Sebuah kolase dari akun instagram @dindingberbisik


Tulisan kali ini merupakan opini saya pribadi tentang persoalan yang terjadi belakangan ini. Benci. Ya benar, belakangan kata "benci" begitu akrab di telinga. Sebab ia berhasil membuat semua orang memanggil dan mengucapkan si benci ini. Di berbagai media si benci mendapatkan ruang untuk memperkenalkan diri. Pun mungkin di tulisan yang saya tulis kali ini. 

Mungkin si benci sebenarnya sudah lama lahir dan berdiam di goa dalam hati tiap manusia, menunggu waktu yang tepat untuk ia keluar dan menunjukan dirinya. Saya juga berpikir mungkin umurnya sudah beribu-ribu tahun saling kawin lalu melahirkan kebencian-kebencian berikutnya. Dalam konteks kekinian, si Benci berhasil keluar dari goa masing-masing manusia yang ia diami. Ia membabi buta membenci sesama makhluk. Membredel isi hati, menguras pikiran, membunuh nurani. Ia mampu menjelma narasi-narasi yang keluar dari mulut dan jari manusia dan menguasai ladang keimanan seseorang yang lama tak ia tanamani dan semai benih cinta. Cinta dalam konteks ini bukan persoalan picisan seorang laki-laki yang mencintai perempuan, tapi lebih kepada konteks cinta yang umum, yaitu kepada sesama makhluk. 

Si benci lahir dari perasaan ketidaksukaan, perasaan emosi. Kelahiran si benci  membuat orang ingin menghindari bahkan melenyapkan hal yang dibenci. Ini fakta. Sebagai contoh si A tidak suka dengan si B karena urusan pelit dalam urusan berbagi rokok, maka si A memilih menghindari si B. Contoh lain yang lebih jauh adalah adanya perbedaan cara berpikir si A dan si B. Perbedaan ini dapat membuat si A menjadi benci kepada si B, pun sebaliknya.  Saya takut jika nantinya kebencian menjadi sebuah trand yang diminati. Saya meminjam penggalan lirik dari band FSTVLST yang berjudul "Hal-hal Ini Terjadi". Berikut penggalan liriknya;

.......
Di masa kau terlahir, 
orang-orang bersepakat bahwa ajaran terpopuler adalah ajaran membenci.
Ajaran ternorak adalah mencintai.
Batu, parang dan peluru adalah jajanan laris manis.
Cium dan peluk adalah jualan yang tak pernah laku lagi.
Semakin kau membenci, semakin kau di akui.
Semakin kau mencintai, semakin kau dijauhi.
Kau terlahir, di masa maha, benci.
.......
(Fstvlst - Hal-hal Ini Terjadi)


Dari penggalan lirik itu saya berpikir keras betapa itu terjadi belakangan ini secara massif dan terstruktur. Orang-orang mungkin akan malu ketika ia harus mencintai, kemudian lebih memilih untuk membenci agar mendapat pengakuan dari manusia lainnya. Saya pikir musisi menulis sebuah lirik pada lagunya pasti berdasarkan hal-hal yang didapatkannya dalam sehari-hari, termasuk lagu tersebut di atas. Menurut saya, kebencian adalah sumber malapetaka bagi keberlangsungan pola hidup bermasyarakat.

Ada baiknya kita instropeksi. Apakah kita benar-benar baik atau hanya merasa lebih baik lalu menganggap  yang lain tak pantas untuk mendapatkan cinta. Padahal kita bukanlah siapa-siapa dan tak pantas kita jumawa atas kebencian yang lahir dari rahim ketidaksukaan, dan emosi pada diri kita.

~sekian

Kelahiran si Benci


Sebuah kolase dari akun instagram @dindingberbisik


Tulisan kali ini merupakan opini saya pribadi tentang persoalan yang terjadi belakangan ini. Benci. Ya benar, belakangan kata "benci" begitu akrab di telinga. Sebab ia berhasil membuat semua orang memanggil dan mengucapkan si benci ini. Di berbagai media si benci mendapatkan ruang untuk memperkenalkan diri. Pun mungkin di tulisan yang saya tulis kali ini. 

Mungkin si benci sebenarnya sudah lama lahir dan berdiam di goa dalam hati tiap manusia, menunggu waktu yang tepat untuk ia keluar dan menunjukan dirinya. Saya juga berpikir mungkin umurnya sudah beribu-ribu tahun saling kawin lalu melahirkan kebencian-kebencian berikutnya. Dalam konteks kekinian, si Benci berhasil keluar dari goa masing-masing manusia yang ia diami. Ia membabi buta membenci sesama makhluk. Membredel isi hati, menguras pikiran, membunuh nurani. Ia mampu menjelma narasi-narasi yang keluar dari mulut dan jari manusia dan menguasai ladang keimanan seseorang yang lama tak ia tanamani dan semai benih cinta. Cinta dalam konteks ini bukan persoalan picisan seorang laki-laki yang mencintai perempuan, tapi lebih kepada konteks cinta yang umum, yaitu kepada sesama makhluk. 

Si benci lahir dari perasaan ketidaksukaan, perasaan emosi. Kelahiran si benci  membuat orang ingin menghindari bahkan melenyapkan hal yang dibenci. Ini fakta. Sebagai contoh si A tidak suka dengan si B karena urusan pelit dalam urusan berbagi rokok, maka si A memilih menghindari si B. Contoh lain yang lebih jauh adalah adanya perbedaan cara berpikir si A dan si B. Perbedaan ini dapat membuat si A menjadi benci kepada si B, pun sebaliknya.  Saya takut jika nantinya kebencian menjadi sebuah trand yang diminati. Saya meminjam penggalan lirik dari band FSTVLST yang berjudul "Hal-hal Ini Terjadi". Berikut penggalan liriknya;

.......
Di masa kau terlahir, 
orang-orang bersepakat bahwa ajaran terpopuler adalah ajaran membenci.
Ajaran ternorak adalah mencintai.
Batu, parang dan peluru adalah jajanan laris manis.
Cium dan peluk adalah jualan yang tak pernah laku lagi.
Semakin kau membenci, semakin kau di akui.
Semakin kau mencintai, semakin kau dijauhi.
Kau terlahir, di masa maha, benci.
.......
(Fstvlst - Hal-hal Ini Terjadi)


Dari penggalan lirik itu saya berpikir keras betapa itu terjadi belakangan ini secara massif dan terstruktur. Orang-orang mungkin akan malu ketika ia harus mencintai, kemudian lebih memilih untuk membenci agar mendapat pengakuan dari manusia lainnya. Saya pikir musisi menulis sebuah lirik pada lagunya pasti berdasarkan hal-hal yang didapatkannya dalam sehari-hari, termasuk lagu tersebut di atas. Menurut saya, kebencian adalah sumber malapetaka bagi keberlangsungan pola hidup bermasyarakat.

Ada baiknya kita instropeksi. Apakah kita benar-benar baik atau hanya merasa lebih baik lalu menganggap  yang lain tak pantas untuk mendapatkan cinta. Padahal kita bukanlah siapa-siapa dan tak pantas kita jumawa atas kebencian yang lahir dari rahim ketidaksukaan, dan emosi pada diri kita.

~sekian

No comments