Jalan Berkayuh  Ingatan



Kala itu
Ku kejar dirimu, ku kayuh sepeda
Melewati batas kota
Menyerbu kenangan, menitipkan pengap
Sedang bus mu melaju bak kesetanan
Tak hilang akal, ku potong jalan
Sial, aku tak melihat lobang.
Tersungkur, mengaduh.

Seorang anak lelaki menahan perih
Sial kedua, rantai sepedanya lepas
Seperti gadisnya yang bakal lepas
Sebenarnya ia akan berhasil mengejar bus itu, tapi rantai adalah ujiannya
Segera setelah rantai betul, ia kayuh sekuat peluh
Di jalan sepi, ia menagis sejadinya, ia berpisah
Debu terbang mengelilinginya
Angin panas menerpa air mukanya
Sesegukan, ia duduk memegangi lutut.
Ia kembali pulang, pada peluk ibunya
Menuntun sepeda dengan velg yang bengkok
Sebab lobang.
Ia mengadu pada waktu, jika saja ia mampu memutarnya
"Akan ku hentikan!"
Tapi waktu adalah begitu tak acuh pada bocah lelaki itu.
Ia melengos saja.
Musim berganti, memeluk perasaan
Menimang ingatan, kelak gadis itu akan tahu
Si bocah lelaki selalu bersepeda tiap sore,
Berkunjung pada jalan dimana ia berhenti dan menangis.
Menatap nanar, ketika matari pulang pada ujung samudera.
Barang sekedar merawat ingatan, dan berharap waktu bersahabat
mengejar bus adalah kegiatan barunya.

Wonosobo, menjelang akhir Agustus 2019

Jalan Berkayuh Ingatan

 Last Roar Tuan Tigabelas

sampingrumahku.com - Tuan Tigabelas mengusung Harimau Sumatera dalam album terbarunya pada tahun ini sebagai isu. Beberapa lagu sudah rilis termasuk lagu yang berjudul Last Roar dengan video clip yang baru saja rilis pada hari Senin, 29 Juli 2019 yang bertepatan dengan #GlobalTigerDay di kanal Youtube.

Dalam video clip tersebut berkisah mengenai perjanjian antara Manusia dan Harimau secara batin untuk tidak saling mengganggu dan menjaga keharmonisan hidup. Perhormatan secara adat sendiri masih terjaga dengan sakral. Namun, nyatanya manusia mulai ingkar dengan janji. Hutan secara perlahan namun pasti berubah menjadi lahan-lahan kelapa sawit. Pembukaan lahan secara massif merubah sistem hutan. Binatang-binatang kalangkabut mencari perlindungan, dan akhirnya mati. Tidak terkecuali dengan Harimau Sumatera ini, sebab mereka yang mendapat julukan 'Raja Hutan' saja dibantai satu persatu. Diambil kulitnya, dibunuh dengan sadis dll. 

Perburuan juga menjadi salah satu faktor dalam merosotnya jumlah kucing besar ini. Bahkan saudaranya dari Jawa dan Bali dikabarkan sudah punah. Akankah Harimau Sumatera segera menyusul ? Sedih apabila benar-benar itu terjadi. Sebab, generasi mendatang kemungkinan hanya bisa menyaksikan harimau dalam bentuk diorama. Semoga ini bisa menjadi perhatian bagi masyarakat.

Di beberapa situs organisasi penyelamat hewan, penelitian-penelitian, dan kolom berita online, populasi Harimau Sumatera dikabarkan berkisar kurang lebih 600an ekor dan itu bisa semakin merosot jika pembukaan lahan semakin tidak terkendali. Belum lagi dengan harimau-harimau yang harus terlibat konflik dengan manusia. Berkurangnya luas hutan memaksa mereka beraktivitas di tempat yang lebih dekat dengan manusia. Namun, sialnya hal itu membuat harimau-harimau ini dibantai. Seperti yang terjadi di suatu wilayah, dimana seekor harimau diburu lalu bangkainya digantung untuk menjadi bahan tontonan. Perlu edukasi lebih kepada masyarakat tentang perlunya menjaga keberlangsungan populasi hewan yang satu ini. Pusat-pusat konservasi yang ada di Indonesia juga berusaha keras untuk menjaga keberlangsungan populasi Harimau Sumatera.

Tuan Tigabelas melalui karyanya mengajak kita sebagai pendengar dan masyarakat untuk mengetahui betapa pentingnya isu ini untuk disebarluaskan sebagai edukasi. Royalti dARI lagu Last Roar juga akan didonasikan untuk program pelestarian Harimau Sumatera melalui WWF-Indonesia. 

Semoga Tuhan mengampuni atas ketamakan hamba-hambanya.

Tuan Tigabelas dalam Harimau Sumatera

 Hindia Membasuh

sampingrumahku.com - Kembali lagi pada tulisan-tulisan tak berbobot ini dengan tema sebelumnya, yaitu Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengambil beberapa potong lirik yang kemudian saya maknai sebagai manifesto mawas diri bagi saya pribadi. Sebab terkadang saya sebagai manusia kelewatan mengeluarkan ekspresi diri terhadap persoalan yang saya hadapi; baik urusan bahagia, kecewa, dan sedih. Bahkan saya juga terkadang tidak sadar bahwa sebenarnya saya begitu pamrih terhadap investasi atau segala sesuatu yang sudah saya curahkan kepada sesama bahkan kepada-Nya.

