sampingrumahku.com - Okey melanjutkan cerita yang kemarin, Tikus adalah kucing pertama yang dirawat di keluarga kami. Ohya, rumah kami terbilang terpisah dari pemukiman warga alias tidak banyak tetangga. Jadi datangnya Tikus menjadi ikut meramaikan suasana di rumah. 

Keluarga Hewan
Tikus terkadang memakan rumput dan biasanya akan muntah, namun suatu saat dia muntah kuning dan ketika muntah suranya pun begitu parau. Sedih. Sekujur badannya lemas karena kekurangan cairan. Saya mencoba memberinya air hangat yang dicampur madu menurut saran dokter hewan terdekat. Sampai akhirnya saya bawa ke dokter hewan pada suatu pagi. Kemudian sorenya pihak dokter menghubungi kalau Tikus sudah bisa dibawa pulang, sayangnya gak bisa rawat inap. Tikus diberi cairan tepat di tengkuknya sebagai pengganti cairan yang sudah banyak keluar. Sore itu agak gerimis, saya dan sepupu saya naik sepeda motor sambil membawa Tikus di keranjang. Sesampainya di rumah, Tikus begitu lemas saya pun panik dan ini baru pertama kalinya merasa takut kalau-kalau Tikus tidak ada. 

Dia lemas dan masih mengeong seperti biasa, ternyata dia mencret juga. Dalam keadaan lemas, ia memaksakan jalan sambil sempoyongan. Aku hanya bisa menguntitnya dibelakang sambil menahan sedih. Astaga ini hewan pertama yang begitu deakt denganku. Ia memaksa keluar rumah dan mencoba mendatangi tempat dia biasa bersantai ketika siang hari. Karena agak gerimis aku membopongnya kembali ke rumah. Sempat diam beberapa menit di samping Tikus, aku menangis sedih sambil mencoba memberikan madu hangat. Sehabis maghrib saya bergegas ke petshop membeli pakan basah, sampai rumah Tikus masih tidur lemas. Ternyata sewaktu aku pergi ke petshop, Tikus kabur ke tempat yang sama, yaitu tempatnya  bersantai. Ibu kebingungan mencarinya, namun perkiraan ibu benar, kalau Tikus kembali ke tempatnya bersantai. 

Pelan-pelan ku usap tubuh ringkih Tikus, ia mengeong lemas. Namun ada yang berbeda dari suaranya, tambah parau. Mungkin jika Tikus bisa berbicara, dia akan mengatakan sesuatu. Semalam itu tidurku tak nyenyak sama sekali. Tepat pukul 03.00 ibu terbangun dan mengetuk pintu kamarku. Duduk dan berkata lirih, "Dia sudah gak ada". Tikus meniggal. Bingung seketika menyergap dan diam. Bangun, lalu menangis diriku mendapati tubuh Tikus dingin dan kaku di pojokan kursi ruang tengah. Pagi itu terasa berat bagiku, harus kehilangan kawan baru di rumah kami. Tikus di kucing. Sehabis sholat subuh dibantu bapak, aku menguburkan Tikus di belakang rumah.

Terimakasih sudah mampir di rumah kami

-

Perihal lorong-lorong hidup telah Dia bangun masing-masing untuk kita. Kau menelusuri gelap menuju cahaya
-

Sampai jumpa si Kucing kuberi nama Tikus Maghrib, jangan lupakan bau kami, bau dapur ibuk, bau sepeda motorku, hehehe. Dirimu telah kembali pada-Nya, Tuanmu sesungguhnya.

Wonosobo, 25 Desember 2018


 Keluarga Hewan

Terimakasih Allah sudah mengirimkan Tikus si Kucing mampir di rumah kami. Kawan yang mengajari kejujuran dan ketulusan. Bagi sebagian orang, hewan bukan sekedar hewan. Tapi hewan sudah mereka anggap sebagai kawan, dan anggota keluarga mereka sendiri. Layaknya manusia, hewanpun memiliki perasaan. Mereka layak atas hidup mereka dan mendapatkan kasih sayang dari sesama makhluk Tuhan yang lainnya. Kita sebagai manusia yang katanya makhluk 'sempurna' karena bekal akal dan perasaan sudah seharusnya bisa berpikir mana yang baik untuk dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 

Salam :)            

Keluarga Hewan #2

sampingrumahku.com - Okey melanjutkan cerita yang kemarin, Tikus adalah kucing pertama yang dirawat di keluarga kami. Ohya, rumah kami terbilang terpisah dari pemukiman warga alias tidak banyak tetangga. Jadi datangnya Tikus menjadi ikut meramaikan suasana di rumah. 

