pekerjaan. Dalam konteks ini yaitu bertani. Banyak orang yang bergantung dari aktivitas bertani, apa jadinya jika sawah tiba-tiba habis digantikan perumahan-perumahan. Semoga kita tidak menjadi gagap dalam membangun peradaban kita sendiri, sampai mengesampingkan aktivitas bertani ataupun membabat alam untuk kepentingan pertumbuhan jumlah manusia.

'Kesunyian' masing-masing

Berada di sawah memberikan ketenangan bagi para petani dan tek tekecuali bapak. Di sawah seluruh petani mengeluarkan segala daya dan upaya guna menjaga sawah yang ia miliki. Seperti ibadah, petani khusyuk dalam ritual perawatan sawah. Ini bukan persoalan pada permukaan saja, sebab sawah menjadi lumbung penghidupan bagi mereka. Kekayaan dan anugerah dari Tuhan untuk hamba-Nya.

Copyright @sayur.labu 2018

Bagiku berada di sawah ini mendatangkan kesenangan masa kanak-kanak, disini diriku menemukan kembali 'kesunyian' masa kanak tatkala modernitas tak dianggap sebagai tolak ukur majunya sebuah peradaban. 

Dewasa ini bertani dianggap kuno, dan tidak maju menurut standar-standar yang dibuat oleh pemegang kebijakan. Entah kenapa jika bekerja sebagai petani masih dianggap sebagai masyarakat kurang mampu dan lain sebagainya. Tak elok jika harus lahir pandangan seperti itu terhadap petani. Jika bukan karena petani, siapa yang akan memasok beras-beras yang berubah menjadi nasi-nasi yang tersaji di piring-piring restoran, warung bagi para pekerja kantoran atau yang msaih menganggap bertani adalah kuno.

Semoga kita bisa menghargai setiap profesi orang, entah apapun itu. Salam :)

Sawah dan Kesunyian Masing-masing

Koleksi dan Salah Satu Jalan Bahagia

SampingRumahKu.com - Hai kembali lagi dengan tulisan saya yang 'sok-sokan' beropini ini, tentu saja di kanal blog yang saya kelola ini. Seperti yang sudah disinggung baru saja, saya akan menuliskan opini atau pendapat saya dengan tema koleksi dan salah satu jalan bahagia. Ohya sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengingatkan teman-teman pembaca kalau di blog ini juga ada beberapa tulisan saya yang masih 'sok-sokan' sudi kiranya teman-teman juga mengeceknya hehehe (baca: promosi). Oke saya lanjutkan tulisannya.

Merujuk pada KBBI, koleksi/ko·lek·si/ /kol├ęksi/ n 1 kumpulan (gambar, benda bersejarah, lukisan, dan sebagainya) yang sering dikaitkan dengan minat atau hobi objek (yang lengkap); 2 kumpulan yang berhubungan dengan studi penelitian; 3 cara dan sebagainya mengumpulkan gambar, benda bersejarah, lukisan, objek penelitian, dan sebagainya. Sedangkan di wikipedia mempunyai pemaknaan yang berbeda pada tiap penerapan kata koleksi, bisa teman-teman cek sendiri. Nah di sini saya kerucutkan yang ada pada tulisan ini, koleksi adalah benda-benda yang kita kumpulkan sebagai hobi. Saya hanya ingin fokus pada satu objek penerapan kata koleksi. Sedangkan orang yang suka mengkoleksi kita sebut dengan kolektor.

Kegiatan mengoleksi ini mempunyai sisi menarik sendiri, mulai dari barang yang dikoleksi, cara mendapatkannya, sampai perawatan barang yang dikoleksi. Mungkin bagi sebagian orang memandang aktivitas koleksi ini kurang menarik karena mungkin akan menimbulkan kegiatan-kegiatan yang membosankan, terlebih jika barang yang ingin dikoleksi memiliki nilai harga yang fantastis. Itu bukan jadi soal, sebab setiap orang memiliki cara sendiri untuk bahagia.


