Mengulur Tabah Pada Jarak

Bukan dunia baru bagiku. Sebab bapak sudah masuk di dalam lingkungan tersebut lebih dari sepuluh tahunan, sejak aku berumur lima tahun. Selepas bapak dan ibu menikah dan bertemu di Ambon. Maka dari itu terminal tidak lagi asing bagiku. Dulu aku sering merengek ikut bapak bekerja. Namun semakin kemari aku sama sekali tidak merengek meminta ikut. Sampai sekarang aku tak merencanakannya, bahwa aku akan meneruskan jejak bapak (orang terminal kata ibuku). 

Ternyata banyak cerita yang sama sekali tak terpikirkan olehku. Di sini aku menemukan cerita tentang perpisahan yang sebenarnya perpisahan tersebut untuk bertemu lagi. Tiap hari pula aku menyaksikan lalu lalang orang membeli tiket untuk sebuah perjalanan yang mereka anggap bagian dari hidupnya. Perjalanan yang  membuat "hidup" mereka menjadi "hidup". Tempat rantau membuat "hidup" mereka menjadi lebih hidup. Ada yang menuntut ilmu, ada yang mencari nafkah, ada pula yang hanya sekedar bersilaturahmi dengan sanak saudara di tempat rantau. Apapun alasan mereka melakukan perjalanan, selalu ada cerita perpisahan di dalamnya. 

Pernah aku saksikan sebuah adegan dimana seorang ibu mendekap lama seorang anak perempuannya yang hendak ditinggalkannya. "ibu sayang adek, jangan nakal ya sama Mbah", bisiknya. Aku pikir akan lama waktu mereka untuk berpisah, bulan bahkan tahunan. Waktu keberangkatan sudah tiba, selepas mendekap lama perlahan anak perempuan itu dipegang oleh neneknya lalu segera dinaikan di atas sepeda motor tuanya. Tangan si anak menjulur ke arah ibunya, persis adegan dalam sebuah film yang aku saksikan secara langsung. Tak mau lebih tenggelam dalam kesedihan, neneknya segera melajukan sepeda motornya agar cucunya tak lantas menangis kencang. Aku merasakan apa yang anak perempuan itu rasakan. Lain cerita lagi, seorang anak lelakiberumur 16 tahunan yang mencoba tegar ditinggal ayahnya. Pikirku sebagai lelaki, ia mungkin malu jika harus menangis di depan orang banyak. Ternyata anak lelaki itu tinggal di pondok pesantren sekaligus sekolah. Ayahnya datang untuk menjenguk. Anak lelaki itu hanya berdiri dan diam, ayahnya merangkul sambil membisikan sesuatu. Lalu tiba-tiba tangis itu muncul dan ia segera memeluk ayahnya. Aku hanya diam dan hanya bisa melihat mereka sebagai sosok ayah dan seorang anak lelaki yang mencoba tegar dalam urusan perasaan.

Dalam hal ini bagiku perpisahan adalah perjalanan tabah yang panjang.  

No comments