Membasuh, adalah lagu terbaru dari Hindia yang berkolaborasi dengan Rara Sekar. Pada awal lirik lagu saja sudah begitu mengacak-acak logika berpikir saya. Begini bunyinya, "Selama ini ku nanti Yang ku berikan datang berbalik, Tak kunjung pulang apapun yg terbilang, Di daftar pamrih ku seorang, Telat ku sadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar". Begitu menusuk menurut saya, sebab Hindia terang-terangan menyebutkan kata pamrih. Tanpa tedeng aling-aling saya merasa malu!. Seperti yang sudah saya katakan di atas, bahwa terkadang saya tidak sadar bahwa tumbuh perasaan pamrih terhadap apa yang sudah saya lakukan.

Bahkan untuk urusan ibadah, saya juga terkadang pamrih terhadap ibadah yang sudah saya kerjaan. Saya tidak mempersoalkan bentuk ibadahnya, ini adalah masalah tentang niatan saya pribadi ketika hendak melakukan ibadah kepada-Nya. Sifat pamrih itu timbul manakala kesulitan datang, saya berpikir bahwa jika saya melakukan ibadah secara "khusyuk" maka Tuhan akan mengabulkan permintaan saya. Suka tidak suka, saya memang terkadang tanpa sadar melakukan hal seperti itu. Ikhlas menjadi kata kunci yang saya tangkap dalam materi lagu Membasuh dari Hindia ini.

Sulit memang. Mawas diri adalah koentji.

Bersambung...

Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri Part II


sampingrumahku.com - Hindia nama dari sebuah project musik yang sedang dilakukan oleh Baskara vokalis dari band Feast. Belakangan ini pula karya-karya musiknya ikut meramaikan kolom-kolom gerai musik digital menawarkan wacana-wacana yang menarik  di dalam karyanya untuk dibicarakan. Ohya, sebagai disclaimer tulisan ini opini saya pribadi sebagai respon terhadap apa yang dengar dan tentu saja apa yang saya mau tulis. 

Saya menemukan wacana mawas diri dalam karya dalam project Hindia ini. Saya sebagai pendengar mau tidak mau harus mencerna apa yang saya dengar. Nyatanya saya sebagai manusia sering kali merasa persoalan yang dihadapi begitu berat untuk saya hadapi. Berasa diguyur air, seketika itu pula terbangun dari delusi tentang kecemasan-kecemasan yang saya hadapi. 

Bagaimana tidak, di lagu Evaluasi saja Hindia berkata bahwa "masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh, ini belum separuhnya, biasa saja, kamu tak apa", mereka berkata kalau maalah yang kita hadapi itu biasa saja dan tentu saja kita baik-baik saja. Artinya saya, kamu, kita semua disadarkan kalau setiap masalah yang kita hadapi yang bakal menemukan jalan keluar dan lebih menguatkan dengan mengatakan bahwa kita baik-baik saja. Hanya saja seringkali ekspresi atau respon terhadap persoalan tersebut saya lakukan secara berelebihan. Tanpa sadar. Apalagi jika saya menghadapi sebuah kegagalan. Saya sadar kalau apa-apa yang berlebihan itu tidak baik. Kembali lagi Hindia mengatakan, "Kita semua gagal Ambil sedikit tissue bersedihlah secukupnya". Sebuah penggalan dari lirik berjudul Secukupnya. Jujur dalam keadaan tertentu mendengarkan lagu-lagu Hindia ini berasa mendapatkan nasihat, bahkan merasa malu.

Di lagu yang berjudul Belum Tidur Hindia berkolaborasi dengan Sal Priadi, solois dari Malang. Konsep kolaborasi yang unik, sebab mereka bernyanyi secara stereo, Basakara pada sudut kiri, dan Sal sudut kanan walaupun pada awal lagu mereka bernyanyi terpisah, namun di akhir lagu suara mereka bersatu kembali dengan lirik "Kau yang tahu racun diri sendiri". Segala persoalan yang pada diri saya, hanya saya sendiri yang tahu, hanya saya sendiri yang mampu menyelesaikannya. Diri saya sendiri yang punya kuasa atas persoalan-persoalan yang terjadi, dan saya sendiri yang harus memilih untuk menyelesaikan atau tidak menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi. Mengenal batasan atas kemampuan diri sendiri juga perlu, dan kembali lagi yang tahu hanya diri kita sendiri.

Bersambung ...

Hindia; Sebuah Usaha Mawas Diri Part I


sampingrumahku.com - Tulisan ini bercerita tentang Ramadhan, Pulang dan Kesunyiamn bukan tentang keluh kesah atau serupanya. Hanya curahan perasaan pribadi dan sebuah respon atas apa yang saya alami. 