Salah Satu Jalan Bahagia

Saya pernah mendengar satu ungkapan 'bahagia itu bukan dicari, tapi diciptakan', namun saya lupa siapa yang berkata demikian hehe. Tapi disini saya sepakat dengan ungkapan tadi. Kita terkadang lalai bahwa sebenarnya bahagia itu dekat dengan diri kita, hanya saja terkadang pikiran kita terlampau jauh untuk memberi akses bahwa bahagia itu jauh jaraknya. Padahal diri kita bisa menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan pada setiap ruang pada diri kita dan orang lain. 



Koleksi dan Salah Satu Jalan Bahagia

Kali ini saya menciptakan kebahagiaan untuk diri saya sendiri dengan mengoleksi album rilisan fisik, kaos lokal/ kaos merchandise band-band, dan buku. Orang-orang di luar sana juga memiliki objek tersendiri tentang barang apa yang mereka koleksi. Uniknya terkadang barang yang mereka koleksi itu sangat tidak masuk akal bagi kita, tentu saja saya lebih suka menyebutnya unik. Contohnya, kolektor wadah permen, kolektor tindik, dll. Tentu saja itu menjadi jalan kebahagiaan bagi kolektornya. Barang-barang yang kita koleksi barang tentu pasti memiliki makna tersendiri dan motif masing-masing sampai tergerak untuk mengumpulkan barang-barang tersebut. 

Dalam keluarga saya sebenarnya sudah akrab dengan barang-barang koleksi, walaupun jumlah barang yang dikoleksi belum banyak. Sepupu dan Om saya mempunyai hobi koleksi album rilisan fisik, terutama kaset pita sampai menurun kepada saya sendiri. Saya cukup senang karena akhirnya mempunyai barang-barang koleksi saya sendiri. Ada rasa bahagia manakala bisa mendapatkan barang incaran, terkadang untuk mendapat barang tersebut kita harus mengeluarkan tenaga dan materi yang cukup menguras wkwk. Tapi itu bukan menjadi persoalan yang serius, hal ini malah menjadi suntikan semangat untuk mengumpulkan tenaga dan materi untuk menebus barang tersebut guna menambah koleksi yang sudah ada. Satu hal yang tak boleh terlewatkan ketika kita sudah mendapatkan barang koleksi incaran kita adalah merawatnya. Merawat sebuah barang koleksi adalah bentuk kasih sayang kita kepada barang-barang yang sudah dapatkan dengan susah payah. Merawat juga sebuah bentuk bersyukur atas nikmat yang sudah kita dapat, yaitu barang koleksi. 

Belakangan ini saya sedang mencoba mengoleksi kaos-kaos lokal dari kawan-kawan saya sendiri. Mereka desain dan mereka pasarkan sendiri. Kaos-kaos yang saya koleksi adalah bentuk dukungan saya kepada kawan-kawan yang bergerak di industri kreatif, terlebih saya menyukai desain-desain yang mereka buat. Kenapa kaos? Karena kaos adalah pakaian yang sering saya pakai untuk sehari-hari wkwkwk, ambil tinggal pakai, sesederhana itu. Tentu saja ada pesan-pesan tersembunyi pada setiap kaos yang saya koleksi, saya kenakan supaya orang lain juga mengetahui pesan-pesan yang ada pada kaos tersebut.

Saya melakukan koleksi karena menurut saya dengan mengoleksi kita bisa belajar mendapatkan sesuatu dengan usaha dan tentu saja kita belajar menghargai dengan cara merawat barang koleksi kita. Bahkan ada sebagian orang yang mengoleksi barang dengan alasan yang beragam, ada yang karena barang unik, bernilai sejarah, dan tentu saja bermakna. Saya yakin semua itu adalah berujung pada satu kata 'bahagia', dan kebahagiaan tiap orang berbeda-beda menurut pandangan dan pemaknaan dalam hidupnya.

Jadi barang apa yang sudah teman-teman koleksi saat ini? Rawatlah!