Keluarga Hewan
Tikus terkadang memakan rumput dan biasanya akan muntah, namun suatu saat dia muntah kuning dan ketika muntah suranya pun begitu parau. Sedih. Sekujur badannya lemas karena kekurangan cairan. Saya mencoba memberinya air hangat yang dicampur madu menurut saran dokter hewan terdekat. Sampai akhirnya saya bawa ke dokter hewan pada suatu pagi. Kemudian sorenya pihak dokter menghubungi kalau Tikus sudah bisa dibawa pulang, sayangnya gak bisa rawat inap. Tikus diberi cairan tepat di tengkuknya sebagai pengganti cairan yang sudah banyak keluar. Sore itu agak gerimis, saya dan sepupu saya naik sepeda motor sambil membawa Tikus di keranjang. Sesampainya di rumah, Tikus begitu lemas saya pun panik dan ini baru pertama kalinya merasa takut kalau-kalau Tikus tidak ada. 

Dia lemas dan masih mengeong seperti biasa, ternyata dia mencret juga. Dalam keadaan lemas, ia memaksakan jalan sambil sempoyongan. Aku hanya bisa menguntitnya dibelakang sambil menahan sedih. Astaga ini hewan pertama yang begitu deakt denganku. Ia memaksa keluar rumah dan mencoba mendatangi tempat dia biasa bersantai ketika siang hari. Karena agak gerimis aku membopongnya kembali ke rumah. Sempat diam beberapa menit di samping Tikus, aku menangis sedih sambil mencoba memberikan madu hangat. Sehabis maghrib saya bergegas ke petshop membeli pakan basah, sampai rumah Tikus masih tidur lemas. Ternyata sewaktu aku pergi ke petshop, Tikus kabur ke tempat yang sama, yaitu tempatnya  bersantai. Ibu kebingungan mencarinya, namun perkiraan ibu benar, kalau Tikus kembali ke tempatnya bersantai. 

Pelan-pelan ku usap tubuh ringkih Tikus, ia mengeong lemas. Namun ada yang berbeda dari suaranya, tambah parau. Mungkin jika Tikus bisa berbicara, dia akan mengatakan sesuatu. Semalam itu tidurku tak nyenyak sama sekali. Tepat pukul 03.00 ibu terbangun dan mengetuk pintu kamarku. Duduk dan berkata lirih, "Dia sudah gak ada". Tikus meniggal. Bingung seketika menyergap dan diam. Bangun, lalu menangis diriku mendapati tubuh Tikus dingin dan kaku di pojokan kursi ruang tengah. Pagi itu terasa berat bagiku, harus kehilangan kawan baru di rumah kami. Tikus di kucing. Sehabis sholat subuh dibantu bapak, aku menguburkan Tikus di belakang rumah.

Terimakasih sudah mampir di rumah kami

-

Perihal lorong-lorong hidup telah Dia bangun masing-masing untuk kita. Kau menelusuri gelap menuju cahaya
-

Sampai jumpa si Kucing kuberi nama Tikus Maghrib, jangan lupakan bau kami, bau dapur ibuk, bau sepeda motorku, hehehe. Dirimu telah kembali pada-Nya, Tuanmu sesungguhnya.

Wonosobo, 25 Desember 2018


 Keluarga Hewan

Terimakasih Allah sudah mengirimkan Tikus si Kucing mampir di rumah kami. Kawan yang mengajari kejujuran dan ketulusan. Bagi sebagian orang, hewan bukan sekedar hewan. Tapi hewan sudah mereka anggap sebagai kawan, dan anggota keluarga mereka sendiri. Layaknya manusia, hewanpun memiliki perasaan. Mereka layak atas hidup mereka dan mendapatkan kasih sayang dari sesama makhluk Tuhan yang lainnya. Kita sebagai manusia yang katanya makhluk 'sempurna' karena bekal akal dan perasaan sudah seharusnya bisa berpikir mana yang baik untuk dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 

Salam :)            

No comments