Sejak merantau untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 2010-2016 saya meninggalkan desa tempat saya tinggal. Meninggalkan kebiasaaan, meninggalkan keramahan, keakraban dengan kawan-kawan semasa kecil beserta lingkungannya. Karena tuntutan kuliah dan kegiatan lainnya membuat saya tidak banyak meluangkan waktu untuk pulang, ditambah lokasi rumah yang memisah dari desa membuat saya semakin 'menjauh' dari sosial masyarakat di desa. Banyak peristiwa terlewatkan begitu saja, padahal seharusnya saya lebih bisa untuk membaur nyatanya saya gagal. 

2016-2018 adalah tahun terberat dalam proses adaptasi dengan lingkungan desa yang saya tinggalkan. Kawan-kawan sudah banyak yang menikah, orientasi banyak berubah, bahkan untuk urusan bercanda saja saya kewalahan untuk mengikutinya. Tatapan aneh sering saya jumpai, saya maklum dengan itu. 

2019 kali ini saya tak boleh gagal untuk ikut membaur dalam keriuhan desa, apapun itu. 

Bulan ramadhan menjadi tonggak ketika saya memaksa melibatkan diri dalam kegiatan menyambut idul fitri 1440 H. Tepatnya pertengahan puasa, ada sepucuk surat undangan untuk rapat pemuda masjid guna membahas acara yang tadi saya sebutkan. 

Pulang kali ini membawa perasaan dan pengalaman yang lama saya tinggalkan. Masa kecil pun tiba-tiba melintas begitu saja. Sedih. Bukan saya merasa tua, saya masih muda! baru 27 tahun hahaha. Tapi saya masa kecil begitu riuh ketika ramadhan tiba. Ternyata waktu begitu cepat berlari meninggalkan kita yang sibuk dengan kefanaan. Sesal jelas ada, hanya saja saya tak pantas untuk terus berkubang pada sesal itu. 

Diri saya berhasil saya paksa untuk kembali pulang pada desa, berbaur dengan masyarakat desa saya. 

Malam takbiran berjalan lancar. Seperti biasa, pawai obor dan lampion menjadi agenda wajib di desa saat malam takbiran. Rasanya begitu lama saya tidak merasakan keriuhan dalam menyambut malam takbiran. Ada haru yang tidak bisa saya jelaskan, hanya bisa bersyukur.

Ramadhan, Pulang, dan Kesunyian

Kita hanya seorang pengembara pada diri kita
Yang tabah dan tak tabah
Pada kesunyian, keriuhan, kelapangan dada
Kau keliru jika takut sendiri,
Karena pengembara terbiasa sendiri

Ramadhan menjungkirkannya pada masa silam
Ketika kanak, berebut tawa 
Berebut pengeras suara
Berebut stik bedug

Ternyata ia menyaksikan dirinya
Berlarian di surau
Menjelma kanak-kanak
Menjelma haru
Berebut kasih-Nya

Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian
Seorang pengembara telah lahir dan bingung
Ia risau dengan kesunyiannya
Rupanya ia belum sadar;
Penguasa alam ada dalam dalam nadinya
Begitu dekat, melekat

Ia tahu
Masa kanaknya telah usai
Ia berjalan nuju pegunungan sabar
Segara amarah
Langit biru bahagia
Dan jalan kesunyian seorang diri ditemani penguasanya
Sampai ia bertemu kekasihnya.

Ia melangkah pelan
Meraba seperti bayi
Ia tertawa
Menimang masa kanaknya
Menjadi dewasa adalah lorong panjang kesunyian.

Nyanyian Pengembara

Seorang pelaut sedang tersesat
Ia tak mampu membaca bintang
Terombang-ambing dalam segara
Sunyi pecah oleh riak air

Melamun ia
Menangis dalam terik matari
Puluhan rapalan doa
Telah melumat mulutnya, namun tidak hatinya
Rapalan doa terus mengiringnya

Berharap ia bisa membaca bintang lagi
Sungguh malang ia

Mulanya ia penasaran dengan segara lepas
Ia yakin kalau mampu menaklukannya
Hari berganti bulan
Bulan berganti tahun
Badai pun ia bertahan
Namun petaka datang 
Ketika ia tak mampu membaca bintang dan angin

Takut menyerganya
Sebab ia telah jumawa
Bintang dan angin kabur
Tersisa murung
Pasrah

Ia dikancani camar yang nemplok sedari awal
Sepertinya camar itu tahu kalau ia akan tersesat

Wajahnya kini ditumbuhi rambut
Matanya kosong
Camar yang setia, terbang sesekali dan kembali
Mungkin camar pun sunyi dengan kesendirianya
Ia menangis dan tertidur di teras perahu

Tiba-tiba
Ketika kapal besar membangunkan dalam tidurnya
Berjingkrak, lalu bahagia
Lantas dibakarnya kapal, biar terlihat nahkoda
Ajaib, api itu membawanya pada daratan dan pulang

Camar menguntitnya sampai daratan
Lalu ia terbang bebas, mencari pelaut-pelaut tersesat lainnya.
Sebab ia tak tahan melihat kesendirian seorang pelaut.

Pelaut,Camar dan Api