Sekian tulisan yang 'sok-sokan' beropini ini, terimakasih sudah berkunjung dan membaca :)

Koleksi dan Salah Satu Jalan Bahagia

sampingrumahku.com - Siapa yang tak tahu jajanan pasar yang satu ini, yap Klepon!. Jajanan berbentuk bulat dengan taburan parutan kelapa di luarnya dengan isian gula merah. Klepon memang bisa kita temukan dengan mudah di pasar-pasar tradisional dengan dibungkus daun pisang menambah kesan tradisional. Namun jangan salah sangka, dengan bungkusan semacam itu justru klepon semakin sedap untuk dinikmati.

Bahan dasarnya adalah tepung beras ketan yang dibentuk bola-bola kecil lalu direbus pada air mendidih. Kita bisa menambahkan daun pandan sebagai pewarna alami dan tentu saja menambah wangi. Ada juga parutan kelapa guna melapisi bagian terluar dari klepon ini. Satu hal yang tak boleh terlewat adalah gula merah sebagai isian. Sebab klepon tanpa isian gula merah bagaikan sayur tanpa garam (hahaha). 




Terkadang kita memakan sebuah jajanan/ makanan apapun tanpa sadar kita tidak menikmatinya sama sekali. Dimulai dari gigitan pertama sampai habis, kita hanya melewatkan rutinitasnya dengan biasa saja. Berbagai alasan kita ciptakan sebagai upaya penyangkalan bahwa sebenarnya kita tak menikmati makanan yang kita makan, contohnya "ah saya buru-buru, sudah mepet waktu istirahatnya, dan lain-lain. Ada kalanya kita harus benar-benar khidmat pada saat makan, supaya tak berakhir dengan biasa saja. Menikmati makanan juga sebuah penghormatan terhadap makanan itu sendiri.

Kembali ke klepon setelah berbicara kesana-kemari. Klepon mempunyai tekstur kenyal pada gigitan pertama dan seterusnya. Kenyalnya klepon karena terbuat dari tepung beras ketan, tapi untungnya ada parutan kelapa yang membuatnya gurih. Ketika kita sedang sibuk mengunyah klepon dengan tekstur kenyal ini, berpindah dari sisi kanan ke kiri, agaknya gigi susah untuk menghancurkan dan tiba-tiba ceplus seperti ada yang meletus di dalam mulut kita. Bahkan terkadang pada saat gigitan pertama ia sudah meletus. Ia menyebar kemana-mana, dinding, langit-langit, sela-sela gigi, dan ia memenuhi seluruh ruang kunyah kita. Isian gula jawa merah pada klepon telah membuat lengkap takdir sebuah klepon yang harus tanggal pada mulut kita. Nikmat! Tak berhenti disitu, tanpa sadar kita akan terus mengambil klepon dari wadahnya, mengunyah satu persatu dan mencari letusan-letusan lainnya sampai benar-benar habis klepon itu dikoyak-koyak mulut. 



Klepon memberitahu kita bahwa dalam hidup membutuhkan proses untuk mencapai kenikmatan. Dimulai dengan cobaan-cobaan dan usaha dalam menyelesaikan setiap problematika hidup suatu saat tanpa sadar kita akan mendapatkan kejutan-kejutan yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Jika Gula jawa merah adalah sensasi kejutan pada setiap gigitan klepon, maka kejutan pada hidup kita adalah apapun yang tidak kita pernah sangka/ pikirkan sebelumnya.

Jangan sampai pengalaman menikmati makanan yang kita sukai hanya kita anggap sebagai kebutuhan. Sebab takkan pernah selesai untuk dipenuhi dan takutnya berakhir dengan biasa saja. Sederhananya nikmati! 

Salam (:

Kejutan dalam Satu Butir Klepon

Efek Rumah Kaca (ERK) adalah band yang berasal dari kota Jakarta, digawangi oleh Cholil Mahmud, Adrian Yunan, Poppie Airil, dan Akbar Bagus Sudibyo. Perjalanan panjang telah mereka tempuh dalam hal berkarya sehingga band yang satu ini konon katanya mempunyai karakter yang kuat. ERK juga lantang ikut menyuarakan problematika yang terjadi di masyarakat, tercermin dalam lagu-lagu yang mereka bawakan. Seperti tersulut api semangat ketika lagu-lagu ERK berkumandang di tengah konser, mungkin karena proses yang panjang tersebut ERK mampu memaksimalkan materi-materi lagu menjadi sangat elok nan berapi-api ketika diperdengarkan.

Ada beberapa album yang telah mereka telurkan dalam kurun waktu 2001-sekarang. Album-album tersebut diantaranya Efek Rumah Kaca (2007)Kamar Gelap (2008), Sinestesia (2015). Jika dilihat rentang tahun saat pertama kali ERK lahir, yaitu tahun 2001 maka ada waktu kuranglebih enam tahun dalam proses penggarapan album pertama, namun hanya berselang satu tahun ERK kemudian mengeluarkan album keduanya. Disini saya yakin mereka mematangkan materi-materi yang dipunyai dengan proses yang panjang. Kemudian tahun 2015 keluar album Sinestesia yang konon katanya juga adalah materi-materi yang sudah direkam pada periode awal sampai album kedua. Tidak semua band mampu bertahan dengan pola semacam itu. Tapi sebagai pendengar karya-karya ERK saya beruntung karena dapat mendengarkan kumpulan demo dan lagu yang tidak pernah dirilis, yaitu pada rilisan kaset bertajuk Purwaswara (2018).


 (Purwaswara, 2018)


Purwaswara adalah rilisan berbentuk kaset dari ERK yang berisi 11 lagu demo, versi awal, hingga versi alternatif yang berbeda dengan versi yang sudah dirilis di tiap-tiap albumnya. Ada pula 1 buah lagu yang tidak pernah dirilis yang ditulis pada periode album pertama ERK.

(Tracklist Puwaswara)

Dalam rilisan ini kita dapat mendengarkan beberapa lagu yang masih berbentuk demo dari ERK yang mempunyai beberapa versi, mulai dari versi awal dan versi alternatif dengan begitu kita akan menemukan perbedaan dengan versi yang sudah rilis pada album masing-masing lagu tersebut. Menurut unggahan di linimasa Instagram mereka, rilisan ini adalah usaha yang bisa kami (pendengar ERK) dapat lakukan untuk #DukungERKmenujuSXSW. Selamat ERK telah sukses untuk ikut menyemarakan hajatan di SXSW 2018. Tapi dengan rilisnya Purwaswara ini saya memaknainya lebih, betapa proses panjang telah ERK lewati dalam berproses dalam dunia musik. 

Dalam rilisan tersebut juga disertai dengan tulisan Dimas Ario selaku manager ERK. Ia bercerita awal mulai ketika tahun 2016 saat menjabat manager ERK, kemudian ia dilimpahi dua buah hardisk yang didalamnya berisi dokumen ERK; foto, video, dan juga file lagu. Kemudian ia mendapati lagu-lagu ERK yang memiliki durasi panjang, terdengar lebih mentah, dan ada yang belum pernah dirilis. Dimas Ario berpikir bahwa ini akan menjadi menarik dan berharga bagi pendengar dan penggemar ERK jika dapat mendengarkanya. Meskipun Cholil sempat tidak yakin karena kualitas audio yang kurang bagus, tapi dengan berbagai macam proses akhirnya kumpulan demo dan lagu yang tak pernah dirilis berhasil dirilis juga.

Saya sepakat dengan Dimas Ario bahwa ini menjadi sangat berharga bagi penggemar ERK. Kita seakan-akan diajak untuk ikut menyelami proses yang dilalui ERK dalam proses penggarapan album mereka. Perubahan-perubahan terjadi pada lagu-lagu pada Purwaswara, contoh pada track side A terdapat lagu berjudul Demi Masa kemudian berganti menjadi Debu-debu Berterbangan, lalu pada lagu Jatuh Cinta Itu Biasa Saja jika pada rilisan ini terdapat tambahan instrumen drum pada ending lagu tapi pada versi yang sudah rilis tambahan instrumen sebagai ending lagu sudah tidak ada lagi. Pada lagu yang berjudul Efek Rumah Kaca (track ke 2 side B) terdapat perbedaan; jika pada track tersebut bagian reff lirik .... "lalu terbakar, akan terbakar, wariskan untuk anak dan cucu kita".... sedangkan versi yang sudah rilis pada album sebelumnya ...."kita akan terbakar, kita wariskan untuk anak dan cucu kita".... Bukan hanya pada persoalan lirik, tapi nada yang dipakai juga berbeda. Kita akan dapat dengan mudah membandingkannya kedua lagu tersebut jika sudah mendengarkannya.


 (Hanya dirilis sebanyak 350 buah)


Saya beruntung dapat mendengarkan dan mengoleksi satu dari jumlah yang dirilis sebanyak 350 buah. Mengoleksi rilisan ini juga mengajarkan saya jika berproses/ belajar menjadi lebih baik itu memang tidak kenal waktu. Serupa dengan meminjam pernyataan Dimas Ario,"Mendengar kumpulan demo di Purwaswara yang jauh dari sempurna ini juga mengingatkan kita bahwa semua hal memiliki awal dan proses untuk menjadi lebih baik". Akhir kata maafkan jika ada kata-kata yang kurang pas, ini hanya tulisan pribadi saya sebagai pendengar dan penggemar Efek Rumah Kaca.

Salam (:

Mendengar "Purwaswara" Efek Rumah Kaca


Hai...

Pendakian gunung yang dijuluki anak gunung Sindoro, Jawa Tengah ini kami lakukan sekitar bulan Oktober 2016. Lupa tanggal maaf hehe. Jalur pendakian berada di desa Lengkong, Garung, Wonosobo. Jika dari pusat kota Wonosobo kita bisa ambil ke arah utara yaitu jalur ke Dieng. Sekitar 15 menit dari pusat kota untuk sampai ke desa Garung. 

Waktu itu kami berlima, Kuying, Wisnu, Tira, Aziz, dan saya sendiri memutuskan untuk refreshing dari kejenuhan aktivitas di kampus. Kemudian kawan kami memberitahu jika ada gunung yang masih jarang didaki. Ohya, di daerah Dieng yang notabene dekat dengan gunung Kembang ini ada gunung Prau yang menjadi primadona bagi para pencari matahari terbit. Awalnya kami ingin naik ke gunung Prau, karena beberapa alasan akhirnya kami urungkan untuk naik ke gunung tersebut. Kami akhirnya memutuskan untuk mendaki gunung Kembang. Bermodalkan cerita dari kawan kami, mulai dari tempat pendakian, biaya masuk, pemandangan di puncak, serta beberapa cerita horornya kami nekat untuk mendaki anak gunung Sindoro itu.

Perjalanan kami mulai kira-kira pukul 11.00 berangkat dari rumah saya, kemudian langsung menuju desa Garung untuk bertemu dengan juru kunci gunung tersebut. FYI ternyata gunung ini memang jarang didaki, sekalinya ada pendaki adalah mereka yang ingin semedi. Setelah kami sampai di rumah juru kunci, segera saja kami memarkirkan kendaraan kami, mempersiapkan diri, dan tentu saja membayar tiket masuk. Tiket masuk pada saat itu sekitar Rp 5.000,- per orang. Cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa wkwkw. 
Setelah puas menikmati keindahan, kami mulai membereskan tenda dan sampah yang kami buat. Tapi sebelumnya kami sarapan supaya kuat. Pagi itu setelah kami beres-beres cuaca cukup cerah. Sebelum kami turun, kami sempatkan untuk foto bersama lalu bergegas turun. Perjalanan turun sama beratnya, karena kami harus menahan beban kami, untungnya perbekalan sudah banyak yang habis jadi bebannya tidak terlalu banyak hehe. Jalur yang kami lalui sama, karena menurut kawan kami hanya ada satu jalur yang dilalui. Sesampainya kami di ladang warga, tak berselang lama hujan turun. Kami memakai jas hujan masinig-masing. Perlahan berjalan, namun tak disangka-sangka angin kencang datang. Kami agak kesusahan, dengan badan capek, hujan lalu angin. Kami beberapa kali berhenti karena jalan licin. Kami berpapasan dengan warga lalu kami bertanya apakah sering terjadi angin sekencang ini, tetapi mereka menjawab jarang terjadi seperti ini mas, kalo di gunung sering. Akhirnya pelan-pelan kami sampai ke rumah juru kunci, segera berbenah, istirahat. Sewaktu kami tiba di rumah juru kunci, kami mendapat dua orang yang hendak naik gunung. Menurut juru kunci dalam sebulan paling banyak 30 orang yang mendaki. 

Selesai kami bersiap-siap, juru kunci menjelaskan jalur yang akan kami tuju. Ia memberi tanda jika jalur yang akan kami lalui hanya ada sebatas tanda, yaitu adanya tali rafia berwarna biru. Setelah semua selesai, kami berlima berdoa agar diberi kelancaran pada saat naik dan turun gunung. Pendakian dimulai pukul 13.00 WIB, dimulai dengan jalan setapak desa yang (subhanallah) belum apa-apa sudah tinggi hehehe. Pelan-pelan lalu sampai di jalan ladang warga. Ternyata jalur pendakian ini sangat mengejutkan, sebab dimulai dari pedesaan sudah sangat terjal naiknya. Pelan-pelan kami sampai di ujung ladang warga, berbekal nasihat juru kunci, kami mencari potongan tali rafia warna biru sebagai petunjuk jalan menuju puncak. Akhirnya kami menemukan tali pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ternyata benar, gunung ini jarang didaki dan tidak populer dibandingkan gunung Prau di Dieng. Ini ditandai dengan masih lebatnya vegetasi di hutan yang kami lalui. Ohya kita dapat menemukan banyak jenis anggrek di hutan gunung kembang ini. Menempel pada dahan pohon. 

Selangkah demi langkah kami berjalan, lelah, istirahat lalu berjalan kembali. Sampai akhirnya tepat adzan maghrib berkumandang kami tiba di puncak dan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Hamparan ilalang dan bekas kawah yang begitu luas menyambut kami. Ohya tepat di jalur sebelum puncak, ada sebuah pondokan kecil yang nampaknya tempat untuk bersemedi. Segera setelah istirahat, kami segera mendirikan tenda diantara semak-semak guna menghidari angin yang kencang. Sebab menurut kawan kami yang sudah mendaki, di gunung ini kadang-kadang terjadi badai secara tiba-tiba. Tenda berhasil didirikan, lantas kami segera memasak bekal mie instant yang kami bawa. Makan malam, minum kopi sambil bercerita dan bertukar pikiran. Untung saja tidak ada sinyal di ponsel kami sehingga kami dapat menghabiskan malam dengan bercerita. Kenyang makan, satu persatu mapan tidur di tempatnya masing-masing. Kabut mulai turun, lalu kami memutuskan untuk mengakhiri malam dengan tidur lebih awal supaya besok bangun lebih pagi.

Namun tengah malam beberapa dari kami terbangun, merasakan tenda bergoyang. Kami pikir tenda kami sedang diusik oleh celeng. Tapi ternyata sedang ada badai dan hujan, untung saja kami berkemah di antara semakbelukar. Berulangkali tenda kami bergoyang, nampaknya badai di luar kencang dan lama. Esok paginya kami bangun pagi dan ternyata di puncak penuh kabut, tapi tidak berlangsung lama kabutpun mulai hilang. Sejenak kami santai menikmati pagi dan menjauh dari kebisingan. Di puncak gunung terdapat sebuah kawah besar yang berisi ilalang dan juga terdapat genangan air. Kita bisa mengambil air tersebut untuk dimasak.



Kami cukup senang bersama-sama menghabiskan kejenuhan dengan mendaki gunung Kembang ini. Banyak waktu yang kami habiskan dengan bercanda, bertukar pikiran, melepaskan kebisingan yang kami lalui. Sekarang sudah dibuka jalur resmi pendakian gunung Kembang tepatnya di Blembem, Darmakasiyan, Kretek, Wonosobo. Kami adalah orang awam tentang gunung dan alam, tapi dengan kesoktahuan kami,  yaitu jangan meninggalkan sampah di gunung hehehe.

Tetap berhati-hati dan jangan biarkan ego mengendalikan ketika bersama-sama. Ini ada sedikit cuplikan video saat kami mendaki yang diedit oleh kawan Tira.




~sekian.


Gunung Kembang Wonosobo